Paus Leo XIV(AFP/Alberto PIZZOLI)
PEMIMPIN tertinggi Gereja Katolik, Paus Leo XIV, melontarkan kritik tajam terhadap eskalasi retorika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump nan menakut-nakuti bakal menghancurkan Iran. Paus menegaskan bahwa ancaman tersebut tidak hanya melanggar norma internasional, tetapi juga merupakan pelanggaran moral nan serius.
"Hari ini, seperti nan kita semua ketahui, ada ancaman terhadap seluruh rakyat Iran. Dan ini betul-betul tidak dapat diterima!" tegas Paus Leo XIV kepada awak media di luar Roma, Selasa (7/4), sebagaimana dirilis oleh Takhta Suci.
Paus asal AS tersebut menyoroti bahwa bentrok nan terus membara di Timur Tengah tidak bakal memberikan solusi jangka panjang. Sebaliknya, peperangan hanya bakal memicu krisis ekonomi dan daya dunia nan berakibat luas bagi masyarakat dunia.
Dimensi Moral dan Kemanusiaan
Dalam pernyataannya, Paus Leo XIV menekankan bahwa rumor ini melampaui sekadar perdebatan politik. Ia mengingatkan bumi bakal nasib penduduk sipil nan paling rentan jika ancaman militer tersebut betul-betul direalisasikan.
"Tentu ada masalah norma internasional di sini, tetapi lebih dari itu, ini adalah pertanyaan moral nan menyangkut kebaikan rakyat secara keseluruhan," ujarnya.
Ia secara unik meminta semua pihak mengingat nasib anak-anak, orang tua, dan orang sakit nan selalu menjadi korban utama dalam setiap peperangan.
Paus juga memperingatkan bahwa serangan nan menargetkan prasarana sipil adalah corak pelanggaran norma internasional nan nyata.
"Itu juga merupakan tanda kebencian, perpecahan, dan kehancuran nan bisa dilakukan manusia," tambahnya sembari mendesak para pemimpin bumi untuk kembali ke meja perundingan.
Eskalasi Ketegangan AS-Iran
Ketegangan ini memuncak setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Teheran. Trump menakut-nakuti bakal menghancurkan "seluruh peradaban" Iran dan mengebom prasarana vital seperti pembangkit listrik serta jembatan jika Iran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, apalagi memperingatkan dengan bahasa nan lebih ekstrem, menyatakan bahwa Iran bisa "kembali ke Zaman Batu" jika kandas mencapai kesepakatan sesuai tenggat waktu nan ditentukan.
Berikut adalah ringkasan poin-poin ketegangan dan ultimatum nan terjadi:
| Pemicu Awal | Serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. |
| Tenggat Waktu (Deadline) | Selasa, pukul 20.00 EDT alias Rabu, pukul 07.00 WIB. |
| Ancaman AS | Pengeboman pembangkit listrik, jembatan, dan penghancuran peradaban. |
| Tuntutan AS | Pembukaan Selat Hormuz dan kesepakatan baru (perubahan kekuasaan). |
| Dampak Global | Krisis ekonomi, krisis energi, dan ancaman terhadap norma internasional. |
Konflik ini awalnya dipicu oleh klaim AS dan Israel mengenai ancaman program nuklir Iran. Namun, seiring berjalannya waktu, kedua negara tersebut secara terbuka menyatakan bahwa tujuan akhir dari tekanan militer ini adalah untuk mendorong perubahan kekuasaan di Teheran. Hingga saat ini, situasi di Timur Tengah tetap berada dalam status siaga tinggi menunggu respons final dari pihak Iran. (Ant/Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·