Surabaya, CNN Indonesia --
Seorang pembimbing sekaligus pengurus Persatuan Menembak dan Berburu Seluruh Indonesia (Perbakin) Kota Surabaya diduga melakukan pelecehan dan kekerasan seksual terhadap seorang atlet di bawah umur. Kasus ini sekarang tengah ditangani oleh pihak kepolisian.
Kasus ini terungkap ke publik setelah sejumlah akun IG mengunggah kronologi kejadian, termasuk melampirkan bukti surat tulisan tangan dari korban.
Berdasarkan unggahan tersebut, pelaku diduga memanfaatkan posisinya untuk membangun kedekatan dengan korban. Pelaku melancarkan tindakan pelecehan tersebut beberapa kali, baik di area tempat latihan hingga di dalam kendaraan, dengan modus memberikan hukuman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awal mulanya dia memberi saya balasan bentuk lantaran keseringan jatuhin mag [magasin/alat penyimpanan dan penyuplai amunisi pada senjata api]. Pada suatu waktu, dia menagih balasan fisiknya kepadaku. Lalu saat itu saat di lapangan hanya ada saya berdua berbareng dia lantaran berinteraksi teman-teman sudah pulang semua," kata korban melalui keterangannya, Rabu (10/6).
Korban lampau membantu pelaku membawa perlengkapan latihan ke dalam ruangan. Korban mengaku di sanalah pelaku melancarkan aksinya dengan menyentuh bagian tubuh serta menciuminya.
"Aku membantu dia membawa peralatan ke dalam ruangan. Lalu dia menagihnya di dalam ruangan itu dan di saat itu saya hanya menurut saja. Lalu dia memulainya," ujar dia.
Korban pun mulai merasa asing dan curiga. Tetapi dia tak bisa melakukan apa-apa dan menuruti perintah pelatihnya nan berkilah sedang memberikan hukuman.
"Aku pun menurut saja sampai waktu dia menghukum saya lagi, lantaran mag lagi, dia menghukum saya di mobil, saat itu dia memulainya ketika saya selesai latihan dan diajak ke belakang," ujar korban.
Merespons perihal itu, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Surabaya, Arderio Hukom, mengatakan pihaknya telah menonaktifkan terduga pelaku. Penonaktifannya, kata dia, dilakukan sesaat setelah kasus itu terungkap.
"Terduga ini sudah dinonaktifkan dari kepengurusan Perbakin Surabaya," ujarnya.
Arderio mengatakan, terduga pelaku juga bukan pembimbing resmi Perbakin Surabaya.
Ia mengatakan terduga pelaku merupakan pengurus nan kerap ikut melatih para atlet. Sedangkan korban, statusnya dipastikan belum masuk sebagai atlet resmi Perbakin Surabaya.
"Kenapa saya bilang bukan pelatih, lantaran jika pembimbing ini di SK-kan untuk pembimbing puslacab dan itu belum ada," ungkapnya.
Meski demikian, pihak Perbakin dan KONI Surabaya berkomitmen penuh mengawal kasus ini ke jalur hukum. Dia juga mendampingi korban untuk membikin laporan ke pihak Kepolisian.
"Kemarin sampai larut juga, teman-teman Perbakin mendampingi pelapor," sebutnya.
Arderio menegaskan, agunan keamanan di lingkungan olahraga menjadi prioritas utama pihak KONI Surabaya dalam menyikapi kasus ini.
"Tapi nan jelas, sikap dari KONI Surabaya dan Perbakin Surabaya mendukung penuh dan men-support segala macamnya untuk kejadian ini terang benderang, agar bisa menjadi pelajaran seluruh penggiat olahraga di Surabaya. Bahwa olahraga ini ruang bebas, ruang aman, dan ruang nyaman untuk segala macam pihak. Terutama anak-anak kita di usia dini," katanya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya, Ida Widayati, membenarkan adanya laporan mengenai kasus tersebut.
"Ini pelaporannya baru kemarin sore, tetap proses BAP [Berita Acara Pemeriksaan] di Polrestabes Surabaya, kelak jika sudah selesai saya kabari," ujar Ida.
Hal senada juga disampaikan oleh Kasatres Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (PPA-PPO) Surabaya, Kompol Melatisari. Ia memastikan bahwa laporan dari pihak korban telah diterima dan saat ini sedang diproses oleh interogator kepolisian.
"Njeh tetap proses," kata Ida saat dikonfirmasi.
(frd/kid)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·