Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)
PIALA Dunia biasanya datang seperti Lebaran. Ia bukan sekadar pertandingan sepak bola. Ia peristiwa kemanusiaan. Orang-orang nan selama empat tahun menunggu akhirnya menemukan argumen untuk berkumpul. Di warung kopi, di ruang keluarga, di perspektif kota, apalagi di negeri-negeri nan tak pernah sekali pun lolos ke putaran final. Sepak bola, pada saat-saat seperti itu, mengalahkan paspor, bahasa, dan warna kulit.
Anak mini di Jakarta bisa menangis lantaran Argentina kalah. Buruh di Meksiko bisa melonjak kegirangan ketika Jepang menang. Seorang nelayan di Senegal bisa merasa dekat dengan seorang mahasiswa di Jerman hanya lantaran keduanya mengagumi gol nan sama. Piala Dunia adalah hari raya bagi bumi nan sering kali terlalu sibuk bertengkar.
Karena itu, setiap jenis Piala Dunia selalu membawa harapan. Harapan untuk memandang keajaiban nan baru lahir dan legenda nan menolak tua.
Bulan ini, miliaran mata menunggu sihir kaki muda seperti Lamine Yamal. Menanti kelincahan Michael Olise. Menunggu apakah Kylian Mbappe betul-betul mencapai takdirnya sebagai raja baru sepak bola dunia. Menunggu Vinicius Junior membuktikan dirinya di panggung terbesar.
Tentu saja, seperti juga anak-anak nan enggan melepas dongeng sebelum tidur, bumi tetap mau memandang sekali lagi dua nama nan telah menemani zaman: Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.
Namun, menjelang Piala Dunia 2026, ada sesuatu nan terasa ganjil. Pesta belum dimulai, tetapi ketakutan sudah lebih dulu datang.
Biasanya, tuan rumah membuka pintu selebar-lebarnya. Mereka menyambut tamu dengan senyum. Mereka membikin orang merasa diterima karena menjadi tuan rumah bukan hanya soal menyediakan stadion. Menjadi tuan rumah berfaedah menyediakan hati. Di situlah keganjilan itu muncul.
Salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026, ialah Amerika Serikat, justru memberikan kesan sebaliknya. Alih-alih menghadirkan rasa aman, nan muncul adalah kecemasan. Alih-alih keramahtamahan, nan terasa adalah kecurigaan.
Kita mendengar kisah delegasi Iran nan mengalami kesulitan visa sehingga memilih bermarkas di Meksiko. Kita mendengar pemain Irak nan kudu menjalani interogasi panjang di perbatasan. Kita membaca cerita suporter nan kandas datang lantaran izin masuk dibatalkan. Bahkan ada wasit nan kehilangan kesempatan memimpin pertandingan lantaran tertahan oleh tembok manajemen nan tak kasatmata.
Tembok itu tidak terbuat dari beton. Ia terbuat dari rasa takut. Rasa takut selalu punya kebiasaan nan sama: mempersempit ruang bagi orang lain.
Paranoia adalah ironi terbesar dalam bumi modern. Semakin suatu bangsa merasa kuat, kadang justru semakin banyak perihal nan ditakuti mereka. Semakin tinggi pagar dibangun, semakin dalam pula kekhawatiran berlindung di belakangnya. Padahal, sepak bola lahir dari hatikecil nan berlawanan. Sepak bola mengajarkan keterbukaan.
Bola tidak pernah bertanya dari mana seseorang berasal sebelum dia menggelinding ke kakinya. Gol tidak pernah memeriksa kebangsaan sebelum dia disambut sorak-sorai. Stadion tidak dibangun untuk memisahkan manusia, tetapi untuk mempertemukan mereka. Karena itu, setiap Piala Dunia sesungguhnya adalah pelajaran sederhana tentang kemanusiaan.
Di sana kita belajar bahwa orang nan berbeda bisa berteriak-teriak dalam ruang nan sama, bahwa persaingan tidak kudu berubah menjadi permusuhan, bahwa identitas nasional bisa dirayakan tanpa kudu membenci bangsa lain. Piala Dunia adalah pagelaran perjumpaan dan perjumpaan selalu memerlukan keberanian.
Keberanian untuk membuka pintu. Keberanian untuk menerima orang asing. Keberanian untuk percaya bahwa tidak semua nan datang membawa ancaman. Mungkin itulah nan sedang diuji Piala Dunia 2026.
Bukan hanya kesiapan stadion-stadion megah di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Bukan pula kesiapan format baru dengan 48 peserta. nan sedang diuji adalah sesuatu nan lebih mendasar, ialah apakah bumi tetap percaya pada makna perjumpaan.
Tanpa itu, sepak bola kehilangan rohnya. Pertandingan tetap berlangsung. Lagu kebangsaan tetap berkumandang. Kamera televisi tetap menyorot tribune nan penuh warna. Namun, ada sesuatu nan agak hilang.
Hari raya tetap berlangsung, tetapi tamu-tamu datang dengan rasa waswas. Namun, hari raya nan dipenuhi rasa takut bukan lagi perayaan. Ia hanya keramaian nan seperti kehilangan kegembiraan. Ia hanya pesta nan seolah lupa kenapa pesta itu diselenggarakan.
Bukankah sejak awal sepak bola mengajarkan satu perihal nan sederhana? Bahwa bumi memang berbeda-beda, tetapi bola nan sama tetap bisa kita kejar bersama. Walau ada cacat, tetap saya ucapkan selamat. Selamat menikmati panggung Piala Dunia.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·