Paylater dan FOMO: Apakah Gen Z sedang Menuju Krisis Finansial?

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Ilustrasi paylater. Foto: Shutterstock

Paylater kini menjadi bagian dari style hidup banyak Gen Z di era digital. Kemudahan transaksi dan pengaruh media sosial membikin budaya konsumtif semakin meningkat hingga memunculkan akibat krisis finansial di kalangan anak muda.

Di era digital seperti sekarang, nyaris semua kebutuhan bisa dipenuhi hanya lewat satu genggaman tangan. Mulai dari shopping online, memesan makanan, hingga membeli peralatan dengan sistem angsuran instan sekarang terasa sangat mudah dilakukan. Kemudahan ini memang membantu masyarakat, terutama generasi muda nan hidup di tengah perkembangan teknologi nan sangat cepat.

Namun, di kembali semua kemudahan tersebut, muncul sebuah kejadian nan mulai menjadi perhatian, ialah meningkatnya perilaku konsumtif di kalangan Gen Z. Banyak anak muda mulai membeli sesuatu bukan lagi lantaran kebutuhan, melainkan lantaran dorongan tren dan style hidup digital.

Paylater dan Gaya Hidup Konsumtif Gen Z

Ilustrasi paylater. Foto: Shutterstock

Berdasarkan info dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penggunaan jasa Buy Now Pay Later (BNPL) alias paylater di Indonesia terus mengalami peningkatan, terutama di kalangan usia muda. Kemudahan akses dan proses transaksi nan sigap membikin banyak orang merasa bisa membeli apa pun hari ini tanpa memikirkan kondisi finansial jangka panjang.

Fenomena ini semakin terlihat di tengah budaya shopping online yang berkembang pesat. Diskon besar-besaran, cuma-cuma ongkir, promo tanggal kembar, hingga sistem angsuran instan membikin masyarakat semakin mudah melakukan pembelian impulsif.

Banyak anak muda mulai terbiasa membeli peralatan hanya lantaran sedang viral alias takut kehilangan kesempatan saat flash sale. Padahal, tidak semua peralatan nan dibeli betul-betul dibutuhkan.

Masalahnya, paylater sering kali memberikan ilusi bahwa seseorang mempunyai keahlian finansial nan cukup, meskipun sebenarnya belum mempunyai duit untuk bayar secara langsung. Kalimat seperti “nanti juga bisa dicicil” perlahan menjadi kebiasaan nan dianggap normal.

Jika digunakan tanpa kontrol, kebiasaan tersebut bisa menjadi awal dari masalah finansial nan lebih besar.

FOMO dan Pengaruh Media Sosial terhadap Keuangan Anak Muda

Ilustrasi anak bermain media sosial. Foto: Arsenii Palivoda/Shutterstock

Platform seperti TikTok dan IG mempunyai pengaruh besar terhadap pola konsumsi generasi muda saat ini. Media sosial membikin style hidup orang lain terlihat menarik dan seolah kudu diikuti.

Dari sinilah kejadian Fear of Missing Out (FOMO) berkembang. Banyak anak muda merasa takut tertinggal tren, sehingga mulai memaksakan diri mengikuti style hidup tertentu demi pengakuan sosial.

Nongkrong di tempat viral, membeli outfit terbaru, mengikuti tren gadget, hingga membeli peralatan hanya demi konten media sosial menjadi perihal nan semakin umum terjadi.

Menurut survei dari Katadata Insight Center, media sosial mempunyai pengaruh besar terhadap perilaku konsumtif generasi muda Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan finansial saat ini tidak lagi sepenuhnya dipengaruhi kebutuhan, tetapi tekanan sosial dan tren digital.

Ironisnya, banyak orang sebenarnya sadar bahwa perilaku tersebut tidak sehat, tetapi tetap melakukannya demi terlihat “setara” dengan lingkungan sekitarnya.

Pentingnya Manajemen Keuangan di Era Digital

Ilustrasi mengatur keuangan. Foto: Shutterstock

Fenomena ini menunjukkan bahwa manajemen finansial menjadi keahlian nan sangat krusial di era digital saat ini. Mengelola finansial bukan hanya tentang menabung alias membatasi pengeluaran, melainkan juga tentang keahlian mengendalikan diri dalam mengambil keputusan finansial.

Banyak anak muda bisa menghasilkan uang, tetapi belum bisa mengatur prioritas pengeluaran dengan baik. Tidak sedikit nan lebih mementingkan style hidup dibanding kestabilan finansial jangka panjang.

Padahal, kebebasan finansial tidak dibangun dari seberapa sering seseorang mengikuti tren, tetapi dari seberapa baik seseorang mengelola duit dan mengendalikan keinginannya sendiri.

Jika generasi muda terus terjebak dalam budaya konsumtif tanpa pengelolaan finansial nan baik, akibat krisis finansial bakal semakin besar di masa depan.

Krisis Finansial Generasi Muda Bukan Sekadar Ancaman

Ilustrasi utang. Foto: Shutterstock

Krisis finansial tidak selalu dimulai dari utang besar alias kebangkrutan. Terkadang semuanya dimulai dari kebiasaan mini nan terus dianggap normal setiap hari.

Mulai dari membeli sesuatu demi pengesahan sosial, terlalu sering menggunakan paylater, hingga merasa duit bakal selalu bisa dicari nanti. Jika kebiasaan tersebut terus dilakukan tanpa kontrol, masalah finansial perlahan bakal menjadi bagian dari kehidupan generasi muda.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa nan paling terlihat sukses di media sosial, melainkan tentang siapa nan betul-betul bisa menjaga kestabilan hidupnya di bumi nyata.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan