Proyek bangunan MRT Jakarta Fase 2A rute Bundaran HI-Kota terus berjalan, termasuk paket perjanjian CP 202 nan mencakup pembangunan ekosistem di sekitar Stasiun Harmoni, Sawah Besar, dan Mangga Besar. Paket tersebut telah dikerjakan sejak 2022.
Dalam pengerjaannya, proyek CP 202 menghadapi sejumlah tantangan di lapangan. Salah satunya penemuan cerucuk alias struktur kayu penyusun tanggul nan diperkirakan merupakan peninggalan abad ke-17.
Department Head Deputy Project Management 1 MRT Jakarta David Anggiat Siahaan menjelaskan posisi cerucuk nan ditemukan beririsan dengan struktur permanen stasiun MRT.
“Kita kudu membikin koridor, kita menyebutnya panel penyeberangan orang nan berfaedah untuk menyeberangkan dari sisi Gadjah Mada dan juga sisi Hayam Wuruk sebagai akses masuk ke dalam stasiun,” kata David.
Proses pengangkatan dan perawatan cerucuk dilakukan dengan berkoordinasi dengan arkeolog dan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan proses penanganan sesuai dengan ketentuan nan berlaku.
Cerucuk diangkat menggunakan perangkat berat secara hati-hati. Setelah itu, barang tersebut dicuci dengan air mengalir tanpa menggunakan sabun.
“Yang krusial air mengalir sih, kita sikat bersih, lenyap itu ada perendaman, lampau ada pembungkusannya,” jelas David saat ditemui di Transport Hub, Jakarta Pusat, belum lama ini.
Setelah diangkat, cerucuk diserahterimakan kepada Dinas Kebudayaan DKI Jakarta untuk disimpan. Katanya, langkah tersebut dilakukan sebagai komitmen MRT Jakarta dalam menaati patokan perundang-undangan di Indonesia, di mana disebutkan bahwa pihak mana pun nan menemukan objek diduga cagar budaya, wajib melapor ke dinas terkait.
Selain cerucuk, David mengungkap ada beberapa temuan barang berhistoris lainnya selama proyek bangunan MRT berlangsung, khususnya di paket CP 202. Penemuan-penemuan itu antara lain berupa rel tram dan tembok bata jejak struktur jembatan era dahulu.
Temuan Bersejarah Bisa Dipajang di Museum
Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta, Samuel Ryan Pradipta Pranowo, mengakui bahwa peninggalan sejarah tahun 1800-an tetap bisa tergali di proyek MRT Jakarta. Itu jadi pertimbangan rencana penataan ruang dan upaya MRT Jakarta ke depannya.
Ia menyebut bahwa pengembangan tata ruang dan upaya MRT Fase 2A, khususnya area Kota Tua, bakal bertemakan tentang sejarah, namun tetap modern.
Samuel juga mengungkap bahwa temuan-temuan berhistoris itu bisa masuk ke museum sekitar stasiun MRT, baik museum eksisting maupun museum nan bakal dikembangkan di kemudian hari.
“Selain kita kerjasamakan dengan Disbud, itu kan peninggalan sejarah direstorasi lagi ya, dan sekarang dimasukkan ke beberapa museum. Untuk pengembangan placemaking ke depannya ada satu nan bakal masuk ialah museum. Misalkan kelak di Jakarta ada museum lilin, bisa aja tuh ada museumnya kombinasinya mix antara nan historical maupun nan modern,” kata Samuel di Wisma Nusantara pada Rabu (9/9).
Samuel mengatakan penerapan rencana tersebut dapat dilakukan melalui kerjasama dengan beragam pihak, mulai dari dinas terkait, swasta, hingga pengelola museum.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·