Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi(MI/BAYU ANGGORO)
GUBERNUR Jawa Barat Dedi Mulyadi berjanji Pemerintah Provinsi Jawa Barat bakal mengobati seluruh biaya pengobatan korban begal. Ini corak komitmen pemerintah untuk datang lebih nyata dalam melindungi para korban kekerasan dan kejahatan jalanan.
Dia menjelaskan, Pemprov Jabar bakal menanggung seluruh biaya pengobatan bagi korban pembegalan, pencurian, perampokan, maupun corak kekerasan lainnya. Hal ini krusial dilakukan pemprov lantaran korban kasus tersebut sering terkendala biaya pengobatan.
"Rumah sakit tidak memberikan agunan jasa kesehatan bagi mereka korban begal, korban pencurian, korban kekerasan, lantaran tidak ada asuransinya. BPJS-nya tidak mau bayar," katanya di Bandung, Minggu (9/8).
Untuk itu, dia memastikan pihaknya bakal turun untuk membiayai pengobatan korban tersebut. Pemerintah Provinsi Jawa Barat bakal membiayai pengobatan bagi siapapun korban kekerasan, korban penculikan, korban pembulian, korban pembegalan, dan korban perampokan.
Bahkan, lanjutnya, negara bakal mengambil tanggung jawab penuh terhadap keberlangsungan hidup family korban andaikan kejadian tersebut berakibat hilangnya nyawa pencari nafkah.
"Apabila meninggal dan meninggalkan istri dan anak-anaknya, maka gubernur bertanggung jawab terhadap kehidupannya ke depan. Sekolah anak-anaknya dan pembiayaan bagi keluarganya. Ini krusial lantaran psikologinya," kata dia.
Dedi mengaku sayembara mengenai pemalak nan diucapkannya merupakan corak melawan rasa takut masyarakat terhadap kejahatan tersebut. Penting membangun ilmu jiwa publik nan kuat untuk mengatasi persoalan itu.
PERLAWANAN PSIKOLOGIS
Penanganan kejahatan, tuturnya, tidak cukup hanya mengandalkan kelengkapan senjata alias penangkapan oleh abdi negara penegak hukum, melainkan kudu dibarengi dengan perlawanan psikologis kepada masyarakat. Ketakutan penduduk terhadap pelaku kejahatan tidak boleh dibiarkan, karena pembiaran justru bakal memberikan ruang lebih besar bagi para penjahat untuk melancarkan aksinya.
"Masa 100 orang membikin takut 100 ribu orang? Enggak bisa. Kita nan kudu buat takut mereka. Ini perang psikologi, disebutnya perang asimetris," tandas Dedi.
Dia menegaskan sayembaranya itu merupakan langkah nyata untuk membangkitkan keberanian warga. Ini krusial agar masyarakat tidak lagi takut menghadapi begal, tapi para pelaku kejahatan nan kudu merasa takut bertindak di tengah masyarakat.
"Saya bikin sayembara untuk membangunkan. Kita tidak boleh takut oleh begal, pemalak nan kudu takut oleh kita," tegasnya.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·