Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan tujuan diterapkannya kebijakan insentif bea masuk 0% bagi Liquefied Petroleum Gas (LPG) dari 5% menjadi 0%.
"Impor LPG kami turunkan bea masuknya dari 5% menjadi 0% agar kilang dapat memperoleh bahan baku pengganti dari nafta ke LPG. Ini krusial untuk menjaga pasokan bahan baku plastik," tegas Airlangga dalam konvensi pers, Selasa (28/4/2026).
Kebijakan ini bakal bertindak selama enam bulan. Adapun, selain LPG, pemerintah juga memberikan relaksasi bea masuk untuk impor bahan baku plastik seperti polipropilena (PP), high-density polyethylene (HDPE), dan linear low-density polyethylene (LLDPE) menjadi 0% dengan lama selama enam bulan.
Menurut Airlangga, penerapan kebijakan ini dilatarbelakangi oleh lonjakan nilai plastik dunia nan mencapai 50% hingga 100% akibat penutupan Selat Hormuz. Kenaikan nilai ini berpotensi mendorong kenaikan nilai bungkusan dan berakibat pada nilai produk makanan dan minuman.
"Diberikan bea masuk 0% in periode 6 bulan kelak kita lihat situasi setelah 6 bulan seperti apa jadi kebijakan ini juga diambil negara lain seperti India jadi agar packaging ini agar tidak meningkatkan bahan-bahan makanan," kata Airlangga.
Ketika disinggung soal akibat kenaikan nilai plastik terhadap bahan makanan, Airlangga mengaku pihaknya tetap menghitung akibat terhadap inflasi. Namun dia memastikan transmisi kebijakan ke pengendalian nilai mungkin sekitar 3-4 minggu ke depan. Durasi ini mencakup praktik pengadaan kebutuhan LPG dan bahan baku plastik.
"Kita sembari kita hitung ya. Kita lihat ya. Karena ini kan tetap butuh untuk pengadaan, dan ini bakal waktu mungkin 3 sampai 4 minggu," paparnya.
(haa/haa)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·