Rektor Calvin Institute of Technology David Tong(CIT)
Perkembangan kepintaran artifisial (artificial intelligence/AI) mendorong perubahan besar dalam beragam aspek kehidupan, termasuk langkah manusia belajar, bekerja, dan menciptakan inovasi. Kondisi tersebut menuntut perguruan tinggi untuk tidak hanya membekali mahasiswa dengan keahlian teknologi, tetapi juga membentuk sumber daya manusia nan kritis, bisa berpikir lintas disiplin, berwawasan luas, berkarakter, serta bisa memanfaatkan pengetahuan pengetahuan dan teknologi untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Semangat tersebut menjadi dasar Calvin Institute of Technology (CIT) membangun kampus masa depan di BSD City. Pembangunan kampus resmi dimulai melalui groundbreaking ceremony pada 7 Agustus 2026 dan menjadi bagian dari strategi jangka panjang CIT dalam mempersiapkan generasi nan bisa menghadapi perkembangan teknologi sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pendidikan di Indonesia.
Kampus nan dibangun di atas lahan seluas 44.000 meter persegi tersebut mengusung tiga konsep utama, ialah AI Campus, Smart Campus, dan Green Campus. Pembangunan fisiknya ditargetkan rampung dalam waktu sekitar 2,5 tahun dan mulai beraksi pada Juni 2029. Kampus baru tersebut juga menjadi bagian dari persiapan transformasi kelembagaan CIT menuju universitas. Melalui pengembangan budaya pembelajaran berbasis riset dan teknologi, CIT mau membangun ekosistem pendidikan nan mengintegrasikan pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, inovasi, serta pembentukan karakter.
Rektor Calvin Institute of Technology, David Tong, mengatakan pembangunan kampus di BSD City tidak sekadar diarahkan untuk menyediakan akomodasi pendidikan modern, tetapi menjadi bagian dari komitmen CIT dalam mempersiapkan manusia nan bisa menggunakan perkembangan teknologi secara bertanggung jawab.
“Perkembangan pengetahuan pengetahuan dan teknologi, khususnya AI, bakal mengubah banyak aspek kehidupan manusia. Namun pada akhirnya, nan paling dibutuhkan adalah manusia developer pengetahuan pengetahuan nan takut bakal Allah untuk mengembangkan teknologi secara bertanggung jawab. Karena itulah CIT berkomitmen membentuk lulusan nan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mempunyai karakter, iman, dan panggilan untuk menghadirkan teknologi nan memberi faedah bagi sesama,” kata David.
Konsep AI Campus menjadi salah satu fondasi utama pengembangan kampus tersebut. Kecerdasan artifisial bakal diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran, penelitian, hingga jasa akademik.
Melalui Calvin Research Center dan Student Research Fellowship, mahasiswa bakal didorong tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menciptakan solusi dan teknologi baru melalui aktivitas penelitian berbareng pengajar serta mitra industri. Program tersebut apalagi dirancang agar mahasiswa dapat terlibat dalam riset sejak semester pertama. Dengan pendekatan tersebut, CIT mau mengembangkan pola pendidikan nan menempatkan mahasiswa sebagai pembuat solusi, bukan sekadar pengguna perkembangan teknologi.
Konsep kedua adalah Smart Campus, nan mengandalkan Internet of Things (IoT) dan beragam teknologi digital untuk menciptakan proses pembelajaran nan lebih personal, kolaboratif, dan adaptif. Seluruh area kampus bakal dikembangkan sebagai living laboratory. Dengan konsep tersebut, mahasiswa dapat mengembangkan, menguji, sekaligus menerapkan beragam penemuan teknologi dalam lingkungan kampus secara langsung.
Sementara itu, konsep Green Campus diwujudkan melalui penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan, antara lain efisiensi energi, pengelolaan air, dan penyediaan ruang terbuka hijau. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari komitmen CIT untuk menempatkan penemuan teknologi dan kepedulian terhadap lingkungan secara beriringan. Kampus tidak hanya menjadi ruang untuk mengembangkan teknologi, tetapi juga tempat untuk membangun kesadaran mengenai tanggung jawab manusia dalam mengelola lingkungan.
Dari sisi kapasitas, kampus baru CIT dirancang untuk menampung lebih dari 8.000 mahasiswa. Kawasan dengan luas gedung lebih dari 108.000 meter persegi itu bakal dilengkapi beragam akomodasi akademik dan penunjang kehidupan mahasiswa.
Fasilitas tersebut antara lain dormitory dengan kapabilitas lebih dari 3.000 mahasiswa, dining hall nan dapat melayani lebih dari 3.000 orang, perpustakaan berkapasitas lebih dari 100.000 buku, aula dengan kapabilitas lebih dari 3.000 orang, smart classrooms, teaching and research laboratories, serta beragam akomodasi kemahasiswaan.
Kehadiran beragam akomodasi tersebut diarahkan untuk membangun lingkungan pendidikan nan lebih holistik. Pembelajaran tidak hanya berjalan di ruang kelas, tetapi juga melalui riset, hubungan antarmahasiswa, pengembangan inovasi, serta kehidupan organisasi di dalam kampus.
Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi Reformasi Injili (YPTRI), Wiyogo Jayalie, mengatakan pembangunan kampus baru CIT merupakan corak komitmen jangka panjang untuk menghadirkan ekosistem pendidikan nan bisa menjawab perubahan zaman.
“Kami tidak hanya membangun gedung, tetapi membangun tempat lahirnya generasi nan bakal memimpin Indonesia melalui pengetahuan pengetahuan, karakter, dan inovasi,” ujarnya.
Melalui pembangunan kampus di BSD City, CIT juga membuka kesempatan untuk memperluas kerjasama dengan beragam mitra strategis, baik di bagian pendidikan, riset, teknologi, maupun industri. Kampus tersebut diharapkan berkembang menjadi pusat pengembangan talenta, riset, dan penemuan nan bisa menghasilkan kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan Indonesia.
Dengan mengusung semangat Technology for Shalom, CIT menempatkan kemajuan teknologi tidak semata-mata sebagai tujuan, melainkan sebagai sarana untuk menghadirkan faedah nan lebih luas. Perpaduan antara teknologi, karakter, hikmat, dan komitmen melayani sesama diharapkan menjadi fondasi bagi lahirnya generasi nan bisa membawa penemuan sekaligus memberikan akibat positif bagi kehidupan masyarakat. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·