Perajin tahu tempe terjepit kenaikan nilai kedelai dan plastik, lantaran nilai tukar dolar terhadap rupiah nan terus melambung.(MI/KRISTIADI)
PERAJIN tahu tempe di Kota Tasikmalaya mulai terjepit lantaran kenaikan nilai kedelai impor nan saat ini mencapi Rp11.100 ribu per kilogram. Untuk mengatasi kenaikan itu, perajin mulai menaikan nilai Rp50-Rp100 rupiah per biji.
Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra Negara mengaku sudah menampung keluhan perajin tahu tempe di wilayahnya. Kenaikan nilai mengenai kedelai impor dan plastik.
Salah satu upaya nan bakal dilakukan pemerintah kota adalah menggelar forum obrolan (FGD) lintas sektor untuk merumuskan langkah konkret membantu pelaku usaha.
"Kami bakal menyerap aspirasi dari perwakilan pelaku upaya tahu tempe. Kami juga berkoordinasi dengan Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (KopUMKMPerindag) Kota Tasikmalaya," ungkap Diky.
Dia mengakui kondisi fiskal pemerintah wilayah saat ini belum memungkinkan memberi support untuk pelaku usaha. Tapi pemerintah bakal terus mencari jalan keluar.
"Hasil pembahasan bakal menentukan langkah lanjutan. Selain itu, jika memungkinkan kami bakal mengusulkan permintaan support ke Kementerian Perindustrian dan kementerian terkait," katanya.
Sementara itu, personil Himpunan Perajin tahu dan tempe Tasikmalaya, Imin Muslimin mengatakan, kenaikan nilai kedelai impor nan terjadi disebabkan melemahnya nilai tukar rupiah. Kenaikan itu membikin para perajin tahu tempe sangat berat dan tidak bisa berproduksi seperti biasanya.
"Kenaikan kedelai membikin seluruh pabrik maupun perajin di Tasikmalaya terpaksa kudu mengurangi produksi dan menaikan harga. Sebanyak 400 pabrik dan perajin terpaksa mengurangi produksi semula 4 kwintal dan sekarang menjadi 3 kwintal," tambahnya.
Harga kedelai nan semula Rp9.200 naik menjadi Rp11.100 per kg. Penjualan tempe dan tahu ke pasar tradisional jumlahnya tetap normal tapi harganya naik Rp50 hingga Rp100.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·