Pedagang Pasar Tanah Abang Kasih Kabar Kapan Harga Kain Resmi Naik

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga kain di pasar ritel belum menunjukkan kenaikan meski ada prediksi lonjakan nilai dalam waktu dekat. Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia di Blok A Pasar Tanah Abang, Senin (13/4/2026), nilai beragam jenis kain tetap terpantau stabil.

Deretan toko kain tetap memajang gulungan kain dengan label nilai nan sama seperti beberapa waktu lalu. Papan nilai nan tergantung di setiap lapak nampak belum berubah, belum menunjukkan terjadinya lonjakan nilai nan signifikan.

Sejumlah pedagang mengaku hingga sekarang tetap menjual stok lama dengan nilai nan belum mengalami penyesuaian. Mereka juga memilih menahan nilai demi menjaga daya beli konsumen di tengah persaingan ketat antar pedagang.

Lidya, salah satu pedagang kain, memastikan nilai nan dijual saat ini tetap sama seperti tahun lalu.

"Nggak kok, ini tetap nilai lama. Dari tahun lampau juga tetap segitu harganya," kata Lidya saat ditemui CNBC Indonesia di lokasi.

Ia menjelaskan, nilai kain di tokonya bervariasi tergantung jenis bahan, mulai dari nan paling murah hingga nan lebih premium.

"Di saya ya, saya jual mulai dari Rp5.000 semeter juga ada. Ini Rp10.000 (per meter), ini Rp15.000 (per meter). Ada juga ini nan Rp40.000 (per meter). Tergantung mau cari nan bahan apa. Tapi nilai ini tetap sama kayak nan saya jual tahun lalu. Belum ada naik," jelasnya.

Meski demikian, Lidya mengakui sudah ada sinyal kenaikan nilai dari sisi hulu, terutama untuk peralatan nan dipesan langsung ke pabrik.

"Saya belum (naik). Kalau nan PO (pre-order) alias pesan ke pabriknya sekarang iya baru naik. Tapi itu kelak paling naiknya pas peralatan itu sudah dijual, ya sebulanan alias 2 bulanan lagi lah, mungkin ya," ucap dia.

Ia pun memperkirakan kenaikan nilai nantinya berada di kisaran 10%. "Perkiraan saya ya, naiknya paling sekitar 10%," sebutnya.

Adapun jika stok baru sudah masuk ke lapak para pedagang di Pasar Tanah Abang, Lidya memprediksi, nilai kain berpotensi ikut naik mengikuti biaya produksi nan lebih tinggi.

"Iya paling ya 10%. Ibarat ini Rp20.000 (per meter) berfaedah jadi Rp22.000 semeternya kan," ujar Lidya.

Untuk saat ini, dia menegaskan belum ada kenaikan di tingkat ritel.

"Belum, belum ada nan naik ya. Kecuali dia sudah jual pakai peralatan nan produksi baru. Tapi saya rasa belum ada ya (yang jual) peralatan nan diproduksi dari peralatan PO sekarang, kan (ada) prosesnya," terang dia.

Ia memperkirakan kenaikan nilai baru bakal terasa dalam beberapa bulan ke depan.

"Yah paling ya, paling sigap itu 1 bulan, tapi kayaknya 2 alias 3 bulan lagi nilai baju naiknya. Semoga aja nggak naik sih. Imbas perang kan ini. Tapi kalo prediksi saya, 2-3 bulan lagi baru pada naik nan baju alias bahan-bahan di sini," jelasnya.

Hal serupa juga disampaikan Feri, pedagang kain lainnya di Pasar Tanah Abang. Ia menyebut nilai kain tetap stabil, meski biaya pendukung seperti plastik justru melonjak tajam.

"Semeternya kain brokat Rp50.000," kata Feri.

Menurutnya, nilai bahan kain belum naik, namun ada tekanan dari sisi biaya operasional.

"Kalau kain bahan belum sih. Belum ada naik. Tapi ini (plastik) nan naik. Tadi saya beli plastik masa naiknya 70%, nan biasanya nilai Rp100 ribu jadi Rp170 ribu. nan biasa saya beli Rp50 ribu aja gak sampai, ini tadi beli Rp100 ribu. Naiknya parah banget jika plastik," ungkapnya.

