Pengguna Google Gemini Bisa Hapus Watermark di Gambar dan Video AI

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi Google Gemini AI. Foto: Poetra.RH/Shutterstock

Google bakal memberikan pilihan kepada pengguna untuk menghapus watermark nan terlihat pada konten buatan kepintaran buatan (AI). Kebijakan ini mencakup gambar, video, dan musik nan dihasilkan melalui sejumlah model AI milik perusahaan.

VP Gemini Google, Josh Woodward, mengatakan opsi tersebut bakal tersedia untuk model Nano Banana, Omni, dan Lyria. Pengguna dapat menonaktifkan watermark melalui Gemini dan penyunting video AI Google, Flow. Dukungan serupa untuk Search bakal menyusul.

Fitur ini bakal dirilis secara berjenjang dalam beberapa hari mendatang. Setelah tersedia, pengguna dapat membuka menu Settings, memilih Media Watermark, lampau mengaktifkan alias menonaktifkan tanda nan terlihat pada konten.

Meski watermark visual dapat dihapus, Google tetap mempertahankan sistem penanda digital SynthID dan metadata nan mengikuti standar C2PA. Keduanya bekerja tanpa menampilkan tanda mencolok pada konten.

Ilustrasi chatbot AI Google Gemini. Foto: Shutterstock

SynthID menyisipkan penanda digital nan tidak terlihat ke dalam konten buatan AI. Sementara itu, metadata C2PA menyimpan info mengenai asal dan proses pembuatan media.

Dengan sistem tersebut, pengguna tetap dapat memeriksa melalui Gemini alias Google Search untuk mengetahui apakah sebuah gambar dibuat menggunakan artifical intelligence.

"Kami berupaya menyeimbangkan kontrol imajinatif dan keamanan. Meski watermark nan terlihat sekarang berkarakter opsional, watermark SynthID nan tidak terlihat dan metadata C2PA tetap digunakan untuk transparansi," kata Woodward, mengutip TechCrunch.

X post embed

Menurut Google, watermark visual dapat mengurangi kegunaan konten AI untuk kebutuhan ahli dan kreatif. Namun, perusahaan tetap menilai identifikasi media buatan AI sebagai perihal penting.

Perubahan ini menunjukkan pergeseran pendekatan perusahaan teknologi dalam memberikan label pada konten AI. Google sekarang memberi kebebasan lebih besar kepada pembuat untuk menentukan tampilan hasil karya, sembari mempertahankan penanda digital nan dapat digunakan untuk memeriksa asal konten.

Google juga membuka kode sumber Credentio, sebuah pustaka perangkat lunak baru nan memungkinkan developer menambahkan sistem pengesahan lokal ke dalam aplikasi mereka.

Kebijakan Google muncul setelah keputusan Anthropic memicu perdebatan. Anthropic sebelumnya memasukkan watermark ke dalam teks dan berkas nan dihasilkan Claude sebagai bagian dari upaya mematuhi izin Uni Eropa.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan