Kegiatan kunjungan pabrik Reporter Cilik Media Indonesia ke PT Dirgantara Indonesia, Bandung, pada Senin (24/8).(MI/Permana)
Awalnya, ketika saya sedang enak-enak bermain game, ibu tiba-tiba bilang, “Dek, mau ikut aktivitas Reporter Cilik, nggak?” Aku menjawab, “Boleh aja, sih.”
Akhirnya ibu mendaftarkan aku. Ternyata pada hari Kamis, 20 Agustus, saya diumumkan terpilih menjadi peserta Reporter Cilik. Aku senang sekali lantaran saya sangat suka memandang pesawat dan pastinya bakal mendapatkan pengalaman baru sebagai seorang reporter cilik.
Hari kunjungan pun tiba. Aku pergi ke PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan berkumpul di Auditorium B.J. Habibie. Setelah sampai, saya melakukan registrasi ulang. Aku kemudian mendapatkan rompi, topi, dan nametag. Rasanya seperti betul-betul menjadi reporter!
Aku masuk ke golongan 1 dan ditemani oleh Kak Arya, Kak Fhey, dan Kak Sasa. Mereka ramah dan seru sehingga saya tidak merasa malu walaupun baru pertama kali bertemu. Setelah itu, kami naik Bandros.
Aku duduk berbareng temanku, Sean. Bandros kemudian melangkah membawa kami menuju tempat kunjungan berikutnya.Tempat pertama nan kami kunjungi adalah sebuah ruangan berjulukan Gedung Mock Up. Di sana saya memandang beragam miniatur pesawat. Ada CN235, N219, NC212, sampai pesawat tempur (Fighter Jet).
Aku jadi semakin penasaran dengan pesawat-pesawat nan dibuat oleh PTDI. Kami kemudian diarahkan oleh Kak Cepi untuk masuk ke replika pesawat CN235. Aku apalagi mendapat kesempatan untuk duduk di dalam kokpit. Rasanya senang sekali! Setelah itu, kami kembali menaiki Bandros dan menuju hangar PT DI.
Saat perjalanan, saya sempat memandang pesawat A320 melakukan take off. Aku langsung memperhatikannya lantaran jarang sekali bisa memandang pesawat lepas landas dari tempat sedekat itu. Sesampainya di hangar, kami diarahkan oleh Kak Fikri nan menjabat sebagai supervisor.
Di dalam hangar saya memandang beberapa pesawat original seperti CN235, N219, dan NC212. Aku kemudian melakukan wawancara dengan Kak Fikri. Aku bertanya banyak perihal tentang pesawat dan PTDI, lantaran saya mau tahu lebih dalam tentang gimana tempat ini bekerja dan apa saja nan dilakukan di dalamnya.
Setelah semua aktivitas di hangar selesai, kami kembali ke auditorium. Sambil menunggu golongan berikutnya melakukan kunjungan, kami bermain dan berbincang-bincang. Setelah semua golongan selesai, kami makan siang berbareng dengan menu KFC. Selesai beristirahat, aktivitas dilanjutkan dengan sesi berbareng kepala PT DI.
Bapak Dena Hendriana nan menjabat sebagai Direktur Produksi dan Ibu Dhias Widhiyati nan menjabat sebagai Direktur Keuangan datang di tengah-tengah kami. Aku memandang mereka rupanya sangat ramah dan mau menjawab pertanyaan dari para peserta Reporter Cilik.
Pada sesi tersebut, salah satu temanku bertanya kepada Pak Dena tentang pesawat favoritnya. Pak Dena menjawab bahwa pesawat favoritnya adalah N219. Aku juga mendapat info baru dari Ibu Dhias ketika ada nan bertanya mengenai biaya pembuatan pesawat. Beliau menjelaskan bahwa untuk membikin pesawat CN235 memerlukan biaya sekitar 40 juta USD, sedangkan N219 sekitar 9 juta USD.
Dari kunjungan ini, saya jadi tahu bahwa membikin pesawat bukanlah sesuatu nan mudah. Kunjungan ke PTDI menjadi pengalaman nan sangat berkesan buatku. Aku bisa memandang pesawat dari dekat, masuk ke kokpit CN235, memandang aktivitas di hangar, melakukan wawancara, dan berjumpa langsung dengan para pekerja serta kepala PTDI. Kalau biasanya saya hanya memandang pesawat terbang dari samping landasan, hari ini saya bisa memandang pesawat jauh lebih dekat.Hari itu akhirnya selesai.
Salah satu pesan nan disampaikan oleh Ibu Dhias dan sangat memotivasiku adalah, "Jangan pernah takut mempunyai mimpi nan tinggi."
Para peserta Reporter Cilik pun pulang ke rumah masing-masing. Aku pulang dengan membawa pengalaman baru dan tentu saja banyak cerita seru untuk dibagikan kepada family dan teman-teman. Menurutku, menjadi Reporter Cilik rupanya seru banget lantaran saya bisa belajar sembari memandang semuanya secara langsung. Kalau kelak ada kesempatan lagi, saya pasti mau kembali! (X-6)

English (US) ·
Indonesian (ID) ·