Ratusan kapal bersiap di Teluk Persia seiring dengan menguatnya sinyal pembukaan blokade Selat Hormuz, lantaran pembahasan kesepakatan tenteram antara AS dan Iran semakin maju dan berpotensi tercapai dalam waktu dekat.
Dikutip dari Bloomberg, Minggu (14/6), berasas info Signal Maritime, saat ini terdapat sekitar 127 kapal tanker minyak di Teluk Persia, meskipun nomor tersebut susah untuk dipastikan keakuratannya. Puluhan kapal lainnya telah memposisikan diri di dekat selat untuk bersiap memanfaatkan lonjakan permintaan jika lampau lintas kembali normal.
Pasar daya dunia dilanda kekacauan ketika dimulainya perang, menyebabkan penutupan jalur air tersebut nan biasanya menangani sekitar seperlima dari minyak dan gas alam cair dunia.
Sejak saat itu, arus perdagangan telah berubah arah, banyak negara telah mengambil langkah-langkah darurat dan semakin banyak minyak nan sekarang diam-diam keluar dari jalur laut tersebut. Pergeseran tersebut berfaedah bahwa meskipun pembukaan kembali selat tetap bakal signifikan, nilai telah jauh turun dari puncaknya.
Bahkan jika kesepakatan ditandatangani, tetap belum jelas seperti apa sebenarnya corak pembukaan selat tersebut. Presiden AS Donald Trump mengatakan kapal bakal mempunyai jalur bebas, namun media Iran mengisyaratkan bahwa Teheran tetap bakal mempunyai kendali sampai pemisah tertentu.
Bloomberg melaporkan pada Jumat, teks nota kesepahaman bakal terbuka untuk interpretasi di beberapa area, menurut seseorang nan mengetahui masalah tersebut, termasuk apa makna pembukaan kembali selat itu dalam praktiknya.
Beberapa pemilik kapal mengatakan mereka kemungkinan bakal mengambil pendekatan wait and see, mencatat bahwa resolusi tampaknya sudah dekat di masa lampau tetapi kemudian kandas terwujud, termasuk dua bulan lampau ketika kedua pihak menyatakan selat itu terbuka, hanya untuk kemudian Iran menembaki kapal kurang dari 24 jam kemudian.
Beberapa pihak menyebut kematian awak kapal baru-baru ini akibat serangan AS sebagai pengingat bakal akibat penyeberangan. Namun, beberapa orang juga mengatakan bahwa Selat Hormuz telah sepenuhnya terbuka, kemungkinan bakal terjadi kerumunan kapal nan bergegas keluar dan antrean panjang di dekat pintu masuknya.
Jika aliran minyak kembali normal, perihal itu bakal menyebabkan banjir minyak secara tiba-tiba ke pasar lantaran minyak nan terperangkap di Teluk Persia sejak awal perang bakal keluar, dan lantaran produsen Timur Tengah berupaya mengosongkan tangki penyimpanan nan telah penuh sejak bentrok dimulai.
Lembaga-lembaga industri telah memperingatkan bahwa volume lampau lintas nan ekstrem di Selat Hormuz bakal meningkatkan akibat kecelakaan dan kapal kandas.
“Akan terjadi sedikit kepanikan (jika Hormuz dibuka kembali)," kata pendiri perusahaan konsultan Energy Aspects, Amrita Sen.
Aliran Gelap nan Meningkat
Bahkan tanpa kesepakatan damai, semakin banyak tanda bahwa sejumlah besar minyak mengalir melalui selat tersebut menggunakan kapal tanker dengan sinyal nan dimatikan, termasuk dengan support dari militer AS. Pada Jumat, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan sekitar 7 juta barel minyak per hari sedang melewati Teluk Persia.
JPMorgan Chase & Co. memperkirakan bahwa sedikit lebih dari 5 juta barel per hari nan melintas, sementara seorang pedagang komoditas utama mengatakan kepada pertemuan analis pasar senior di Paris minggu ini bahwa perusahaan mereka memperkirakan sekitar 4 juta barel per hari nan melintas.
Sebelum perang, selat ini biasanya menangani sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk BBM, meskipun seretnya pasokan juga telah berkurang lantaran negara-negara Teluk mengalihkan pasokan melalui jalur pipa nan melewati jalur laut tersebut.
Bloomberg sebelumnya melaporkan bahwa produsen Timur Tengah telah menggunakan kapal nan mereka kendalikan untuk mengangkut barel minyak keluar dari Selat Hormuz, dan memindahkan minyak tersebut ke kapal tanker nan menunggu di luar, sebelum kembali ke Teluk untuk pengiriman ulang.
Jumlah transfer antar kapal nan terlihat terus meningkat dalam beberapa hari terakhir. Menurut gambaran satelit dari peramban Copernicus Uni Eropa, terdapat transfer di beragam letak di lepas pantai Oman dan Uni Emirat Arab pada Kamis sekitar 16 juta barel minyak berasas ukuran kapal tanker nan terlibat.
Arus pasokan ini memberikan indikasi lain kenapa nilai minyak tidak melonjak seperti nan diproyeksikan banyak analis ketika perang dimulai. Harga minyak Brent berjangka diperdagangkan mendekati USD 87 per barel pada Jumat, turun lebih dari 30 persen dari nilai tertingginya di pertengahan perang.
Jika Selat Hormuz dibuka kembali, beberapa pemilik kapal telah sibuk memposisikan kapal mereka untuk kemungkinan pembukaan kembali, mempertaruhkan untung dari lonjakan tarif lantaran jumlah kargo meningkat dan kapal-kapal tetap berada di luar posisi nan seharusnya.
Ada juga beberapa produsen Timur Tengah nan menyimpan kapal-kapal kosong di luar Teluk, siap untuk kembali mengangkut minyak mentah negara mereka jika dan ketika Selat Hormuz terbuka. Raksasa tanker nasional Arab Saudi mempunyai beberapa kapal semacam itu di tengah Samudra Hindia.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·