Kita semakin sering memandang pekerja nan menggunakan kepintaran buatan (AI) secara mandiri. Di lapangan, tenaga kerja sudah menggunakan AI untuk merangkum rapat, menyusun proposal, hingga mempelajari keahlian baru, tak jarang lantaran inisiatif sendiri.
Jelas bahwa tenaga kerja Indonesia tidak sekadar penonton revolusi AI. Di beragam fungsi, industri, dan generasi, tenaga kerja sudah memanfaatkanya untuk bekerja lebih cepat, memecahkan masalah, dan mempelajari keahlian baru. Kesiapan terhadap AI ini nyata dan tumbuh dari bawah.
Hal ini tercermin dalam temuan HP Work Relationship Index (WRI) 2025. Indonesia mencatat salah satu tingkat penggunaan AI tertinggi dari 14 negara. Sebanyak 94% knowledge worker menggunakan AI dalam pekerjaan, dan separuhnya menggunakannya setiap hari. Ini merupakan tingkat penggunaan AI harian tertinggi secara global.
Adopsi ini menunjukkan penggunaan AI di Indonesia sudah meluas dan menjadi kebiasaan, tanpa menunggu kebijakan formal. Hal ini semestinya mematahkan pandangan skeptis bahwa sumber daya manusia kita belum siap memanfaatkan AI.
Karyawan Indonesia juga termasuk nan paling optimistis terhadap peran AI. Tak sedikit nan memandang AI sebagai perangkat untuk meningkatkan kualitas kerja, membantu mengurangi tugas berulang, dan mendukung pengambilan keputusan. Optimisme ini terutama nampak pada tenaga kerja Gen Z dan milenial sebagai pengguna awal AI nan bereksperimen dan mengoptimalkan pemanfaatannya, baik dalam pekerjaan maupun side hustle. Mereka sigap beradaptasi dan apalagi menyesuaikan langkah kerja meski prosedur perusahaan belum berubah.
Karyawan Bergerak Cepat, tetapi Tempat Kerja Masih Tertinggal
Meski penggunaan AI secara perseorangan sudah tinggi, hanya 28 persen knowledge worker di Indonesia nan merasa mempunyai hubungan nan sehat dengan pekerjaan. Ini tentu menimbulkan tanda tanya. Kalau AI bisa mempermudah kerja kita, kenapa pekerjaan justru terasa lebih berat?
AI memang membantu mempercepat pekerjaan, tetapi juga meningkatkan ekspektasi dan beban kerja. Tanpa penyesuaian terhadap beban kerja, ekspektasi, dan kepercayaan, AI tidak membikin pekerjaan lebih efisien, melainkan justru lebih intens.
Dalam observasi saya, masalahnya terletak pada pendekatan organisasi terhadap transformasi digital. Banyak perusahaan telah berinvestasi pada perangkat, konektivitas, dan infrastruktur. Namun, perihal ini tidak diimbangi dengan kesiapan budaya dan langkah kerja nan mendukung pemanfaatan AI.
Program peningkatan keahlian belum merata, dan akses terhadap perangkat AI sering kali terbatas pada ketua alias tim teknologi info (TI). Data WRI 2025 nan sama menunjukkan bahwa hanya 41 persen knowledge worker nan menggunakan platform AI dari perusahaan. Ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan 70 persen alias lebih pada ketua upaya dan tim TI.
Contoh lain dapat dilihat dari pengurangan kerja hybrid. Banyak
orang dituntut untuk lebih banyak datang ke kantor, namun rapat tetap dijadwalkan seolah semua orang bekerja dalam kondisi nan sama dari rumah. Seiring waktu, perihal ini menurunkan kualitas kolaborasi, memperlambat eksekusi, dan berisiko mengeksklusi sebagian orang.
Kurangnya pengarahan nan jelas mengenai mengambil AI membikin tenaga kerja menggunakan perangkat pribadi tanpa memahami akibat info alias implikasi kepatuhan nan mungkin timbul. Informasi sensitif pun tak sengaja dibagikan di luar sistem nan secara resmi diakui perusahaan, sementara organisasi tidak mempunyai visibilitas atas ke mana info tersebut mengalir alias gimana info digunakan. Hal ini meningkatkan akibat keamanan dan kepatuhan. Ketika masalah akhirnya muncul, praktik tersebut sering kali sudah meluas dan susah dihentikan.
Transformasi tempat kerja nan sesungguhnya bukan sekadar menambah perangkat alias langganan platform AI. Ini memerlukan peninjauan ulang atas workload dan prioritas. Perlu kejelasan tentang peran manusia dan mesin, serta kepercayaan kepada tenaga kerja untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Fase Pertumbuhan Indonesia Berikutnya Bergantung pada Tempat Kerja nan Siap AI
Dengan ambisi Indonesia menjadi negara berpenghasilan tinggi, produktivitas, inovasi, dan kualitas SDM menjadi kunci. Teknologi, khususnya AI, bakal memainkan peran besar dalam mendorong kemajuan tersebut.
Namun, akibat AI tidak diukur dari seberapa banyak pekerjaan nan diotomatisasi tetapi oleh seberapa mahir manusia memanfaatkannya untuk menghasilkan kerja nan berdampak. Organisasi nan secara intensional berinvestasi pada teknologi dan pengalaman tenaga kerja mempunyai kesempatan hingga lima kali lebih tinggi untuk menciptakan hubungan nan sehat dengan pekerjaan. Organisasi ini juga lebih siap mempertahankan keahlian dalam jangka panjang.
Jelas bahwa kesiapan AI adalah rumor kepemimpinan, bukan sekadar rumor teknologi. Pesannya jelas: masyarakat Indonesia sudah siap untuk AI. Mereka telah menggunakan, mempelajari, dan memercayai teknologi ini. nan dibutuhkan sekarang adalah tempat kerja nan bisa menyamai kesiapan tersebut melalui akses nan inklusif terhadap alat, peningkatan keahlian nan berkelanjutan, sistem nan kondusif dan terpercaya, serta pemimpin nan menempatkan manusia sebagai pusat transformasi.
Jika kesenjangan ini dijembatani, AI dapat mendorong produktivitas, inovasi, dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi. Tenaga kerja telah bergerak lebih dulu. Kini saatnya tempat kerja menyusul.
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·