Pengumuman! Harga Minuman Kemasan di RI Bakal Naik Efek Dolar Ngamuk

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Hal ini memberikan akibat signifikan terhadap industri minuman siap saji di Indonesia.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Minuman Indonesia (ASRIM), Tri Junanto Wicaksono menjelaskan, pelemahan rupiah di level tersebut secara langsung bakal meningkatkan biaya produksi. Pasalnya, industri ini tetap mempunyai ketergantungan terhadap bahan baku dan bungkusan impor.

"Sehingga bahan baku kita juga bakal naik, biaya produksi COGM (cost of good manufactured) kita juga pasti bakal naik gitu. Jadi pasti mempengaruhi dengan biaya operasional perusahaan juga," ujar dia di sela aktivitas konvensi pers Masa Depan Industri Minuman Kemasan Indonesia 2026 : Inovasi, Pertumbuhan dan Inovasi di Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Melihat kondisi tersebut, para pelaku upaya minuman siap saji nasional berupaya mengurangi ketergantungan pada impor dengan memanfaatkan sumber lokal. Akan tetapi, pada faktanya bahan baku nan berasal dari dalam negeri tetap belum bisa memenuhi kebutuhan industri secara keseluruhan. Mengingat, terdapat standarisasi tertentu nan perlu dipenuhi oleh pelaku usaha.

Seorang visitor berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Selasa (10/9/2024). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)Seorang visitor berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Selasa (10/9/2024). (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Seorang visitor berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Selasa (10/9/2024). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Pria nan juga menjabat sebagai Director of Corporate Affairs & Legal at PT Amerta Indah Otsuka tersebut menjelaskan, saat ini para pelaku upaya terus melakukan efisiensi terhadap biaya produksi sembari mengembangkan sumber lokal nan sesuai dengan standar perusahaan.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM), Triyono Prijosoesilo mengatakan, kondisi kurs rupiah saat ini memang tergolong unik. Dengan kata lain, ada penurunan nan kurang lebih sekitar 90% dari awal tahun.

"Tentunya kembali ini sesuatu ranah pemerintah adalah gimana pemerintah bisa menjaga, jangan sampai kurs ini menjadi penurunan terlalu dalam. Karena itu bakal berpengaruh kepada bahan baku," jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, ada potensi nilai produk minuman di tingkat ritel bakal naik. Sebab, bahan baku industri minuman terutama non AMDK (Air Minum Dalam Kemasan) tetap impor. Sebut saja gula rafinasi, garam, peningkat rasa, hingga lainnya.

"Mau gak mau pasti ada lantaran sekarang aja dari sisi selisih kursusnya ada kurang lebih sekitar 90%-an kan dalam konteks sekarang Dengan dibanding awal tahun," sebutnya.

(wur/wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News