Secangkir teh biru, semangkuk kacang, jenis kue kering, dan rempah-rempah tersusun rapi di atas meja.(Dok Magnific )
MASIH ada dugaan bahwa penderita diabetes kudu sepenuhnya menghindari camilan untuk menjaga kadar gula darah. Padahal, dalam kondisi tertentu, camilan nan dipilih dan dijadwalkan dengan tepat dapat menjadi bagian dari pengaturan pola makan, terutama bagi pasien nan menggunakan insulin alias obat penurun gula darah nan berisiko menyebabkan hipoglikemia.
Kebutuhan camilan pada penderita glukosuria memang tidak berkarakter sama untuk setiap orang. Waktu makan dan jenis makanan perlu disesuaikan dengan terapi, aktivitas fisik, serta kondisi gula darah. Melewatkan waktu makan pada sebagian pasien juga dapat memicu respons tubuh untuk mempertahankan kadar glukosa melalui pelepasan simpanan daya dari hati.
Dalam konteks tersebut, indeks glikemik (IG) menjadi salah satu pertimbangan ketika memilih camilan. Makanan dengan IG rendah condong meningkatkan kadar gula darah secara lebih berjenjang sehingga dapat membantu pengelolaan respons glukosa setelah makan. SOYJOY menjelaskan bahwa pilihan ber-IG rendah dapat menjadi bagian dari strategi konsumsi camilan bagi penderita diabetes.
“Camilan ber-IG rendah membantu memberikan respons kenaikan gula darah nan lebih bertahap. Namun, penderita glukosuria tetap perlu memperhatikan jumlah nan dikonsumsi lantaran nilai IG saja tidak cukup untuk menentukan apakah sebuah camilan sesuai dengan kebutuhan seseorang,” jelas SOYJOY dalam keterangannya, Rabu (2/9).
Pilihan Camilan Ber-IG Rendah
Pemilihan camilan menjadi semakin krusial bagi penderita glukosuria nan mempunyai aktivitas padat. Membawa camilan dengan komposisi nan lebih sesuai dapat membantu menghindari keputusan makan secara spontan ketika rasa lapar muncul.
Camilan dengan sumber serat dan protein juga dapat memberikan rasa kenyang lebih lama dibandingkan pilihan nan didominasi karbohidrat sederhana. Untuk kebutuhan praktis tersebut, camilan berbasis kedelai seperti SOYJOY dapat dipertimbangkan sebagai salah satu pilihan.
Produk berbahan kedelai utuh menyediakan protein dan serat nan dapat menjadi bagian dari susunan pola makan harian. Konsumen tetap perlu membaca info nilai gizi dan menyesuaikan porsinya dengan kebutuhan masing-masing.
“Bagi penderita glukosuria nan mempunyai kesibukan tinggi, membawa camilan dengan komposisi nan sudah diketahui dapat membantu menjaga keteraturan pola makan. Konsumen dapat memandang bahan utama, kandungan serat dan protein, serta jumlah gula pada bungkusan sebelum menentukan pilihan,” kata SOYJOY.
Perhatikan Komposisi dan Porsi
Di sisi lain, pemilihan camilan bagi penderita glukosuria tidak cukup dilakukan hanya dengan memandang label rendah IG. Kondisi setiap pasien berbeda sehingga kebutuhan camilan dan waktu konsumsinya dapat berubah mengikuti terapi nan digunakan.
“Penderita glukosuria sebaiknya membahas pilihan camilan dengan master alias mahir gizi, terutama jika sedang menggunakan insulin alias obat nan dapat menyebabkan gula darah turun. Dengan begitu, jenis, porsi, dan waktu konsumsi camilan dapat disesuaikan dengan kondisi serta rencana pengelolaan glukosuria masing-masing,” tutur SOYJOY.
Pemahaman tersebut menunjukkan bahwa camilan tidak secara otomatis menjadi makanan nan kudu dihindari oleh penderita diabetes. Pengaturan jenis makanan, jumlah porsi, serta waktu konsumsi menjadi aspek nan menentukan agar camilan dapat ditempatkan secara tepat dalam pola makan sehari-hari. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·