Pemerintah melalui Kemenko Perekonomian menepis dugaan bahwa program Motor Listrik Nasional (Molinas) bakal datang sebagai satu merek tunggal nan menguasai pasar secara sepihak.
Asisten Deputi Pengembangan Industri Kemenko Perekonomian, Atong Soekirman, menegaskan bahwa Molinas dirancang sebagai sebuah platform terbuka bagi beragam produsen lokal, maupun pabrikan nan memenuhi kriteria standar nasional.
Langkah ini diambil agar pengembangan ekosistem kendaraan listrik berbasis baterai di tanah air bisa bergerak lebih masif, kompetitif, dan tidak berkarakter monopolistik.
"Molinas bukan sekadar peluncuran satu jenis kendaraan, melainkan ekosistem seluruh dari industri, baterai, pembiayaan, dan juga penyerapan pasar. Nah, ini menjadi kata kunci untuk kita semua," ujar Atong dalam sebuah pemaparannya di obrolan di Jakarta Pusat, Kamis (20/8/2026).
Ia menjelaskan bahwa pemerintah membagi pendekatan pengembangan industri otomotif ini ke dalam empat pilar utama: input, process, regulasi, dan market. Pada aspek input, konsentrasi utama tidak hanya tertuju pada kesiapan material, tetapi juga mencakup pemberian insentif serta penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) nan kompeten.
Keberhasilan percepatan mengambil motor listrik di dalam negeri dinilainya memerlukan keterlibatan dari banyak pihak secara terintegrasi.
Ekosistem nan dimaksud mencakup rantai pasok industri manufaktur, penyedia komponen, industri baterai, penyedia stasiun pengisian daya (charging) dan penukaran baterai (battery swapping), lembaga pembiayaan, hingga jaringan pengedaran jasa purna jual.
Atong mengungkapkan bahwa saat ini sudah ada sekitar 10 mitra industri nan masuk dalam radar pengembangan dan disiapkan untuk memperkuat jaringan produksi Molinas.
Pemerintah juga mematok sasaran Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 40 persen pada tahap awal, sebelum ditingkatkan secara berjenjang menjadi 60 persen pada periode 2028-2029.
"Ini pertanyaan-pertanyaan nan disampaikan bahwa 40 persen sasaran TKDN-nya. Nanti tahun 2028-2029 itu harapannya 60 persen. Ini kata kuncinya. Apakah hanya sekadar perakitan? Tidak. Perakitan kelak kan ada juga. Nah, justru dengan mengunci TKDN ini harapannya nilai faedah dari motor listrik nasional itu betul-betul ada," tegas Atong.
Atong menambahkan bahwa penguncian nomor TKDN ini sangat krusial agar keberadaan Molinas betul-betul memberikan akibat ekonomi nyata di dalam negeri dan tidak hanya berfokus pada aktivitas perakitan (assembling) semata.
Pemerintah mau memastikan adanya nilai tambah nan tertinggal di industri lokal, utamanya pada sektor baterai dan komponen inti.
12 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·