Pasar Asemka Bangkit dari Kubur, Ramai-Ramai Diserbu Reseller Online

Sedang Trending 52 menit yang lalu
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemandangan di Pusat Grosir Asemka, Jakarta Barat, sekarang terlihat berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Lorong-lorong pertokoan kembali dipenuhi pembeli nan berburu aksesori, mainan, hingga barang-barang nan sedang viral di media sosial.

Padahal, beberapa tahun lalu, pedagang di area ini justru dibuat cemas oleh perkembangan perdagangan online.

Pada September 2023, pedagang Asemka apalagi sempat mengeluhkan sepinya pembeli setelah marak penjualan online, khususnya melalui TikTok, semakin masif. Saat itu, pedagang mengaku omzetnya turun hingga 70%. Para pedagang juga mengeluhkan nilai peralatan di platform online nan bisa lebih murah dibandingkan nilai grosir di pasar fisik.

Namun, kondisi tersebut perlahan berubah.

Kini, TikTok dan media sosial nan dulu dianggap sebagai ancaman justru menjadi salah satu pintu masuk pembeli baru ke Asemka. Mereka datang bukan hanya untuk mencari peralatan kebutuhan pribadi, tetapi juga untuk menemukan produk nan bisa dijual kembali secara online.

Salah satu pedagang, Nina, nan ditemui CNBC Indonesia mengatakan kondisi Asemka mulai kembali ramai sekitar setahun terakhir. Menurutnya, perubahan itu terasa setelah banyak Generasi Z alias Gen Z membikin konten di media sosial mengenai produk-produk nan dijual di Asemka.

Ia apalagi mengaku pernah memandang langsung gimana kondisi toko-toko di Asemka nan sebelumnya sunyi kemudian kembali dipadati pembeli.

"Iya dulu sempat kan kita sepi, sampai ngadu ke Pak Zulhas ya dulu (Menteri Perdagangan) nya. Sekarang mulai ramai lagi sekitar setahun ini, pas banyak konten-konten di TikTok," kata Nina saat ditemui CNBC Indonesia di Pusat Grosir Asemka, Jakarta Barat, Selasa (8/9/2026).

Menurut dia, media sosial ikut mendorong orang datang langsung ke Asemka untuk mencari peralatan nan sedang tren. Produk nan viral di media sosial kemudian membikin calon reseller datang untuk memandang peralatan secara langsung dan mencari nilai grosir.

Fenomena itu terlihat saat CNBC Indonesia menyusuri sejumlah toko di Asemka. Barang-barang nan dipajang tidak hanya berupa aksesori konvensional, tetapi juga produk nan mengikuti tren media sosial, seperti slime, squishy, gantungan karakter, blind box, hingga beragam aksesori rambut.

Salah satu pedagang apalagi menyebut ada peralatan tertentu nan permintaannya melonjak setelah ramai di media sosial.

"Banyak Gen Z datang nyari peralatan nan viral. Jepitan bintang nan kayak Naykilla (penyanyi), itu paling banyak dicari sekarang," ujarnya.

Medsos Jadi Jalan Menemukan Supplier

Perubahan pola tersebut juga terlihat dari cerita para visitor Asemka. Amira, salah satu reseller bulu mata palsu, mengaku awalnya tidak datang ke Asemka untuk membuka bisnis. Ia justru mengetahui letak tersebut dari TikTok ketika sedang mencari bulu mata untuk keperluan pernikahan kakaknya.

"Ya saya tau awalnya dari TikTok, terus 3 bulan lampau itu mau nyari bulu mata buat nikahan kakak saya, eh rupanya saya malah dapat supplier nan oke, sekalian saja saya survey-survey, sampai sekarang saya sudah jualan bulu mata," kata Amira.

Setelah menemukan supplier nan cocok, Amira kemudian mulai mengambil peralatan dari Asemka untuk dijual kembali. Ia menyebut modal pembelian bulu mata di sana berada di kisaran Rp67.000-Rp120.000 per lusin.

