Pakar Internasional Dorong Pemanfaatan AI dan Data Lokal untuk Lindungi Anak Usia Dini dari Krisis Iklim dan Ketimpangan Pendidikan

Sedang Trending 1 hari yang lalu
 Pakar Internasional Dorong Pemanfaatan AI dan Data Lokal untuk Lindungi Anak Usia Dini dari Krisis Iklim dan Ketimpangan Pendidikan Ilustrasi(MI/RIFALDI PUTRA IRIANTO)

PARA peneliti dan master perlindungan anak internasional mendorong integrasi kepintaran buatan (AI) hingga info lokal, guna mempercepat mitigasi musibah suasana serta mengatasi ketimpangan dalam membangun sistem pendidikan dan pengembangan anak usia awal nan tangguh,

Hal tersebut dikemukakan para master dalam obrolan panel konferensi  Asia-Pacific Regional Learning Form on Early Childhood Development nan berjalan di Jakarta pada Selasa (20/10). Panel tersebut menyoroti kerentanan dobel nan dihadapi anak-anak akibat musibah suasana ekstrem di Asia Selatan dan pergeseran demografi di Asia Timur.

Pakar dari Universitas Oxford,  Sara Khalid memaparkan bahwa pihaknya sekarang mengandalkan metode penginderaan jauh (Earth
observation) dan AI untuk mendeteksi ancaman pada tumbuh kembang anak secara near-real-time. Di Asia Selatan, sistem ini sukses merespons banjir bandang di Pakistan dan Nepal. 

"Dalam 24 jam pertama musibah banjir di Nepal, metode observasi bumi menunjukkan jumlah penduduk nan terisolasi mencapai dua kali lipat dari perkiraan awal, di mana seperempatnya merupakan anak-anak. Melalui dashboard pemetaan ini, kami dapat mengidentifikasi sekolah dan akomodasi medis nan terendam sehingga kreator kebijakan tahu persis ke mana support untuk anak kudu dikirimkan terlebih dahulu," ujar Sara.

Pada sesi nan sama, Pakar dari ChorogUdan for Children dari Korea, Kristy Bang, menyoroti pentingnya pembacaan info di tingkat mikro (kota/kabupaten). Pihaknya mengembangkan riset Child Growth Environment Index nan mencakup 229 wilayah pemerintah wilayah di Korea Selatan untuk mengukur aspek kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, dan keamanan lingkungan anak.

Hasil riset tersebut menemukan bahwa nomor rata-rata di level nasional alias provinsi di Korea Selatan kerap menyembunyikan kesenjangan tajam di tingkat akar rumput. Di Provinsi Gyeonggi, misalnya, ditemukan selisih indeks antardistrik hingga mencapai 27 poin.

”Sebanyak 11 parameter digunakan untuk menghitung skor gabungan, sedangkan parameter pengobatan depresi dilaporkan secara terpisah. Berbagai ukuran ini mencakup aspek lingkungan anak, mulai dari akses terhadap jasa hingga kesulitan belajar dan keamanan di lingkungan tempat tinggal,” jelas Kristy.

Riset ini juga membuktikan bahwa tingginya kapabilitas fiskal alias kekayaan suatu wilayah tidak otomatis berbanding lurus dengan lingkungan nan ramah anak. Sejumlah distrik dengan kemandirian fiskal rendah, seperti kabupaten Hwacheon dan Namhae-gun, justru mencatatkan skor indeks di atas rata-rata nasional berkah penemuan program organisasi dan sistem keselamatan anak nan efektif.

"Data ini menjadi perangkat diagnostik bagi pemerintah wilayah nan baru terpilih agar mereka tidak hanya memandang nomor agregat, tetapi mengalokasikan anggaran langsung pada kebutuhan nyata anak-anak di komunitasnya," tegas Kristiy

Diketahui, konferensi  Asia-Pacific Regional Learning Form on Early Childhood Development merupakan pertemuan regional nan berfokus pada dua rumor mendesak nan memengaruhi anak usia dini, ialah perubahan suasana dan keterbatasan pendanaan publik untuk pengembangan anak usia awal (Early Childhood Development/ECD).

Berlangsung di Jakarta pada 20–22 Oktober, forum nan diselenggarakan oleh Asia-Pacific Regional Network for Early Childhood (ARNEC) bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia dan sejumlah pihak lainnya, Digelar untuk mempertemukan para pemangku kepentingan utama dari seluruh area Asia-Pasifik dengan tema ‘From Knowledge to Collective Action: Strengthening Climate-Responsive and Well-Financed ECD Systems in Asia-Pacific’. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