Pemerintah Singapura Gelontorkan Bansos, Warga Dapat Rp 4 Juta untuk Belanja

Sedang Trending 52 menit yang lalu
Ilustrasi gedung perkantoran di Singapura. Foto: harhar38/Shutterstock

Pemerintah Singapura nyaris menggandakan nilai paket support untuk meredam akibat kenaikan biaya hidup akibat bentrok berkepanjangan di Timur Tengah. Dikutip dari Bloomberg, Kamis (30/7), tambahan stimulus senilai S$ 900 juta membikin total paket support nan digelontorkan pemerintah mencapai nyaris S$ 2 miliar. Berdasarkan pernyataan pemerintah pada Rabu (29/7), tambahan support tersebut difokuskan untuk rumah tangga berpenghasilan rendah serta upaya mini dan menengah (UKM). Paket ini melengkapi support nan sebelumnya diumumkan pada April lalu. Dalam skema terbaru, setiap rumah tangga di Singapura bakal menerima voucher senilai S$ 300 pada Januari 2027. Voucher tersebut dapat digunakan untuk berbelanja di supermarket maupun pusat jajanan alias hawker center. Selain itu, pemerintah juga menyalurkan hibah tunai bagi UKM serta support sewa untuk gerai pasar dan hawker center. Tambahan stimulus diberikan ketika bentrok antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas sehingga mengganggu pasokan daya dan beragam komoditas nan diimpor Singapura dari area Timur Tengah. Kondisi itu turut mendorong inflasi negara tersebut pada Juni, terutama akibat kenaikan nilai pangan dan biaya transportasi. Bank sentral Singapura juga memperingatkan tekanan inflasi tetap berpotensi meningkat pada bulan ini dan diperkirakan tetap tinggi hingga pertengahan 2027. Di pasar komoditas, nilai minyak mentah Brent naik 3,6 persen menjadi US$ 87,12 per barel pada Rabu. Kenaikan tersebut memperpanjang reli nilai minyak sepanjang Juli menjadi nyaris 20 persen, meski tetap berada di bawah level US$ 100 per barel nan sempat tercapai sebelum AS dan Iran menghentikan tindakan saling serang. “Situasi di Timur Tengah tetap bergejolak, dan kita terus merasakan dampaknya di dalam negeri,” kata Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dalam unggahan di Facebook. “Langkah-langkah ini melengkapi support nan telah kami berikan sebelumnya, dan saya berambisi dapat memberikan rasa percaya diri nan lebih besar kepada penduduk Singapura saat kita bersama-sama menghadapi periode penuh ketidakpastian ini,” lanjutnya. Sebelumnya, pada Juni, Wong telah mengingatkan bahwa Singapura belum sepenuhnya merasakan akibat ekonomi dari perang AS-Iran, khususnya terhadap biaya listrik, pangan, dan pupuk. Tarif listrik di negara itu apalagi dijadwalkan naik 17 persen mulai bulan ini, nan menjadi kenaikan terbesar sepanjang sejarah. Sementara itu, Menteri Keuangan Kedua Singapura Jeffrey Siow mengatakan kondisi ekonomi negaranya sejauh ini tetap lebih baik dari perkiraan. Meski begitu, dia menilai tekanan tidak dirasakan secara merata lantaran pelaku upaya skala mini menghadapi kenaikan biaya nan lebih berat.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan