Pengasuh Ponpes Pati Lecehkan Santriwati: Ngaku Keturunan Nabi-Tilap Duit

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Perwakilan massa saat melakukan orasi dalam demonstrasi di depan Ponpes Ndolo Kusumo, Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Sabtu (2/5/2026). Foto: kumparan

Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Ndholo Kusumo di Pati, Jawa Tengah, Asyhari, ditetapkan sebagai tersangka pelecehan seksual terhadap santriwatinya. Jumlah korban diperkirakan mencapai 50 orang.

Seorang santri laki-laki Ponpes Ndholo Kusumo membeberkan tabiat tersangka. Santri berjulukan Sofi itu mengungkapkan masa-masa di ponpes selama satu dasawarsa nan menurutnya penuh tekanan hingga kerugian materiil nan mencapai belasan juta rupiah.

Dalam kurun waktu 2008–2018 itu, selain menjadi santri, dia juga ikut bekerja kepada A tetapi tak pernah digaji.

"Sejak 2008 itu sambatan (kerja bakti), siang malam enggak dibayar sampai 2018. Kalau punya uang, malah saya setorkan sama dia,” kata Sofi dalam orasinya ketika unjuk rasa massa menggeruduk ponpes Ndholo Kusumo, Pati, Sabtu (2/5).

Tak hanya itu, Sofi juga diminta mendusta kepada orang tuanya bahwa dia mondok di Kabupaten Jepara. Semua duit saku dari orang tuanya juga diminta oleh pelaku.

“Tahun 2008 saya disuruh mengaku sama orang tua jika saya mondok di Ponpes Jepara, biar duit dari orang tua saya masuk ke sini," jelasnya.

Ngaku Wali Allah Keturunan Nabi

Alasan Sofi sangat alim lantaran Asyhari mengaku sebagai Wali Allah. Keyakinan itu semakin kuat setelah Sofi memandang adanya beberapa keistimewaan dalam diri Asyhari. Ia mencontohkan, Asyhari tahu ketika mbahnya bakal meninggal dunia, hingga adiknya bakal melahirkan.

“Saya anggap dia itu walinya Allah, dia tahu semuanya. Mbah saya bakal meninggal bumi dia tahu. Adik saya mau melahirkan jam 11 malam, disuruh telepon, adik saya itu mau lahiran laki-laki kelak kasih nama ini, itu terjadi,” terang dia.

Suasana Pondok Pesantren (Ponpes) Ndholo Kusumo di Pati, Jawa Tengah, sepi, Selasa (5/5/2026). Foto: kumparan

Dia mengatakan, banyak santriwati nan menerima pelecehan lantaran Asyhari mendoktrin para santriwati bahwa dia keturunan Nabi Muhammad. Akibatnya, korban tidak berani melawan.

"Doktrinnya bumi seisinya dari Nur (cahaya) Kanjeng Nabi, tapi terus ditambah orangnya sendiri, bumi seisinya legal untuk Kanjeng Nabi dan keturunan Kanjeng Nabi. Jadi misalnya istriku dikawin dia, ya halal. Itu doktrinnya,” lanjut dia.

Selama di ponpes tersebut, Sofi juga sering memandang perilaku Asyhari nan sering mencium pipi, dahi, hingga bibir santriwati sebagai sesuatu nan “biasa” terjadi. Hal tersebut juga dialami istrinya.

“Banyak nyaris semuanya. Istri saya juga begitu jika salaman, dicium pipi kanan kiri, bibir, dahi,” katanya.

Titik kembali dia sadar dengan doktrin Asyhari terjadi pada 2018. Saat itu, dia langsung memutuskan untuk keluar dari ponpes tersebut. Ketika itu, sertifikat tanahnya diminta pelaku untuk utang, namun rupanya tidak dibayar.

“Saya mulai sadar setelah keluar dari tahun 2018, sertifikat rumah saya diambilkan utang tapi tidak dibayar. Saya bingung lantaran saya tidak kerja, bayarnya gimana. Ada nan menasihati, masa kok hidup budak terus, nggak mikir masa depan,” jelasnya.

Asyhari belum berkomentar mengenai tudingan-tudingan tersebut.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan