Stigma terhadap penderita HIV/AIDS dan Tuberkulosis (TBC) tetap menjadi tantangan dalam penanganan penyakit menular di tingkat jasa kesehatan pertama. Di Puskesmas Tegalrejo, Kota Yogyakarta, upaya mengurangi stigma dilakukan melalui edukasi, pendampingan pasien, serta agunan kerahasiaan jasa kesehatan.
Kepala Puskesmas Tegalrejo, Suharno, mengatakan stigma dapat memengaruhi keberanian seseorang untuk mengetahui kondisi kesehatannya, menjalani pengobatan, hingga melakukan pencegahan penularan.
"Stigma itu menghalangi orang untuk mengetahui, menghalangi orang untuk berobat, dan menghalangi orang untuk mencegah penularan pada orang lain," kata Suharno, Rabu (5/8).
Menurut .Suharno, stigma dapat muncul dari lingkungan sekitar maupun dari penderita sendiri nan merasa cemas sebelum kondisi kesehatannya diketahui orang lain. Kondisi tersebut dapat membikin sebagian orang menunda pemeriksaan alias enggan mengakses jasa kesehatan.
Suharno menegaskan, Puskesmas Tegalrejo tetap menjamin kerahasiaan identitas dan kondisi kesehatan pasien selama proses pemeriksaan hingga pengobatan.
Meski stigma tetap menjadi tantangan, Suharno mengatakan kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan HIV dan TBC saat ini terus meningkat. Masyarakat mulai lebih terbuka untuk memeriksakan kondisi kesehatannya dan memanfaatkan jasa kesehatan nan tersedia.
Penanganan pasien HIV dan TBC di Puskesmas Tegalrejo dimulai melalui penjaringan kasus, baik dari masyarakat nan datang secara berdikari maupun hasil skrining aktif petugas kesehatan. Setelah dinyatakan positif, pasien bakal menjalani pemeriksaan lanjutan, mendapatkan pengobatan, serta memperoleh pendampingan selama masa terapi.
Suharno mengatakan pemeriksaan dan pengobatan pasien HIV maupun TBC tidak dipungut biaya. Pembiayaan dilakukan melalui BPJS Kesehatan maupun anggaran negara (APBN).
"Kecuali pembayaran pendaftaran, jika punya BPJS maka bisa menggunakan BPJS, jadi tidak ditarik biaya," ujar Suharno.
Pendampingan pasien dilakukan sesuai kebutuhan masing-masing penyakit. Pada pasien HIV, pendampingan diberikan melalui konseling psikososial dan support golongan sebaya untuk membantu pasien menerima kondisi serta menjaga kepatuhan mengonsumsi obat antiretroviral (ARV).
Sementara pasien TBC mendapatkan pendampingan melalui pengawas minum obat (PMO), nan umumnya berasal dari personil keluarga. PMO bekerja mengingatkan pasien mengonsumsi obat sesuai agenda dan menjalani pemeriksaan rutin.
Selain pendampingan, edukasi mengenai langkah penularan juga terus dilakukan untuk mengurangi kesalahpahaman nan dapat memicu stigma. Suharno menjelaskan HIV hanya dapat menular melalui empat jalur, ialah aktivitas seksual nan tidak aman, penularan dari ibu ke anak, penggunaan jarum suntik nan tidak steril, serta transfusi darah.
"Virus HIV tidak bisa menular hanya lantaran makan bersama, tidak bisa menular lantaran berpelukan, berciuman, kemudian tidur bersama, bertukar-tukar pakaian, itu juga tidak bisa," jelasnya.
Suharno mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa upaya pencegahan penyakit tidak berfaedah menjauhi orang nan menderita HIV maupun TBC. Menurutnya, pasien tetap perlu diterima dan mendapatkan support selama menjalani pengobatan.
"Yang dihindari adalah HIV-nya, tapi terimalah orang nan terkena HIV itu seperti orang sakit pada umumnya, lantaran memang di sekitar kita juga ada nan sakit, itu kudu diterima, termasuk dengan TBC," ujar Suharno.
Suharno mengatakan masyarakat nan mempunyai akibat maupun mengalami indikasi penyakit menular tidak perlu ragu melakukan pemeriksaan. Menurutnya, penemuan dan pengobatan sejak awal dapat membantu pasien mendapatkan penanganan nan sesuai.
56 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·