Persalinan menjadi salah satu momen berbobot nan nggak bakal pernah terlupakan dalam hidup seorang ibu. Di satu sisi, ada kekhawatiran nan bikin hati jadi nggak tenang. Di sisi lain, kebahagiaan tak terbentung lantaran bakal segera berjumpa si kecil.
Yang biasanya dikhawatirkan adalah gambaran rasa sakit saat melahirkan, pengalaman persalinan sebelumnya nan mungkin nggak mudah, sampai soal kondisi bayi. Semua itu bisa jadi beban emosional tersendiri bagi seorang ibu.
Pada akhirnya, semua kekhawatiran itu seketika langsung lenyap saat pertama kali mendengar tangisan bayi dan memandang wajah mungilnya. Di momen itu, semua perjuangan terasa sepadan dengan kebahagiaan nan akhirnya dirasakan.
Nah, pengalaman seperti ini nan dirasakan oleh sejumlah kawan kumparanMOM. Penasaran seperti apa kisah perjuangan mereka saat melalui proses persalinan? Yuk, simak cerita selengkapnya di bawah ini!
Pengalaman melahirkan pertama datang dari kawan kumparanMOM, Tri Fani (34). Dengan tinggi tubuhnya nan hanya 143 cm, dia kudu melahirkan anak ketiganya nan mempunyai panjang 52 cm. Kondisi ini tentu jadi tantangan tersendiri dalam proses persalinan.
“Waktu itu kepala bayi menyundul bagian vulva cukup keras sampai akhirnya terjadi hematoma vulva,” ceritanya. Mengutip Cleveland Clinic, hematoma memek adalah kumpulan darah di bawah kulit vulva akibat cedera saat persalinan.
Mom Fani mengaku momen tersebut terasa sangat mengerikan. Dalam hitungan detik, vulvanya membengkak besar seperti balon hingga akhirnya pecah.
Akibatnya, darah mengalir deras dan membikin tubuhnya semakin lemas. Ia apalagi sempat merasa mengantuk hebat, sebuah pertanda bahwa tubuh nyaris kehilangan kesadaran.
Melihat kondisinya nan semakin memburuk, Mom Fani akhirnya segera dirujuk ke rumah sakit nan lebih besar. Setibanya di sana, dia kudu menjalani operasi besar untuk memperbaiki jalan lahirnya.
Dari pengalamannya ini, Fani jadi lebih aware soal kondisi kehamilan. Ia menyadari pentingnya memperhatikan ukuran janin dan kondisi tubuh ibu untuk menentukan metode persalinan nan tepat, apakah bisa normal alias perlu operasi caesar.
Cerita berikutnya datang dari Mom Santi Hasan (34). Ia sudah dua kali melahirkan secara pervaginam, dan keduanya jadi pengalaman nan nggak bisa dilupakan.
Saat melahirkan anak pertama, dia kudu merasakan flek slime sejak malam hari. Rasa mulas nan datang kudu dia tahan selama kurang lebih 18 jam, sampai akhirnya proses persalinan selesai.
Perjuangannya rupanya belum berakhir sampai di situ. Seminggu setelah pulang ke rumah, dia kudu kembali ke rumah sakit lantaran bayinya mengalami bilirubin tinggi.
Di saat nan sama, ASI-nya juga belum lancar sehingga belum bisa mencukupi kebutuhan si kecil. Kondisi ini sempat membuatnya khawatir. Meski begitu, Mom Santi mengaku nggak trauma, . Kehadiran sang buah hati membikin semua rasa sakit jadi terbayar.
Terakhir, ada Mom Lia Dwi Seftarini (38) nan juga punya kisah persalinan penuh tantangan. Dari empat kali kehamilan, dia pernah mengalami dua kali keguguran nan tentunya meninggalkan luka tersendiri.
Pengalaman paling membekas terjadi saat melahirkan anak pertama. Setelah menjalani induksi selama 10 jam, bukaan tak kunjung berkembang sehingga master akhirnya memutuskan untuk melakukan operasi caesar.
Syukurnya, tim medis nan menanganinya sangat sigap dan suportif. Mereka membantu Lia lebih rileks dengan memutar musik serta memberikan anestesi hingga rasa kontraksi nggak lagi terasa. Begitu bayi sukses lahir, rasa lega menyelimuti dirinya.
Mom Lia pun bangga lantaran bisa melewati semua proses tersebut dengan penuh keteguhan. “Ternyata kita kuat ya, Moms. Peluk jauh buat semua mommy hebat,” ucapnya hangat.
Temukan beragam inspirasi parenting dari ribuan ibu di seluruh Indonesia, gabung organisasi kawan kumparanMOM di kum.pr/mom4
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·