Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan bahwa proyek pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle) di Kerawang, Jawa Barat bakal tuntas pada akhir Juli 2026 ini. Proyek baterai EV
Sejatinya, Pabrik baterai terintegrasi ini digarap oleh PT Antam tbk (ANTM), konsorsium baterai BUMN Indonesia Battery Corporation (IBC), dan juga konsorsium perusahaan China CATL, Brunp, dan Lygend (CBL)
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut proyek itu merupakan salah satu program hilirisasi strategis nasional nan telah dicanangkan pemerintah. Hal itu dia sampaikan setelah melaporkan perkembangan terbaru mengenai program hilirisasi kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat di Istana.
"Ya tadi kami melakukan rapat dengan Bapak Presiden. nan pertama adalah untuk mengevaluasi daripada program hilirisasi. Karena beberapanya sudah jalan, kami juga melapor kepada Bapak Presiden bahwa program hilirisasi kita untuk ekosistem baterai mobil nan kerjasama antara CATL dan Antam itu sudah selesai dan Insya Allah bakal diresmikan kelak di bulan Juli akhir," ujar Bahlil di Istana, dikutip Selasa (23/6/2026).
Selain membahas perkembangan hilirisasi, Bahlil juga melaporkan kondisi ketahanan daya nasional kepada Presiden. Ia menyebut persediaan daya Indonesia saat ini berada pada level nan aman. "Yang kedua, kami juga melakukan rapat dengan Presiden untuk membahas tentang daya kita. Dan daya kita bakal bisa ketahanan daya kita rata-rata di atas 20 hari minimum," katanya.
Pabrik baterai EV terintegrasi
Sebagaimana diketahui, Indonesia saat ini tengah membangun ekosistem pabrik baterai kendaraan listrik (EV) terintegrasi nan diklaim terbesar di Asia. Hal itu didukung dengan besarnya persediaan bahan baku utama komponen baterai, ialah nikel.
Proyek ekosistem baterai terintegrasi hulu-hilir tersebut dioperasikan oleh PT Aneka Tambang (Antam), Indonesia Battery Corporation (IBC), dan perusahaan asal China ialah Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL) nan merupakan perusahaan patungan dari CATL, Brunp dan Lygend.
Adapun, total investasi awal keseluruhan proyek baterai terintegrasi hulu-hilir tersebut mencapai US$ 5,9 miliar alias setara Rp 96,04 triliun (asumsi kurs Rp 16.278 per US$).
Proyek tersebut terdiri dari total enam upaya patungan (Joint Venture/JV) mulai dari proyek hulu hingga hilir. Detailnya, JV satu hingga tiga merupakan ekosistem baterai di sisi hulu. Sedangkan, JV empat hingga enam merupakan ekosistem baterai di sisi hilir.
Hulu:
JV 1: Proyek pertambangan nikel PT Sumberdaya Arindo (SDA) kapabilitas produksi nikel saprolite 7,8 juta wet metric ton (wmt) dan limonite 6 juta wmt, total 13,8 juta wmt dengan porsi kepemilikan saham PT Antam sebesar 51% dan CBL sebesar 49%. Proyek ini sudah mulai berproduksi sejak tahun 2023 lalu.
JV 2: Proyek akomodasi pemurnian dan pemrosesan (smelter nikel) jenis Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) PT Feni Haltim (FHT) kapabilitas 88 ribu ton refined nickel alloy per tahun dengan porsi kepemilikan saham CBL 60% dan PT Antam sebesar 40%. Proyek ini mempunyai sasaran awal berproduksi pada tahun 2027 mendatang.
JV 3: Proyek akomodasi pemurnian dan pemrosesan (smelter nikel) jenis High Pressure Acid Leaching (HPAL) PT Nickel Cobalt Halmahera (HPAL JVCO) kapabilitas 55 ribu ton MHP per tahun dengan porsi kepemilikan saham CBL 70% dan PT Antam sebesar 30%. Proyek ini mempunyai sasaran awal berproduksi pada tahun 2028 mendatang.
Hilir:
JV 4: Proyek material baterai nan bakal memproduksi bahan katoda, kobalt sulfat, dan prekursor terner kapabilitas 30 ribu ton Li-hydroxide berlokasi di Halmahera Timur, Maluku Utara dengan porsi kepemilikan saham CBL 70% dan PT IBC sebesar 30%. Proyek ini mempunyai sasaran awal berproduksi pada tahun 2028 mendatang.
JV 5: Proyek sel baterai PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) berlokasi di Artha Industrial Hill (AIH) & Karawang New Industry City (KNIC). Proyek ini terbagi menjadi fase 1 dengan kapabilitas 6,9 GWh/tahun dan fase 2 kapabilitas 8,1 GWh/tahun, total kapabilitas 15 GWh/tahun. Adapun, porsi kepemilikan saham CBL 70% dan PT IBC sebesar 30%. Proyek ini mempunyai sasaran awal mulai berproduksi pada tahun 2026 untuk fase 1, dan pada tahun 2028 mendatang untuk fase 2.
JV 6: Proyek daur ulang baterai berlokasi di Halmahera Timur, Maluku Utara kapabilitas 20 ribu ton logam/tahun dengan porsi kepemilikan saham CBL 60% dan PT IBC sebesar 40%. Proyek ini mempunyai sasaran awal tahun 2031 mendatang.
(pgr/pgr)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·