Perserikatan Bangsa-Bangsa(ANTARA FOTO/Kuntum Khaira Riswan)
PASUKAN Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Libanon (UNIFIL) melaporkan peningkatan aktivitas militer Israel di wilayah operasinya di Libanon selatan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan keprihatinan atas eskalasi nan terus berjalan serta dampaknya terhadap penduduk sipil dan jasa publik di negara tersebut.
Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, mengatakan UNIFIL terus memantau beragam aktivitas militer nan dilakukan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di sepanjang area operasinya.
Menurut Dujarric, aktivitas tersebut mencakup pergerakan kendaraan lapis baja dalam jumlah besar, operasi rekayasa militer, penghancuran skala luas, serta aktivitas logistik nan berjalan secara berkelanjutan.
Dalam konvensi pers harian pada Jumat (12/6), Dujarric juga mengungkapkan bahwa aktivitas udara Israel meningkat secara signifikan pada Kamis (11/6).
Ia menyebut operasi tersebut melibatkan pesawat tempur dan beragam jenis sistem udara nirawak nan beraksi di wilayah Libanon.
UNIFIL mencatat sedikitnya 72 pelanggaran wilayah udara Libanon oleh IDF dalam satu hari. Selain itu, delapan serangan udara Israel juga dilaporkan terjadi di area operasi pasukan penjaga perdamaian PBB tersebut.
"PBB tetap sangat prihatin atas akibat berkepanjangan dari pertempuran terhadap jasa kesehatan dan akses masyarakat ke layanan-layanan esensial di Libanon," ujar Dujarric dilansir Anadolu, Sabtu (13/6).
Mengutip laporan otoritas setempat, Dujarric mengatakan serangan nan terjadi di dekat Rumah Sakit Hiram di Distrik Tyre, Kegubernuran Selatan, Libanon, pada Kamis (11/6) menyebabkan kerusakan serius.
Serangan tersebut dilaporkan melukai 10 personil staf rumah sakit serta merusak gedung akomodasi kesehatan dan sejumlah kendaraan nan berada di lokasi.
Menurut PBB, kejadian itu menjadi setidaknya kejadian kelima nan berakibat pada Rumah Sakit Hiram sejak bentrok di area tersebut meningkat pada 2 Maret lalu.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sedikitnya 17 rumah sakit di beragam wilayah Libanon mengalami kerusakan selama periode eskalasi konflik. Seluruh rumah sakit nan berada di Kota Tyre juga disebut terdampak.
Dujarric menambahkan bahwa bentrok nan terus berjalan telah menimbulkan korban di kalangan tenaga medis dan petugas penyelamat.
Menurut info nan dihimpun PBB, sebanyak 135 tenaga kesehatan dan petugas tanggap darurat dilaporkan tewas sejak bentrok meningkat, sementara nyaris 400 lainnya mengalami luka-luka. (Fer)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·