"Lumayan ya omzetnya, saya modal beli di sini itu kayak Rp67.000-Rp120.000 selusin, itu saya bisa jual lagi per pack nya jadi Rp25.000. Lumayan banget. Saya tinggal rebranding dikit, tapi sudah oke penjualan," ujarnya.

Cerita Amira menunjukkan perubahan kegunaan media sosial bagi pasar grosir seperti Asemka. TikTok tidak lagi dipandang sebagai pembunuh para pedagang di Pusat Grosir Asemka, sekarang media sosial itu menjadi sarana bagi calon pelaku upaya untuk menemukan tempat mengambil barang.

Bagi Amira, satu video alias info di TikTok akhirnya membawanya ke Asemka, menemukan supplier, lampau memulai upaya sendiri.

Pusat Grosir Asemka sekarang jadi 'Dapur' Bisnis Reseller, Jakarta, Selasa (8/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)Pusat Grosir Asemka sekarang jadi 'Dapur' Bisnis Reseller, Jakarta, Selasa (8/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Pusat Grosir Asemka sekarang jadi 'Dapur' Bisnis Reseller, Jakarta, Selasa (8/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Pengalaman serupa dialami Teni, reseller squishy dan slime. Berbeda dengan Amira, Teni sebenarnya sudah mengenal Asemka sejak kecil, dari cerita orang tuanya nan kerap berbelanja peralatan grosiran di area tersebut.

Namun, dia baru coba mendatangi Asemka sekitar dua bulan lalu, setelah terkena PHK dan kudu mencari sumber penghasilan baru.

"Tapi baru ya coba cari peralatan ke sini 2 bulanan lampau ya, pas lenyap kena PHK, itu muter otak, gimana caranya saya bisa bangun upaya tapi modal kecil," ujar Teni.

Dengan modal awal sekitar Rp500.000, dia kemudian mencoba mengambil dua lusin slime untuk dijual kembali. Di luar dugaan, peralatan tersebut justru laku lantaran slime kembali ramai diminati.

"Kayaknya waktu itu saya modal Rp500.000, modal ambil 2 lusin slime, nggak nyangka laku, lantaran rupanya hype lagi si slime itu," katanya.

Dalam waktu sekitar dua bulan, Teni mengaku omzet bisnisnya sudah mencapai jutaan. Ia apalagi bisa datang ke Asemka hingga dua kali dalam sepekan untuk mengecek barang-barang baru.

"Yah 2 bulan ini ya sudah jutaan, saya seminggu bisa dua kali ke sini buat ngecek barang," ujar Teni.

Dulu Jadi Ancaman, Kini Jadi Etalase

Perubahan tersebut membikin posisi Asemka terhadap perdagangan digital menjadi menarik. Pada 2023, pedagang mengeluhkan sepinya pembeli akibat maraknya live shopping melalui platform seperti TikTok. Pemerintah apalagi turun langsung ke Asemka setelah menerima keluhan pedagang mengenai akibat perdagangan online terhadap pasar fisik.

Kini, situasinya seperti berbalik. Media sosial memang tetap menjadi tempat transaksi dan promosi bagi banyak penjual online. Namun, bagi sebagian pelaku upaya kecil, platform tersebut justru menjadi etalase untuk mencari produk, sementara Asemka menjadi tempat untuk mendapatkan peralatan dengan nilai grosir.

Pola itu terlihat dari aktivitas reseller nan datang ke Asemka. Mereka mencari peralatan nan sedang tren, membandingkan nilai antar toko, mengambil stok dalam jumlah tertentu, lampau memasarkannya kembali melalui media sosial dan marketplace.

Dari nan sebelumnya merasa digempur perdagangan online, khususnya TikTok Shop, pedagang Asemka sekarang justru ikut menikmati pengaruh dari tren nan lahir di platform tersebut.

(wur) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News