Navi Pillay.(Al Jazeera)
PEMENANG Nobel Perdamaian terbaru, Navi Pillay, menegaskan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kudu diadili atas tuduhan kejahatan perang. Hakim asal Afrika Selatan tersebut menyatakan keyakinannya bahwa suatu hari kelak Netanyahu bakal berdiri di bangku pesakitan Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Pillay, nan sekarang berumur 85 tahun, sebelumnya memimpin Komisi Penyelidikan Independen Internasional PBB. Tahun lalu, komisi tersebut menemukan bukti bahwa Israel melakukan genosida di Gaza. Dalam wawancara terbaru dengan Sky News, dia mempertegas temuannya bahwa Netanyahu dan mantan menteri pertahanan Israel kudu menghadapi proses hukum, baik di pengadilan nasional maupun internasional.
Reaksi Keras Israel
Pernyataan Pillay memicu reaksi tajam dari pihak Israel. Setelah pengumuman kemenangan Nobelnya pada Jumat (9/10/2026), Netanyahu menyebut Pillay sebagai sosok nan fanatik. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Israel mengeluarkan pernyataan keras dengan menyebut bahwa Joseph Goebbels, propagandis Nazi, akan, "Bertepuk tangan dari neraka," atas tindakan Pillay.
Merespons perihal tersebut, Pillay mengaku sangat tersinggung. "Goebbels mempunyai darah di tangannya bertanggung jawab atas kematian ribuan orang. Bukan hanya orang Yahudi, tetapi juga orang kulit berwarna seperti saya," ujarnya.
Kritik terhadap Sanksi AS dan Standar Ganda
Selain menyoroti Netanyahu, Pillay juga mengkritik keras langkah Donald Trump nan menjatuhkan hukuman terhadap ICC. Sanksi tersebut diumumkan hanya beberapa jam setelah Pillay dinyatakan menang Nobel, nan menurutnya merupakan reaksi atas kegagalan Trump mendapatkan penghargaan tersebut.
Pillay menuduh ada standar dobel dari Gedung Putih. Ia mencatat bahwa pemerintahan AS sebelumnya menyambut baik surat perintah penangkapan ICC terhadap Vladimir Putin, tetapi kini justru berupaya melumpuhkan pengadilan tersebut ketika menyangkut sekutunya.
Catatan ICC: Pemerintahan Trump berjanji untuk membongkar ICC 'bata demi bata' setelah pengadil mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Netanyahu dan menyelidiki tindakan tentara AS di Afghanistan.
"Anda tidak bisa mempunyai standar ganda. Anda tidak bisa secara selektif mengejar satu golongan orang dan membiarkan nan lain. Itu bakal menjadi preseden nan sangat jelek dan berbahaya," tegas Pillay.
Netanyahu Bantah Tuduhan Kolonialisme
Di sisi lain, Benjamin Netanyahu juga sibuk menangkis kritik internasional lain. Ia merespons pernyataan mantan Presiden AS Barack Obama nan menyebut Israel telah merampas tanah rakyat Palestina secara berlebihan.
Melalui video di media sosial X, Netanyahu menegaskan bahwa bangsa Yahudi bukanlah kolonialis asing di tanah leluhur mereka. "Sejarah kami bukanlah perusahaan kolonial. Tanah kami bukan tanah curian. Ini adalah tanah air kami," kata Netanyahu, seraya membedakan posisi Israel dengan sejarah kolonial bangsa Eropa di masa lalu.
Meskipun Pillay mengakui saat ini kemauan politik untuk menangkap Netanyahu tetap minim, dia tetap optimis. "Sepanjang hidup saya, saya telah memandang orang-orang mengatasi kesulitan, jadi saya percaya itu (pengadilan) bakal terjadi," pungkasnya. (The Telegraph/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·