
Pendidikan di Antara Keinginan Pasar dan Janji Kesejahteraan (Dok Pribadi)
Agus Taufiq, politikus muda dan inisiator @KebijakanKita
PENDIDIKAN yang sejatinya menjadi ruang pembebasan untuk membentuk peradaban, sekarang mengalami krisis eksistensial. Alih-alih menjadi ruang pembebasan, lembaga pendidikan lambat laun berubah menjadi "ruang" komersial, pengetahuan pengetahuan dan peserta didik direduksi tak lebih dari sekadar konsumen. Tujuan luhur pendidikan bergeser secara fundamental; nan semula dari kebudayaan akademik nan mengutamakan kedalaman intelektual dan pembangunan karakter, menjadi budaya pragmatis nan semata-mata mengejar keuntungan dan efisiensi korporasi. Lantas apa nan sebenarnya sedang mengganggu tujuan pendidikan kita?
Paradoks Pengangguran Terdidik
Kencangnya arus industrialisasi dunia telah memaksa pendidikan untuk tunduk pada logika pasar. Keberhasilan pendidikan umum sekarang diukur secara sempit dari seberapa sigap lulusannya terserap sebagai tenaga kerja. Pendidikan diartikan menjadi sekadar pabrik pencetak pekerja nan siap pakai. Logika semacam ini justru memicu krisis di lembaga pendidikan, ialah maraknya penutupan program studi nan dinilai minim prospek komersial.
Disiplin pengetahuan esensial nan menjadi pilar logika peradaban, seperti sejarah, sastra, filsafat, dan humaniora, sekarang berada di periode kepunahan lantaran dianggap membebani perguruan tinggi dan hanya menghasilkan pengangguran terdidik semata. Publik seolah didikte untuk menyepakati generasi nan ocehan mengoperasikan mesin dan kepintaran buatan, namun buta terhadap etika, empati, dan akar kemanusiaannya sendiri.
Ironisnya, kepatuhan pada dikte pasar ini justru melahirkan realita nan pahit. Alih-alih mengentaskan kemiskinan, sistem ini justru menciptakan pengangguran terdidik. Dari total jutaan pengangguran di Indonesia, nomor pengangguran dari kalangan sarjana dan diploma menempati proporsi nan mengkhawatirkan, menembus nomor di atas 1 juta jiwa (Badan Pusat Statistik, 2025).
Berbagai kajian dari info ketenagakerjaan menunjukkan lebih dari 30% pekerja muda terdidik di Indonesia terpaksa bekerja di sektor nan sama sekali tidak relevan dengan latar belakang keilmuannya, seringkali dengan bayaran rendah di bawah standar kepantasan (International Labour Organization, 2023). Ketika akses pendidikan berbobot hanya bisa dibeli oleh golongan bermodal, dan lulusannya pun tak mendapat agunan kepantasan hidup, pendidikan kehilangan daya magisnya sebagai perangkat pemberdayaan dan justru menjadi arena alienasi baru.
Mengembalikan Khittah Pendidikan
Menutup mata dari realitas transformasi dunia dan kebutuhan industri tentu merupakan sebuah kenaifan. Kolaborasi antara bumi akademik dan industri adalah keniscayaan strategis. Namun, membiarkan norma permintaan dan penawaran mendikte total arah pendidikan adalah langkah menuju kehancuran sosial. Pendidikan mempunyai tugas nan melampaui untung-rugi perusahaan; dia bertanggung jawab untuk mendewasakan logika kritis penduduk negara dan merawat keberadaban.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·