PBB Buka Suara soal Karhutla dan Cuaca Panas, Blak-blakan Bilang Begini

Sedang Trending 35 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Polusi dari kebakaran rimba dan lahan (karhutla) serta gelombang panas nan semakin intensif di beragam bagian bumi dapat menghancurkan upaya dunia untuk meningkatkan kualitas udara dan melindungi kesehatan manusia. Badan cuaca Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa ancaman perubahan suasana telah membikin tujuan kualitas udara internasional menjadi semakin susah untuk dicapai.

Mengutip Reuters, Senin (7/9/2026), Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dalam laporan tahunannya tentang kualitas udara dan suasana menegaskan bahwa polusi udara dan perubahan suasana mengenai sangat erat dan kudu ditangani melalui kebijakan nan terkoordinasi, bukan secara terpisah. WMO memperingatkan bahwa pemenuhan pedoman kualitas udara dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bakal semakin berat lantaran karhutla ekstrem diproyeksikan bakal lebih sering terjadi di masa depan.

Dalam laporannya, WMO menyoroti bahwa karhutla sekarang menjadi sumber polusi udara rawan nan terus berkembang subur. Kondisi ini terjadi apalagi ketika banyak negara maju telah sukses menekan nomor emisi dari sektor industri dan transportasi melalui pengetatan regulasi.

Pejabat Ilmiah WMO, Lorenzo Labrador, memberikan pandangannya mengenai daya hancur polusi lintas pemisah tersebut.

"Tidak peduli seberapa bersih kota alias wilayah Anda... jika Anda mempunyai banyak polusi nan disebabkan oleh kebakaran hutan, perihal itu berpotensi berakibat negatif pada kualitas udara di wilayah tersebut juga," paparnya.

Laporan tersebut secara unik menyoroti akibat jelek nan semakin besar dari materi partikulat lembut (PM2.5) dan ozon di permukaan tanah nan terbukti memicu penyakit pernapasan serta kardiovaskular. WMO turut menyerukan peningkatan pemantauan terhadap beragam polutan dan aerosol, termasuk karbon hitam dan mikroplastik, nan saat ini tetap sangat minim terlacak meskipun keberadaannya telah menyebar luas di atmosfer.

Tahun ini telah diwarnai oleh panas ekstrem dan karhutla destruktif nan melanda beragam penjuru Eropa, termasuk Spanyol, Prancis, dan Yunani. WMO mencatat bahwa gelombang panas ekstrem menjadi lebih sering, intens, dan memperkuat lebih lama seiring memanasnya suhu bumi. Data terbaru mengungkap bahwa konsentrasi PM2.5 pada tahun 2025 berada jauh di atas rata-rata jangka panjang di wilayah Kanada utara, sebagian Rusia, dan Afrika barat-tengah akibat lonjakan aktivitas kebakaran, sementara barat laut Spanyol menjadi titik panas usai dilanda kebakaran luar biasa di akhir musim panas.

Sebuah studi nan dikutip dalam laporan tersebut menemukan kebenaran mengerikan bahwa peristiwa asap kebakaran ekstrem telah meningkat hingga tiga kali lipat secara dunia sejak tahun 1990-an. Bencana ini diperkirakan telah menyumbang nyaris 100.000 kematian tambahan setiap tahunnya antara tahun 2010 dan 2018. Labrador kembali menegaskan ancaman mematikan dari paparan polutan tersebut bagi tubuh manusia.

"Materi partikulat dari kebakaran rimba sangat rawan lantaran disertai dengan sejumlah bahan kimia beracun. Penghirupannya menyebabkan peradangan di seluruh tubuh nan dapat memicu penyakit paru-paru," tegasnya.

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News