Partisipasi Perempuan di Sektor STEM Rendah, Lestari Moerdijat: Hambat Daya Saing Bangsa

Sedang Trending 3 jam yang lalu
 Hambat Daya Saing Bangsa Ilustrasi(Antara)

WAKIL Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan bahwa rendahnya partisipasi perempuan di industri teknologi Indonesia merupakan halangan serius bagi daya saing dan penemuan bangsa. Kesenjangan kelamin di sektor Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dinilai bukan sekadar persoalan keadilan, melainkan kepentingan strategis nasional nan memerlukan penanganan sistematis.

Berdasarkan info nan terungkap dalam Indonesia Chief Information Officer (CIO) 200 Summit 2026 di Jakarta, Rabu (3/6), partisipasi wanita di industri teknologi nasional tetap berada di bawah 20%. Bahkan, keterwakilan wanita pada posisi ketua tertinggi hanya menyentuh nomor sekitar 8%.

Angka tersebut menunjukkan ketertinggalan signifikan dibandingkan negara tetangga di Asia Tenggara. Sebagai perbandingan, partisipasi wanita di sektor teknologi Thailand telah mencapai 42%, sementara Singapura berada di nomor 41%.

"Kesenjangan kelamin di sektor STEM bukan semata persoalan keadilan, melainkan kepentingan strategis nasional nan memerlukan penanganan sistematis," ujar Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Senin (8/6).

Lestari, nan berkawan disapa Rerie, juga merujuk pada info International Labour Organization (ILO) 2024. Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun wanita mencakup 35% dari lulusan STEM di Indonesia, hanya sekitar 8% nan betul-betul berkarier di sektor tersebut. Hal ini mengindikasikan adanya halangan besar bagi lulusan wanita untuk melanjutkan pekerjaan di bagian sains dan teknologi.

Menurut Rerie, persoalan utama bukan terletak pada keahlian akademik. Ia menilai halangan sosial dan stereotip kelamin sejak usia awal menjadi aspek utama nan membatasi partisipasi perempuan. Ekspektasi sosial seringkali membikin anak wanita kurang percaya diri terhadap bagian sains dan teknologi.

Untuk mengatasi perihal tersebut, Legislator dari Dapil II Jawa Tengah ini mendorong penguatan sistem pendidikan, mulai dari lingkungan family hingga kebijakan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Ia menekankan pentingnya sekolah dan perguruan tinggi dalam menciptakan lingkungan belajar nan inklusif.

"Dengan membuka akses nan lebih luas bagi wanita di bagian STEM, Indonesia tidak hanya mewujudkan keadilan gender, tetapi juga memperkuat fondasi pembangunan sumber daya manusia nan inovatif dan berkekuatan saing," pungkas Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem tersebut.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia