Jakarta, CNBC Indonesia - Bareskrim Polri besama dengan PT PLN (Persero) memamerkan 'kabel putus' penyebab padamnya listrik di wilayah Sumatra. Itu artinya, gangguan sistem kelistrikan alias blackout bukan lantaran adanya sabtose alias unsur kesengajaan.
Bareskrim Polri menjelaskan, bahwa hasil sementara dari investigasi nan sudah dilakukan menyebut gangguan diduga dipicu aspek teknis dan cuaca ekstrem.
Wakabareskrim Polri Irjen Pol Nunung Syaifudin menjelaskan, tim campuran Direktorat Tindak Pidana Tertentu, Direktorat Tindak Pidana Umum, Puslabfor Bareskrim Polri, Ditreskrimsus Polda Jambi, serta PT PLN telah melakukan investigasi lapangan di letak tower transmisi di Desa Tempino, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.
Konpres hasil investigasi gangguan sistem kelistrikan (BLACKOUT) di wilayah Sumatera oleh Bareskrim Polri. (Dok. Bareskrim) Foto: Konpres hasil investigasi gangguan sistem kelistrikan (BLACKOUT) di wilayah Sumatera oleh Bareskrim Polri. (Dok. Bareskrim)
Berdasarkan hasil identifikasi awal, pada Jumat (22/5/2026) sekitar pukul 18.44 WIB terjadi gangguan pada jaringan transmisi SUTET 275 kV jalur Muara Bungo-Sungai Rumbai di wilayah Jambi nan diduga dipicu cuaca buruk. Gangguan tersebut mengakibatkan sistem transmisi keluar dari interkoneksi kelistrikan Sumatera dan memicu ketidakstabilan gelombang serta tegangan listrik.
Akibatnya, sejumlah pembangkit mengalami trip secara berantai hingga menyebabkan blackout massal di beberapa wilayah Sumatera, meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan sebagian Sumatera Selatan.
"Hasil identifikasi awal diketahui bahwa gangguan pada jaringan transmisi SUTET 275 kV jalur Muara Bungo-Sungai Rumbai diduga dipicu aspek cuaca jelek nan mengakibatkan sistem transmisi keluar dari interkoneksi kelistrikan Sumatera," kata Irjen Pol Nunung dalam Konfrensi Pers, Senin (25/5/2026).
Tim campuran di lapangan juga menemukan adanya kabel transmisi nan mengalami putus di sekitar tower transmisi. Namun, kondisi struktur tower secara umum tetap dalam keadaan baik dan tidak ditemukan kerusakan signifikan.
Konpres hasil investigasi gangguan sistem kelistrikan (BLACKOUT) di wilayah Sumatera oleh Bareskrim Polri. (Dok. Bareskrim) Foto: Konpres hasil investigasi gangguan sistem kelistrikan (BLACKOUT) di wilayah Sumatera oleh Bareskrim Polri. (Dok. Bareskrim)
Menurut Nunung, dugaan sementara penyebab putusnya kabel transmisi tetap dalam proses pendalaman dengan beberapa kemungkinan, antara lain aspek mekanis akibat gesekan dan pengaruh angin, aspek panas akibat sambungan lenggang nan menimbulkan loncatan listrik, hingga aspek tarikan alias goyangan akibat cuaca ekstrem.
"Sampai dengan saat ini dapat kami pastikan bahwa tidak ditemukan adanya indikasi sabotase ataupun unsur kesengajaan dalam peristiwa blackout tersebut. Dugaan sementara mengarah pada aspek teknis dan cuaca ekstrem," tegasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan awal menunjukkan pola kerusakan kabel berbentuk serabut terurai dan tidak menunjukkan pola potongan rapi nan mengarah pada tindakan sabotase. Saat ini bagian kabel nan putus telah diamankan dan sedang dilakukan pemeriksaan laboratorium forensik oleh Puslabfor Polri untuk mengetahui penyebab pasti kerusakan secara ilmiah.
Di kesempatan nan sama, Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PT PLN (Persero), Edwin Nugraha Putra, menjelaskan bahwa sistem kelistrikan Sumatera mempunyai dua jalur utama transmisi nan menyalurkan daya dari wilayah selatan menuju utara, ialah koridor timur 500 kV dan koridor barat 275 kV.
Pada saat gangguan terjadi, jalur transmisi mengalami trip akibat cuaca jelek berupa hujan lebat dan angin kencang. Kondisi tersebut menyebabkan aliran daya berbalik dan memicu kejadian power swing alias osilasi tegangan dan gelombang nan sangat tinggi.
Akibat gangguan tersebut, sistem kelistrikan Sumatera terpisah menjadi dua bagian, ialah wilayah selatan nan mengalami kelebihan daya pembangkit dan wilayah utara nan kekurangan daya pembangkit. Kondisi di wilayah utara menyebabkan sejumlah pembangkit mengalami trip secara berantai alias domino effect hingga mengakibatkan pemadaman di beragam wilayah terdampak.
PLN kemudian melakukan proses pemulihan secara berjenjang melalui sistem black start menggunakan pembangkit diesel dan gas, dilanjutkan pengoperasian PLTGU dan PLTU hingga seluruh sistem kembali normal.
"Seluruh sistem kelistrikan Sumatera telah kembali normal 100 persen dan saat ini beraksi dengan kondusif dan stabil," ujar Edwin.
PLN juga memastikan bahwa pada Senin (25/5/2026), sejumlah pembangkit besar telah kembali masuk ke sistem sehingga pasokan listrik dipastikan kondusif dan stabil di seluruh wilayah Sumatera.
(pgr/pgr)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·