Ilustrasi(Antara)
PEMERINTAH tengah menyusun skema unik untuk penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Langkah ini disiapkan agar program pemenuhan gizi tetap dapat menjangkau masyarakat di wilayah dengan kondisi geografis nan menantang dan kepadatan masyarakat nan berbeda dibandingkan area perkotaan.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Muhammad Qodari, menyampaikan bahwa Badan Gizi Nasional (BGN) sedang merancang sistem unik untuk memastikan penyelenggaraan MBG di wilayah 3T melangkah secara efektif.
"Jadi, memang untuk wilayah 3T itu ada skema tersendiri," ujar Qodari dalam keterangannya nan diterima di Jakarta, Jumat (26/6).
Menurut Qodari, kebijakan tersebut sejalan dengan langkah pemerintah melakukan pemfokusan ulang (refocusing) Program MBG. Saat ini, prioritas penerima faedah diarahkan kepada golongan ibu hamil, ibu menyusui, balita (3B), serta masyarakat nan tinggal di wilayah 3T.
Tantangan Pelaksanaan MBG di Wilayah 3T
Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di wilayah 3T mempunyai tantangan nan berbeda dibandingkan wilayah lain. Faktor utama nan menjadi perhatian adalah kondisi geografis nan susah dijangkau serta jumlah masyarakat nan relatif sedikit.
Dalam skema nan bertindak saat ini, satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melayani sekitar 2.000 hingga 2.500 penerima manfaat. Model tersebut dinilai lebih sesuai diterapkan di wilayah dengan jumlah masyarakat nan lebih padat.
Sebaliknya, penerapan skema konvensional di wilayah 3T dinilai kurang efektif lantaran keterbatasan jumlah penerima manfaat. Selain itu, andaikan pengedaran makanan dilakukan dari SPPG nan berada di luar area 3T, waktu pengiriman berpotensi melampaui pemisah nan telah ditetapkan.
Berdasarkan petunjuk teknis penyelenggaraan MBG, setiap SPPG hanya diperbolehkan melayani penerima faedah dalam radius maksimal enam kilometer dengan waktu tempuh paling lama 30 menit.
"Tapi 3T, dengan masyarakat nan sangat sedikit, memang mungkin tidak bisa dipaksakan untuk SPPG dalam konteks konvensional," kata Qodari.
Kantin Sekolah Jadi Salah Satu Opsi nan Dikaji
Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah tetap mematangkan sistem penyaluran MBG nan paling sesuai bagi masyarakat di wilayah 3T.
Salah satu pengganti nan sedang dipertimbangkan adalah memanfaatkan kantin sekolah sebagai pusat pelayanan Program Makan Bergizi Gratis. Namun, pemerintah juga menyiapkan opsi lain nan lebih elastis lantaran tidak seluruh sekolah di area 3T mempunyai akomodasi kantin akibat keterbatasan infrastruktur.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berambisi pengedaran makanan bergizi tetap dapat menjangkau seluruh sasaran penerima faedah tanpa mengabaikan kondisi di lapangan.
Pemerintah Tegaskan Komitmen Atasi Stunting Lewat MBG
Qodari menegaskan pemerintah tetap berkomitmen menjalankan Program Makan Bergizi Gratis di wilayah 3T. Program ini dinilai mempunyai peran strategis dalam menekan nomor stunting, meningkatkan status gizi anak, serta mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
"Yang jelas program ini sangat baik untuk mengatasi masalah stunting, untuk meningkatkan kesehatan kualitas anak kita, kemudian juga meningkatkan IQ agar skor PISA, skor matematika kita, tidak kalah dengan negara lain. Tantangannya tentu gimana agar program ini betul-betul bisa memberikan faedah nan maksimal," ujarnya.
Apa Itu Skor PISA?
Skor PISA merupakan hasil penilaian dalam Programme for International Student Assessment (PISA), sebuah studi internasional nan diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) setiap tiga tahun sekali.
Penilaian ini mengukur keahlian siswa berumur 15 tahun dalam menerapkan pengetahuan dan keahlian pada situasi nyata, bukan sekadar menghafal materi pelajaran. Tiga aspek utama nan dinilai meliputi keahlian membaca (reading literacy), matematika (mathematical literacy), dan sains (scientific literacy). (Ant/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·