Pasar Asemka Saksi Mata Warga RI Mengais Rezeki-Awalnya dari Bulu Mata

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - TikTok awalnya hanya menjadi tempat Amira mencari bulu mata untuk kebutuhan pernikahan kakaknya. Namun, pencarian sederhana di media sosial itu justru membawanya ke Pusat Grosir Asemka, Jakarta Barat, dan berujung menjadi pintu masuk bagi upaya barunya.

Amira mengaku pertama kali mengetahui Asemka dari TikTok. Saat itu, sekitar tiga bulan lalu, dia datang untuk mencari bulu mata. Alih-alih hanya membeli untuk keperluan pribadi, dia menemukan supplier nan dinilai cocok untuk dijadikan sumber peralatan dagangan.

"Ya saya tau awalnya dari TikTok, terus 3 bulan lampau itu mau nyari bulu mata buat nikahan kakak saya, eh rupanya saya malah dapat supplier nan oke, sekalian saja saya survei-survei, sampai sekarang saya sudah jualan bulu mata," kata Amira saat ditemui di lokasi, Selasa (8/9/2026).

Sejak saat itu, Asemka bukan lagi sekadar tempat shopping aksesori bagi Amira. Pasar grosir tersebut menjadi tempatnya mengambil stok sebelum produk dipasarkan kembali secara online.

Amira mengatakan, nilai bulu mata nan didapatkannya di Asemka berkisar Rp67.000 hingga Rp120.000 per lusin. Barang tersebut kemudian dikemas dan dijual kembali dengan mereknya sendiri.

"Lumayan ya omzetnya, saya modal beli di sini itu kayak Rp67.000-Rp120.000 selusin, itu saya bisa jual lagi per pack nya jadi Rp25.000. Lumayan banget. Saya tinggal rebranding dikit, tapi sudah oke penjualan," ujarnya.

Cerita Amira menggambarkan perubahan peran Asemka di tengah masifnya perdagangan digital. Jika sebelumnya pembeli datang ke pasar untuk mencari barang, sekarang sebagian orang justru mengenal Asemka lebih dulu dari media sosial sebelum datang untuk mencari supplier.

Dulu Andalkan Pembeli Fisik

Perubahan itu terasa cukup besar bagi para pedagang Asemka. Beberapa tahun lalu, aktivitas perdagangan di area tersebut tetap sangat mengandalkan pembeli nan datang langsung ke toko.

Namun, perkembangan e-commerce dan media sosial sempat membikin kondisi pasar grosir tersebut tertekan.

Pada September 2023, pedagang Asemka sempat mengeluhkan anjloknya jumlah pembeli setelah maraknya penjualan online, termasuk melalui TikTok Shop, semakin masif. Salah satu pedagang kosmetik apalagi mengaku omzetnya turun hingga 70%.

Kini, kondisi tersebut mulai berbalik. Media sosial nan sebelumnya dianggap sebagai ancaman justru menjadi salah satu sumber kehadiran pembeli baru.

Salah satu pedagang Asemka, Nina, mengatakan perubahan itu mulai terasa sekitar setahun terakhir. Menurut dia, konten-konten Gen Z di TikTok mengenai produk nan dijual di Asemka ikut membikin area tersebut kembali ramai.

"Iya dulu sempat kan kita sepi, sampai ngadu ke Pak Zulhas ya dulu (Menteri Perdagangan) nya. Sekarang mulai ramai lagi sekitar setahun ini, pas banyak konten-konten di TikTok," kata Nina.

Menurut Nina, orang nan datang sekarang tidak hanya membeli untuk konsumsi pribadi. Banyak pula nan mencari peralatan untuk dijual kembali secara online.

"Banyak Gen Z datang nyari peralatan nan viral. Jepitan bintang nan kayak Naykilla (penyanyi), itu paling banyak dicari sekarang," ujarnya.

Tempat Korban PHK Mengais Rezeki-Mengubah Nasib

Fenomena tersebut terlihat dari peralatan nan memenuhi toko-toko di Asemka. Selain aksesori dan mainan nan sudah lama menjadi produk utama, pedagang sekarang juga menyediakan beragam peralatan nan mengikuti tren media sosial, mulai dari slime, squishy, gantungan karakter, blind box hingga aksesori rambut.

Perubahan serupa juga dialami Teni, reseller slime dan squishy. Ia sebenarnya sudah mengenal Asemka sejak mini dari orang tuanya, tetapi baru kembali mencari peralatan di area tersebut sekitar dua bulan lampau setelah terkena PHK.

"Tapi baru ya coba cari peralatan ke sini 2 bulanan lampau ya, pas lenyap kena PHK, itu muter otak, gimana caranya saya bisa bangun upaya tapi modal kecil," ujar Teni.

Dengan modal sekitar Rp500.000, Teni mengambil dua lusin slime untuk dijual kembali. Produk tersebut rupanya kembali diminati setelah ramai di media sosial.

"Kayaknya waktu itu saya modal Rp500.000, modal ambil 2 lusin slime, nggak nyangka laku, lantaran rupanya hype lagi si slime itu," katanya.

Dalam dua bulan, omzetnya sudah mencapai jutaan rupiah. Ia pun rutin kembali ke Asemka untuk mencari produk nan sedang tren.

"Yah 2 bulan ini ya sudah jutaan, saya seminggu bisa dua kali ke sini buat ngecek barang," ujar Teni.

Kondisi ini menunjukkan posisi Asemka sekarang tidak lagi semata-mata sebagai pasar bentuk nan berhadapan dengan perdagangan online. Pasar grosir tersebut justru mulai menjadi etalase offline bagi tren nan lahir di bumi digital.

Konten viral di TikTok menarik orang datang ke Asemka. Di sisi lain, peralatan nan ditemukan di Asemka kembali dipasarkan melalui TikTok, marketplace, maupun media sosial lainnya.

Dengan pola tersebut, platform digital nan sempat dikhawatirkan bakal mematikan pasar bentuk justru sekarang ikut membawa calon reseller dan kesempatan upaya ke Asemka.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News