Panas! AS Rudal Pulau Radar Iran-Trump Ungkap 'Sisa Kekuatan' Teheran

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasukan militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara nan menghantam sejumlah situs radar pantai milik Iran. Langkah garang ini diambil setelah mereka sukses menembak jatuh beberapa drone milik Iran nan mengarah menuju area Selat Hormuz.

Mengutip laporan resmi Reuters, Sabtu, (06/06/2026), pihak militer Amerika Serikat meyakini, empat drone tersebut sengaja diluncurkan untuk menargetkan lampau lintas maritim regional. Komando Sentral Amerika Serikat kemudian langsung menyerang situs pengawasan Iran di Goruk dan Pulau Qeshm 

Saat ini, pihak Amerika Serikat dan Iran tengah terlibat dalam proses negosiasi tidak langsung untuk mengamankan kesepakatan sementara. Perundingan ini bermaksud menghentikan perang nan telah berkecamuk selama tiga bulan terakhir.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Teheran menuntut akses pendapatan minyak senilai miliaran dolar dan penghapusan hukuman ekspor minyak mentah. Mereka juga meminta pencabutan blokade pelabuhan serta kendali atas Selat Hormuz nan menjadi jalur seperlima pasokan minyak bumi sebelum perang.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sekarang menghadapi tekanan politik domestik nan kian meningkat akibat lonjakan nilai bahan bakar gas. Meski sebagian besar akomodasi manufaktur drone musuh telah hancur, Trump menyebut Iran tetap mempunyai sekitar seperlima pasokan rudal mereka.

"Mereka mempunyai beberapa rudal, mereka mempunyai some drone. Saya bakal mengatakan secara persentase, mungkin 21%-22% dari rudal mereka. Itu adalah rudal nan banyak, tetapi itu tidak seperti sebelum saat kita pertama kali menyerang," ujar Trump sebagaimana mengutip petikan wawancara program Meet the Press di saluran NBC News nan dirilis pada hari Jumat.

Ketika ditanya kenapa para pemimpin Iran tidak segera menyepakati perjanjian tenteram saat kondisi negaranya digambarkan putus asa, dia memberikan pandangan tersendiri mengenai karakter lawannya.

"Karena mereka kuat. Mereka bangga. Ada hal-hal nan mereka tidak pernah berpikir bakal mereka lakukan, nan akhirnya kudu mereka lakukan, mereka tidak punya pilihan, dan itu memerlukan sedikit waktu," kata Trump menambahkan.

Ketegangan bersenjata skala besar ini awalnya dipicu oleh serangan pembuka nan diluncurkan oleh militer Israel berbareng Amerika Serikat ke wilayah Iran pada akhir Februari lalu. Konflik ini kemudian memicu respons militer berantai di seluruh area Timur Tengah.

Pertempuran sengit terus berkobar di beragam wilayah regional meskipun ada beberapa kesepakatan gencatan senjata nan sempat diatur. Di Lebanon, golongan bersenjata Hezbollah menyatakan pada Jumat bahwa mereka telah sukses melakukan dua serangan terhadap pasukan Israel di wilayah selatan.

Pemerintah Iran terus menegaskan kembali support penuh mereka terhadap pergerakan Hezbollah sembari menuntut penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan. Teheran menetapkan gencatan senjata tersebut sebagai syarat absolut sebelum adanya kesepakatan tenteram dengan Washington untuk menyelesaikan perang nan memasuki bulan keempat ini.

Putaran pertempuran terbaru antara Hezbollah dan Israel ini pertama kali meletus pada awal Maret lalu. Pihak Hezbollah menegaskan bahwa seluruh tindakan militer nan mereka lakukan merupakan corak solidaritas untuk mendukung Teheran.

Pemimpin Hezbollah Naim Qassem pada pekan ini secara resmi menolak draf pakta perdamaian nan dimediasi oleh Amerika Serikat. Penolakan terjadi lantaran draf tersebut tidak memuat poin penarikan mundur pasukan Israel dan Hezbollah tidak dilibatkan dalam negosiasi.

Hingga saat ini, Israel terpantau tetap mempertahankan intensitas serangan militer mereka di Lebanon selatan. Pihak Tel Aviv menyatakan tidak bakal menarik diri, nan akhirnya memicu gesekan diplomatik kian meningkat dengan Amerika Serikat.

Merespons situasi tersebut, Ketua Parlemen Lebanon nan juga sekutu dekat Hezbollah, Nabih Berri, memberikan pernyataan resmi pada Jumat mengenai syarat penarikan pasukan.

"Saya bakal menyetujui penarikan mundur golongan tersebut dari Lebanon selatan jika tentara Israel secara simultan juga meninggalkan wilayah nan mereka duduki di negara ini," ujar Berri.

Selain di Lebanon, masyarakat di jalur Gaza, wilayah Israel utara, hingga Kuwait dilaporkan turut berada di bawah garis api pertempuran pada pekan ini. Situasi mencekam tetap terjadi meski Trump menyebut gencatan senjata nan diatur Amerika Serikat hanya membikin pertempuran melangkah lebih moderat alih-alih berakhir total.

(tps/dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News