Pengusaha Sawit tak Rasakan Windfall Ekspor dari Pelemahan Rupiah

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Pengusaha Sawit tak Rasakan Windfall Ekspor dari Pelemahan Rupiah Petani melakukan bongkar muat hasil panen buah kelapa sawit di Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Kamis (29/4/2026).(MI/Ramdani)

TEORI nan menyebut pelemahan rupiah menguntungkan eksportir dan memberikan lonjakan untung (windfall) tidak selalu dirasakan pengusaha. Contohnya nan terjadi di industri kelapa sawit saat ini.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengungkapkan, di industri sawit, walaupun nilai naik tetapi biaya juga naik.

"Contoh untuk biaya pikulan dan asuransi naik sampai 50% akibat perang. Di dalam negeri biaya produksi juga naik, seperti nilai solar industri naik 100%, nilai pupuk naik sampai 30%," ujar Eddy saat dihubungi, Selasa (2/6).

"Jadi sama saja (saat rupiah melemah) lantaran beberapa komponen tetap impor seperti pupuk, angkutan, dan asuransi ekspor juga dalam USD," jelasnya.

Sementara itu, surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 tercatat sebagai nan terendah dalam 72 bulan terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, surplus perdagangan peralatan pada periode tersebut hanya sebesar US$89,1 juta alias sekitar Rp1,59 triliun (kurs Rp17.860 per dolar AS), jauh lebih rendah dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

“Jadi surplus April 2026 ini merupakan surplus terkecil sejak Mei 2020 alias selama surplus 72 bulan berturut-turut,” ujar Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini dalam rilis daring, Selasa (2/6).

Surplus April tersebut juga turun tajam dibandingkan Maret 2026 nan mencapai US$3,32 miliar alias sekitar Rp59,30 triliun, serta lebih rendah dibandingkan April 2025 nan sebesar US$160 juta alias sekitar Rp2,86 triliun. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia