Panas Perang 2 Negara Muslim, Kampus Kena Bombardir-Korban Berjatuhan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara Afghanistan dan Pakistan kembali memuncak setelah serangan mortir dan rudal menghantam wilayah sipil di provinsi perbatasan Kunar. Insiden nan terjadi pada Senin itu menewaskan sedikitnya tujuh orang dan melukai lebih dari 80 lainnya, termasuk mahasiswa dan tenaga pengajar, serta menakut-nakuti gencatan senjata nan sudah rapuh.

Otoritas Taliban Afghanistan menyebut serangan menghantam kota Asadabad dan sejumlah distrik di sekitarnya, termasuk area kampus. Kementerian Pendidikan Tinggi Afghanistan melaporkan sekitar 30 mahasiswa dan pengajar terluka, sementara gedung Universitas Sayed Jamaluddin Afghani mengalami kerusakan signifikan.

Wakil ahli bicara Taliban, Hamdullah Fitrat, mengecam keras serangan tersebut.

"Ini adalah kejahatan perang nan tak termaafkan terhadap penduduk sipil dan lembaga pendidikan," ujarnya, seperti dikutip Al Jazeera, Rabu (29/4/2026).

Namun, Pakistan membantah tuduhan itu. Kementerian Informasi dan Penyiaran Pakistan menyebut klaim serangan terhadap universitas sebagai "kebohongan terang-terangan".

"Tidak ada serangan terhadap universitas. Target kami jeli dan berbasis intelijen," demikian pernyataan resmi kementerian tersebut, meski tidak secara tegas menampik adanya serangan di wilayah Afghanistan.

Di tengah saling bantah, pejabat dari kedua negara mengakui terjadi baku tembak di sepanjang perbatasan, meskipun secara resmi tetap mematuhi gencatan senjata. Situasi ini memicu kekhawatiran bahwa bentrok terbuka bisa kembali pecah.

Ketegangan ini muncul hanya beberapa hari setelah perundingan tenteram di Urumqi, China, nan sebelumnya disebut "positif" oleh Menteri Luar Negeri Afghanistan, Amir Khan Muttaqi. Namun, pertemuan itu berhujung tanpa kesepakatan konkret.

Analis politik dan keamanan asal Peshawar, Mehmood Jan Babar, menilai kesempatan tenteram tetap tipis tanpa komitmen tertulis.

"Sampai Afghanistan memberikan komitmen tertulis, tidak ada janji lisan nan bakal dipercaya," katanya.

Sementara itu, analis keamanan berbasis di Kabul, Tameem Bahiss, menilai kebuntuan dipicu perbedaan mendasar kedua negara.

"Negosiasi tidak menghasilkan penyelesaian jelas. Kedua pihak apalagi tidak sepakat soal akar masalah," ujarnya.

Konflik ini berakar pada tuduhan Pakistan bahwa Afghanistan melindungi Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), golongan militan nan aktif melancarkan serangan di wilayah Pakistan. Kabul membantah tudingan tersebut dan menilai Islamabad menggunakan rumor keamanan sebagai dalih intervensi.

Upaya mediasi dari beragam negara seperti China, Qatar, Arab Saudi, dan Turki sejauh ini belum bisa meredakan bentrok secara permanen. Sejumlah gencatan senjata sebelumnya apalagi runtuh hanya dalam waktu singkat.

Bahiss menegaskan, tanpa sistem verifikasi nan jelas, kesepakatan apa pun bakal susah bertahan. "Tanpa kepercayaan dan sistem pengawasan nan kredibel, perjanjian apa pun bakal tetap rapuh," katanya.

(tfa/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News