Meski belum ada kenaikan, dia mengaku sudah mendapat info nilai kain berpotensi naik dalam waktu dekat.

"Cuma memang pas kemarin saya telpon buat nanya barang, mau ngambil (stok), itu saya sempat diinfo jika katanya nilai bakal naik," sebut dia.

Namun, Feri dan pemilik toko sepakat untuk sementara menahan nilai jual. "Tapi kayaknya kita sepakat, jangan dulu dinaikin. Kita patokin dulu kayak misal kain brokat ini kita jual Rp50.000 (per meter), jika pun naik ya Rp60.000 (per meter), jika dia beli banyak, bisa kita kasih potongan nilai jadi Rp55.000 (per kg). Ya bisa lah kelak coba dihitung lagi," jelasnya.

Feri mengaku, ini menjadi kali pertama dia mendapat peringatan soal potensi kenaikan nilai kain akibat aspek global.

"Karena baru kali ini ya nilai kain naik, baru pertama kali loh kayaknya saya ngerasa diwanti-wanti nilai kain bakal naik. Kalau peralatan nan lain kan ya sudah gitu ya, ini kain, kayak baru ini saya dapat kabar. Ya pengaruh perang juga. Semoga sigap selesai ya," kata dia.

Sementara itu, pedagang lain, Rinda, juga memilih bersikap hati-hati dan tidak gegabah meningkatkan nilai meski sudah mendengar berita serupa.

"Iya saya juga lihat di buletin gitu. Pas baca tuh saya langsung tanya (ke suami) 'waduh yah, ini mau naik, gimana?', pengaruh perang ya. Cuma kata suami saya buat liat kondisi saja," ucap Rinda.

Menurutnya, persaingan di Tanah Abang membikin pedagang tidak bisa sembarangan meningkatkan harga.

"Kita ini kan jualan bareng ramai-ramai ya di Tanah Abang, jadi nggak bisa kita panik terus naikin harga, sedangkan ada toko lain nan nahan-nahan nggak naik, kelak kan konsumen larinya pasti ke nan murah," jelasnya.

Ia pun memilih menahan nilai selama tetap memungkinkan.

"Jadi ya kita coba lihat kondisi gimana, jika memang (kenaikannya) bisa kita tahan, ya kita tahan. Tapi jika memang parah, ya semoga pemerintah punya solusi," ucap dia.

Saat ini, Rinda juga mengaku tetap menjual stok lama dengan nilai stabil.

"Belum sih. Kebetulan ini tetap peralatan lama ya. Maksudnya saya beli stok ini sebelum ada (gejolak) perang, jadi harganya tetap aman," ujarnya.

Ia menjual beragam jenis kain dengan rentang nilai beragam. "Saya jual jenis bahan (kain), mulai dari Rp5.000-Rp50.000 an juga ada, tergantung mau nya apa, model apa, alias buat apa," jelasnya.

Bahkan,katanya, nilai tersebut relatif tidak berubah dalam beberapa tahun terakhir.

"Bukan dari tahun lalu, ini sudah bertahun-tahun ya, 2-3 tahun lah segini aja nilai bahan (kain) kan jarang (fluktuasi) naik turun," tambah dia.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta memprediksi nilai kain hingga busana jadi bakal naik akibat lonjakan nilai bahan baku imbas bentrok Timur Tengah. Kenaikan tersebut diperkirakan merambat dari hulu ke hilir dan mulai terasa di ritel dalam beberapa pekan ke depan, dengan potensi kenaikan sekitar 10%.

Meski sinyal kenaikan sudah terlihat dari sisi produksi, kondisi di pasar ritel seperti Tanah Abang saat ini tetap relatif stabil. Namun, para pedagang memperkirakan penyesuaian nilai baru bakal terasa dalam 1 hingga 3 bulan ke depan, seiring masuknya stok baru dengan biaya produksi nan lebih tinggi.

Pantauan kondisi nilai kain dan baju anak di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)Foto: Pantauan kondisi nilai kain dan baju anak di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Pantauan kondisi nilai kain dan baju anak di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News