Dr. Pettersson mengikuti para penjaga rimba di Arktik. Sumber:(Universitas York)
PROGRAM konservasi terkenal di bumi nan sempat menyelamatkan wolverine (sigung sejenis musang besar) dari kepunahan di Swedia sekarang tengah mengalami kesulitan. Berdasarkan penelitian terbaru, mandeknya pendanaan dari pemerintah dan terkikisnya kepercayaan masyarakat lokal menjadi pemicu utama kemunduran tersebut.
Pada 2015, Swedia menarik perhatian internasional melalui kesuksesan program Conservation Performance Payment (CPP). Program tertua di jenisnya ini awalnya dirancang untuk menguntungkan populasi wolverine sekaligus masyarakat budaya herder (peternak) rusa kutub Sámi nan berbagi ruang hidup dengan predator tersebut. Berbeda dengan sistem kompensasi tradisional nan bayar tukar rugi setelah terjadi kerusakan, CPP bayar organisasi lantaran sukses hidup berdampingan dengan predator.
Namun, studi jangka panjang dari University of York dan Swedish Agricultural University nan diterbitkan dalam jurnal Conservation Letters menunjukkan keberhasilan awal tersebut sekarang susah dipertahankan.
Dr. Hanna Pettersson dari Leverhulme Centre for Anthropocene Biodiversity, University of York, menjelaskan gimana program ini bekerja pada awalnya. "Diterapkan pada 1996, skema ini pada saat itu revolusioner. Daripada bayar peternak rusa kutub untuk kerusakan nan disebabkan oleh predator, pemerintah bayar organisasi untuk hidup berdampingan dengan mereka, terlepas dari apakah kerusakan itu betul-betul terjadi alias tidak," ujarnya.
"Idenya adalah mengaitkan pendapatan dengan keberadaan predator, memberikan insentif untuk menemukan langkah hidup berdampingan dengan mereka, sehingga mengurangi bentrok dan meningkatkan keadilan sosial. Temuan awal menunjukkan hasil nan membesarkan hati dari skema ini, ialah peningkatan nyata populasi wolverine, tetapi setelah mempelajari 30 tahun info dari skema tersebut, kami telah menunjukkan bahwa keberhasilan ini tidak berkelanjutan," tambah Dr. Pettersson.
Data ekologis menunjukkan populasi wolverine sekarang menurun tajam di wilayah utara Swedia nan dulunya menjadi kediaman terkuat mereka, seperti di County Norrbotten. Pada awal tahun 2000-an, Norrbotten menyumbang sekitar dua pertiga dari seluruh reproduksi wolverine nan didokumentasikan di Swedia. Kini, nomor tersebut merosot hingga kurang dari sepertiga, dan wilayah tersebut berulang kali kandas memenuhi sasaran minimum konservasi.
Masalah finansial menjadi aspek krusial. "Pembayaran kepada peternak rusa kutub dari skema ini telah dibekukan sebesar 200.000 SEK (sekitar Rp290 juta) per reproduksi predator sejak tahun 2002, tetapi lantaran kenaikan biaya dan nilai daging, nilai riil dari pembayaran tersebut telah berkurang sekitar setengahnya selama dua dasawarsa terakhir," ujar Dr. Pettersson.
Ia melanjutkan bahwa sementara Parlemen Sámi menghitung pembayaran legal semestinya minimal 480,000 SEK untuk mematuhi undang-undang, pemerintah hanya menawarkan kenaikan sebesar 25.000 SEK pada 2024.
Selain masalah dana, perubahan suasana juga menjadi halangan baru. Kondisi salju nan berubah di area Arktik membikin jejak wolverine semakin susah dideteksi dan didokumentasikan secara resmi, sehingga banyak laporan pengamatan ditolak lantaran tidak memenuhi persyaratan pengarsipan nan ketat.
Menurut Dr. Pettersson, situasi di Swedia menjadi peringatan keras bagi program konservasi dunia lainnya. "Jika pemerintah kandas menyesuaikan pembayaran dengan meningkatnya biaya hidup berdampingan, beban tersebut dialihkan kepada organisasi lokal nan sering kali terpinggirkan, nan dalam kasus ini sudah terbebani oleh akibat kumulatif dari pertambangan, kehutanan, dan perubahan iklim. Ini adalah tanda peringatan untuk upaya konservasi dunia lainnya. Pemerintah kudu merencanakan masa depan dan menyesuaikan intervensi terhadap perubahan kondisi serta kebutuhan lokal," pungkasnya. (Science Daily/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·