Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Anwar Abbas menyoroti lelucon nan dilontarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump soal ketenaran nama 'Mohammad' saat mengejek Kepresidenan Iran. Anwar mengaku tak terima dengan lelucon Trump tersebut.
"Jadi bagi Donald Trump, Islam dan Mohammad sama-sama menjadi bahan ejekan. Hal ini tentu jelas tidak bisa diterima oleh umat Islam lantaran perihal demikian jelas-jelas merupakan sesuatu nan menyakitkan," ujar Anwar kepada wartawan, Senin (18/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anwar menilai lelucon dari Trump tersebut berkarakter merendahkan. "Tujuannya tentu adalah untuk mendapatkan simpati dari rakyat dan mitranya nan kebanyakan berakidah Kristen, Katolik, dan Yahudi. Kita tahu Donald Trump sering sekali menjadikan Islam sebagai musuh bersama," sambungnya.
Anwar menduga Trump membawa-bawa lelucon tersebut untuk memobilisasi massa dan mengingatkan rakyatnya bakal ancaman serta ancaman dari Islam. Menurut Anwar, kebencian Trump terhadap Islam sudah mendarah daging.
"Jadi bagi Donald Trump, kebenciannya terhadap Islam, Nabi Muhammad, dan umatnya sudah merupakan sesuatu nan mendarah daging dalam dirinya sehingga sudah sangat susah untuk dihilangkan," imbuh Anwar.
"Mungkin bagi Donald Trump, hanya kematian sebagai satu-satunya perihal nan bakal bisa menghentikan sikap dan tindakan tidak terpujinya tersebut," lanjutnya.
Trump Bercanda soal 'Mohammad'
Sebelumnya, Donald Trump melontarkan lelucon soal ketenaran nama 'Mohammad' saat mengejek Kepresidenan Iran. Hal itu dia sampaikan dalam pidato di hadapan para pendukung pada kampanye pemilu sela.
"Kalian tahu, jika ragu tentang nama seseorang dari Timur Tengah, panggil saja 'Mohammad,'" kata Trump, dilansir Reuters, Sabtu (17/10/2026).
"Peluangnya betul sekitar 65 persen. 'Halo, Mohammad.' Saya sudah melakukannya bertahun-tahun. Tidak pernah salah," imbuhnya.
(isa/gbr)
52 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·