Emiten properti menggeser strategi ke optimasi aset setelah mencetak rekor pendapatan.(Dok. MI)
PT Paradise Property Tbk (INPP) mulai mengubah arah pertumbuhan bisnisnya. Setelah mencetak pendapatan tertinggi sepanjang sejarah perseroan sebesar Rp1,1 triliun pada tahun kitab 2023, emiten properti style hidup ini sekarang memilih konsentrasi mengoptimalkan aset nan sudah dimiliki daripada garang membangun proyek baru.
Perubahan strategi tersebut menjadi sinyal krusial di tengah industri properti nan tetap menghadapi tantangan biaya konstruksi, daya beli, dan kebutuhan efisiensi modal. INPP menilai, memperkuat aset eksisting dapat memberikan imbal hasil lebih sigap dengan akibat nan lebih terukur.
Presiden Komisaris Paradise Indonesia, Anthony Prabowo Susilo, mengatakan, perusahaan memasuki fase baru setelah sebelumnya banyak membangun aset strategis di sejumlah kota besar.
“Ada kalanya kita membangun aset, namun sekarang adalah waktunya mengoptimalkan aset tersebut. Kami mengalokasikan capex sebesar Rp200 miliar sampai Rp300 miliar unik untuk pembaharuan dan peningkatan kualitas aset nan sudah ada,” ujar Anthony dalam Paparan Publik tahunan di Jakarta Selatan, Kamis (18/6).
Menurut Anthony, biaya shopping modal itu bakal diarahkan antara lain untuk pembaharuan hotel di Batam dan penambahan bilik di Harris FX Sudirman. Strategi tersebut dinilai lebih efisien lantaran mempunyai masa pengembalian modal atau payback period di bawah lima tahun, lebih sigap dibandingkan pembangunan proyek baru dari awal.
Pendapatan Tertinggi Ditopang Recurring Revenue
Wakil Presiden Direktur Paradise Indonesia, Surina, menjelaskan, pendapatan perseroan pada 2023 naik 33% secara tahunan menjadi Rp1,1 triliun. Kinerja tersebut terutama didorong oleh proses serah terima unit proyek Antasari Place serta kontribusi kuat dari upaya pendapatan berulang atau recurring revenue.
“Saat ini, 90% pendapatan kami adalah recurring revenue yang berasal dari sektor hospitality dan upaya komersial. Pada kuartal pertama 2024 saja, kami sudah mencatatkan kenaikan pendapatan 14% dibandingkan periode nan sama tahun lalu,” kata Surina.
Porsi recurring revenue yang dominan menunjukkan INPP tidak lagi hanya berjuntai pada penjualan proyek properti, tetapi semakin bertumpu pada aset nan menghasilkan pendapatan rutin seperti hotel, pusat komersial, dan upaya hospitality.
Model upaya ini menjadi krusial lantaran dapat memberikan arus kas nan lebih stabil, terutama ketika pasar properti menghadapi siklus permintaan nan fluktuatif.
23Semarang Jadi Etalase ESG dan Desain Baru
Selain optimasi aset, INPP juga menempatkan prinsip keberlanjutan sebagai bagian dari pengembangan proyek. Salah satu proyek nan menjadi sorotan adalah 23Semarang, pusat komersial nan diklaim mengusung kreasi arsitektur melingkar atau circular design pertama di Jawa Tengah.
Anthony mengatakan, kreasi tersebut dibuat untuk meningkatkan pengalaman visitor agar lebih mudah berorientasi di dalam mal. INPP menargetkan pusat komersial ini bukan hanya menjadi tempat belanja, tetapi destinasi nan bisa menarik kunjungan berulang.
“Kami mau menciptakan mal nan membikin orang mau kembali lima sampai sepuluh kali dalam setahun. Desain 23Semarang memastikan visitor tidak merasa lenyap di dalam koridor, namun tetap merasakan ruang nan luas dan efisien,” ujar Anthony.
Dari sisi ESG, 23Semarang juga bakal dilengkapi area hijau di dalam mal serta panel surya berkapasitas 1,8 megawatt. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perseroan menekan akibat lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi daya dalam pengelolaan aset komersial.
Buka Peluang Dividen Interim
Kinerja finansial nan membaik juga membuka kesempatan bagi INPP untuk membagikan dividen interim pada 2024. Manajemen menyebut opsi tersebut sedang dipertimbangkan sebagai corak apresiasi kepada pemegang saham.
Sinyal pembagian dividen muncul seiring posisi finansial perseroan nan relatif sehat. INPP mencatat rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio sebesar 0,3 kali. Hingga kuartal pertama 2024, total ekuitas perseroan mencapai nyaris Rp6,8 triliun.
Saat ini, Paradise Indonesia mengoperasikan 27 unit upaya nan tersebar di delapan kota besar di Indonesia. Dengan kombinasi pendapatan berulang, optimasi aset, dan penguatan aspek ESG, perseroan berupaya menjaga pertumbuhan tanpa terlalu berjuntai pada ekspansi proyek baru.
Strategi ini menandai pergeseran krusial bagi INPP, dari fase membangun portofolio aset menuju fase memaksimalkan nilai dan produktivitas aset nan sudah ada. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·