Jakarta, CNBC Indonesia - Pemandangan di Pusat Grosir Asemka, Jakarta Barat, sekarang terlihat berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Lorong-lorong pertokoan kembali dipenuhi pembeli nan berburu aksesori, mainan, hingga barang-barang nan sedang viral di media sosial.
Pasar Asemka kini ramai diserbu para reseller online. Banyak Generasi Z alias Gen Z membikin konten di media sosial mengenai produk-produk nan dijual di Asemka.
TikTok dan media sosial nan dulu dianggap sebagai ancaman justru menjadi salah satu pintu masuk pembeli baru ke Asemka. Mereka datang bukan hanya untuk mencari peralatan kebutuhan pribadi, tetapi juga untuk menemukan produk nan bisa dijual kembali secara online.
Kini Pasar Asemka menjadi salah satu tempat berburu peralatan dagangan dengan nilai grosir. Sejumlah pedagang menyebut ada beberapa produk nan saat ini banyak dicari pembeli umum hingga reseller online, mulai dari slime, squishy, aksesori rambut, hingga gantungan kunci.
Pantauan CNBC Indonesia di Asemka menunjukkan sejumlah toko dipenuhi beragam peralatan nan tengah tren alias viral di media sosial (medsos), nan bisa dijual kembali. Produk-produk itu terlihat mendominasi sejumlah etalase, lantaran permintaannya relatif sigap mengikuti tren.
Salah satu pedagang mengatakan slime, gantungan kunci, gelang, hingga aksesori menjadi produk nan banyak dicari saat ini.
"Sekarang nan lagi banyak dicari itu ada slime, squishy, gantungan boneka, aksesori lucu-lucu," ujar Manto, salah seorang pedagang di Pusat Grosir Asemka, saat ditemui di lokasi, Selasa (8/9/2026).
Kondisi Pasar Asemka Jakarta Jelang Pergantian Tahun 2026. (CNBC Indonesia/Chandra Dwri Pranata) Foto: Kondisi Pasar Asemka Jakarta Jelang Pergantian Tahun 2026. (CNBC Indonesia/Chandra Dwri Pranata)
Untuk produk squishy, misalnya, Manto menjual butter squishy sekitar Rp50.000 per buah. Namun, pembelian satu kotak berisi 12 buah bisa mendapatkan nilai sekitar Rp45.000 per buah alias Rp540.000 per kotak.
Sementara itu, aksesori rambut juga menjadi salah satu peralatan nan banyak diburu. Pedagang lainnya, Nina, apalagi menyebut jepit rambut berbentuk bintang sempat lenyap lantaran tingginya permintaan.
"Banyak Gen Z datang nyari peralatan nan viral. Jepitan bintang nan kayak Naykilla (penyanyi), itu paling banyak dicari sekarang," ungkap Nina.
Harga grosir nan relatif terjangkau membikin produk-produk tersebut menjadi pilihan bagi calon reseller nan mau mencoba berdagang dengan modal terbatas.
Modal Rp500 Ribu Jadi Untung Jutaan
Peluang tersebut dirasakan langsung Teni, reseller squishy dan slime. Ia mulai berdagang sekitar dua bulan lampau setelah terkena PHK.
Dengan modal awal Rp500 ribu, Teni mengambil dua lusin slime untuk dicoba jual kembali. Tak disangka, produk tersebut laku lantaran kembali ramai alias hype.
"Kayaknya waktu itu saya modal Rp500 ribu, modal ambil dua lusin slime, nggak nyangka laku, lantaran rupanya hype lagi si slime itu," kata Teni.
Penjualan nan melangkah baik membikin Teni terus mengambil stok. Dalam dua bulan, dia memperkirakan omzetnya sudah mencapai jutaan.
"Yah 2 bulan ini ya berfaedah omset saya adah lah udah jutaan ya, saya seminggu bisa dua kali ke sini buat ngecek barang," ujarnya.
Kini, Teni rutin datang ke Asemka untuk memandang peralatan baru. Jika sedang tidak sempat datang, dia memilih meminta peralatan dikirim oleh toko.
Selain squishy dan slime, Amira seorang reseller bulu mata palsu, juga memanfaatkan Asemka untuk mendapatkan peralatan dengan nilai grosir.
Ia awalnya mengetahui Asemka dari TikTok ketika mencari bulu mata untuk pernikahan kakaknya sekitar tiga bulan lalu. Dari kunjungan tersebut, dia justru menemukan supplier dan mulai berjualan.
"Ya saya tau awalnya dari TikTok, terus 3 bulan lampau itu mau nyari bulu mata buat nikahan kakak saya, eh rupanya saya malah dapat supplier nan oke, sekalian saja saya survey-survey sampai sekarang saya sudah jualan bulu mata," kata Amira.
Ia mengaku membeli bulu mata sekitar Rp67.000-Rp120.000 per lusin, kemudian menjualnya kembali dalam bungkusan per pack seharga Rp25.000.
"Lumayan banget. Saya tinggal rebranding dikit, tapi sudah oke penjualan," ujarnya.
Cerita Teni dan Amira menunjukkan bahwa untuk memulai bisnis, produk dengan nilai grosir tidak kudu selalu berupa peralatan mahal alias dalam jumlah besar.
Barang-barang mini nan tengah viral justru bisa menjadi pintu masuk bagi pelaku upaya bermodal terbatas. Tinggal gimana mencari produk nan sedang diburu, mendapatkan nilai kulakan nan tepat, lampau mengemas dan memasarkannya kembali.
(wur)
[Gambas:Video CNBC]
55 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·