Jakarta, CNBC Indonesia - RI tetap melakukan importasi garam, meskipun menjadi salah satu negara nan mempunyai kondisi geografis dengan garis pantai terpanjang di dunia. Pemerintah berupaya menurunkan impor garam mulai 2026, hingga bisa swasembada di 2029.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (BAKOM) Muhammad Qodari menjelaskan sasaran pengurangan impor garam secara berjenjang nan dilakukan pemerintah, hingga tidak lagi melakukan impor di 2029.
"Volume impor garam ditargetkan turun dari baseline sekitar 2,6 juta ton menjadi 2 juta ton pada 2026. 1 juta ton pada 2027, hingga mencapai nol pada tahun 2029," kata Qodari, di instansi BAKOM, Rabu (2/9/2026).
Menurut Qodari, kondisi ketergantungan terhadap impor garam ini cukup ironi, memandang Indonesia menjadi salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di dunia.
"Jadi ini realita pahit kita, rupanya selama ini kita impor garam walaupun kita negara kepulauan dengan panjang pantai mungkin terpanjang di dunia," tuturnya.
Untuk itu, pemerintah merencanakan pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (KSIGN). Salah satunya nan bakal dikembangkan di kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.
Perkembangan pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (23/12/2025). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Perkembangan pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (23/12/2025). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Wilayah KSIGN Rote Ndao nan dikembangkan mencapai 2.000 hektare, nan diharapkan bisa memberikan pengaruh pertumbuhan ekonomi di daerah. Adapun nilai investasi pembangunan 2.000 hektare KSIGN Rote Ndao mencapai Rp2 triliun.
Qodari mengatakan, proses pengembangan area tahap I sudah mencapai 616 hektare, bersambung dengan pembangunan tahap II seluas 751 hektare.
"KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) tengah melakukan uji coba produksi pada lahan seluas 616 hektare nan telah selesai dibangun dengan sasaran panen perdana pada November 2026 ini," katanya.
Qodari menjelaskan total wilayah nan bakal dikembangkan mencakup 10.764 hektare. 2.000 hektare dibangun melalui skema kerja sama pemanfaatan wilayah masyarakat, sementara 8.000 hektare area lainnya dipenuhi dengan skema investasi langsung dari investor.
Dari program ini, pemerintah juga menargetkan peningkatan produksi garam nasional secara berjenjang menjadi 2,5 juta ton di tahun 2026, dari baseline 1 juta ton. Hingga terus bertambah 3,5 juta ton di tahun 2027 dan 5 juta ton 2029.
(emy/wur)
[Gambas:Video CNBC]
42 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·