Pakar Respons Utang Pemerintah dengan MBG: Cara Berpikir Dangkal

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, 12 Mei 2026 - Pengamat ekonomi menilai dugaan nan mengaitkan kenaikan utang negara dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan langkah berpikir fiskal nan terlalu dangkal. Penilaian itu tidak memahami sistem pengelolaan APBN modern.

Hal ini setidaknya ditegaskan analis Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita. Menurutnya, dalam tata kelola anggaran negara modern, utang pemerintah tidak digunakan untuk membiayai satu program tertentu saja, melainkan menjadi bagian dari strategi pembiayaan negara secara keseluruhan.

"Dalam struktur APBN modern, utang negara tidak pernah berdiri untuk membiayai satu program tunggal, tetapi menjadi bagian dari keseluruhan strategi pembiayaan negara, mulai dari infrastruktur, pendidikan, kesehatan, subsidi energi, perlindungan sosial, hingga stabilisasi ekonomi," kata Ronny dalam keterangannya, Selasa (13/5/2026).

Sebelumnya, berasas info Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), utang pemerintah pusat tercatat sebesar Rp9.920,42 triliun hingga 31 Maret 2026. Angka ini setara dengan 40,75% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Dari komposisinya, utang tersebut terdiri atas Surat Berharga Negara sebesar Rp8.652,89 triliun alias 87,22% dan pinjaman sebesar Rp1.267,52 triliun alias 12,78%.

Realisasi utang, ujar Ronny, tidak dapat dikaitkan hanya dengan satu program. Secara teknokratis, struktur APBN Indonesia menggunakan sistem pooled financing, bukan project-based debt sebagaimana dipahami sebagian masyarakat, sehingga penyebutan bahwa utang naik akibat MBG merupakan penyederhanaan nan tidak presisi secara akademik.

"Kalau logika seperti itu dipakai, maka semua program negara, dari jalan tol sampai penghasilan ASN, bisa dituduh sebagai penyebab tunggal utang. Padahal, ekonomi negara bekerja jauh lebih kompleks daripada sekadar cocoklogi fiskal di media sosial," ujarnya.

Ronny juga menekankan bahwa investasi pada gizi anak merupakan salah satu corak shopping negara nan produktif. Khususnya dalam teori pembangunan modern.

Menurutnya, kualitas sumber daya manusia menjadi fondasi utama produktivitas jangka panjang suatu negara. Ia mengatakan, anak nan mengalami stunting, kekurangan protein, alias defisit nutrisi kronis berpotensi mempunyai kapabilitas kognitif dan produktivitas ekonomi nan lebih rendah saat dewasa.

"Negara bukan sedang menghabiskan duit untuk makan siang, tetapi melakukan investasi biologis dan intelektual terhadap generasi produktif 15 hingga 20 tahun mendatang," terangnya.

Ronny menambahkan, biaya terbesar bagi sebuah negara bukanlah memberi makan anak-anak, melainkan membiarkan satu generasi tumbuh dengan kualitas kesehatan dan kepintaran nan buruk. Sebab, dampaknya bakal jauh lebih mahal terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di masa depan.

Selain aspek gizi, dia menilai program MBG juga mempunyai multiplier effect terhadap sektor pertanian, peternakan, UMKM pangan, logistik daerah. Hingga pembuatan lapangan kerja lokal.

"Uang negara tidak hilang, melainkan berputar di ekonomi domestik. Dalam situasi dunia nan penuh ketidakpastian, instrumen fiskal seperti ini juga berfaedah menjaga konsumsi nasional dan memperkuat permintaan domestik (domestic demand)," imbuhnya.

Karena itu, Ronny menilai perdebatan publik semestinya difokuskan pada efektivitas penyelenggaraan program, bukan mempertanyakan keberadaannya.

"Perdebatan nan sehat semestinya bukan perlukah MBG, tetapi gimana memastikan program ini tepat sasaran, efisien, dan tidak bocor," pungkasnya

(sef/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News