Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei (kanan) dan Presiden AS Donald Trump.((AFP))
SEKRETARIS Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyambut positif kesepakatan tenteram antara Amerika Serikat dan Iran nan diumumkan. Menurutnya, rencana perjanjian tersebut menjadi langkah krusial untuk mengakhiri bentrok nan selama beberapa bulan terakhir mengguncang Timur Tengah dan mengganggu stabilitas ekonomi global.
Dalam pernyataan resmi nan disampaikan melalui ahli bicaranya, Guterres menilai kesepakatan itu sebagai perkembangan signifikan lantaran mencakup penghentian permanen operasi militer, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta kerangka perundingan lanjutan menuju penyelesaian nan lebih menyeluruh.
"Kesepakatan ini merupakan langkah krusial menuju berakhirnya konflik. Saya berambisi kedua pihak memanfaatkan momentum ini dan melipatgandakan upaya untuk mencapai penyelesaian akhir," kata Guterres.
Dia juga menegaskan PBB siap mendukung setiap proses nan mengarah pada perdamaian nan berkepanjangan dan komprehensif. Guterres turut menyampaikan apresiasi kepada sejumlah negara nan berkedudukan dalam proses mediasi, termasuk Pakistan, Qatar, Mesir, Arab Saudi, dan Turki. Menurutnya, keterlibatan negara-negara tersebut membantu membuka jalan bagi tercapainya kesepakatan nan sekarang disambut luas oleh organisasi internasional.
Konflik antara AS dan Iran meletus pada akhir Februari lampau setelah serangan campuran Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah sasaran di wilayah Iran. Teheran kemudian membalas dengan serangan terhadap Israel serta sejumlah negara Teluk nan menjadi sekutu Washington.
Eskalasi itu berakibat langsung pada penutupan Selat Hormuz nan merupakan jalur pelayaran strategis pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Gencatan senjata sempat disepakati pada April lampau namun bentrok sporadis tetap terjadi. Dalam sepekan terakhir, apalagi terjadi dua kali saling serang nan kembali meningkatkan ketegangan di kawasan.
Sebelum kesepakatan tenteram diumumkan, Guterres juga mengecam serangan udara Israel di Beirut. Menurutnya, tindakan tersebut terjadi di tengah upaya diplomatik nan sedang berjalan antara Washington dan Teheran untuk mencapai kesepakatan damai.
Dia memperingatkan bahwa bentrok berkepanjangan tidak hanya memperburuk situasi keamanan kawasan, tetapi juga memberikan akibat serius terhadap perekonomian dunia.
Karena itu, Guterres menyerukan semua pihak untuk menunjukkan pengendalian diri maksimal pada fase nan dianggap sangat menentukan bagi masa depan perdamaian Timur Tengah.
Ketegangan di Lebanon sendiri menjadi bagian dari gejolak nan meluas di kawasan. Konflik itu meningkat pada awal Maret ketika golongan Hizbollah melancarkan serangan ke Israel setelah dimulainya operasi militer AS dan Israel terhadap Iran. (Dhk/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·