Jakarta, CNBC Indonesia - Iran menyatakan bakal mengendalikan Selat Hormuz setelah kemajuan perundingan dengan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri bentrok di Timur Tengah. Di saat nan sama, Washington mulai melonggarkan hukuman terhadap sektor minyak Iran sebagai bagian dari proses negosiasi nan tengah berlangsung.
Ketua parlemen sekaligus negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan Selat Hormuz tidak bakal kembali ke kondisi sebelum perang dan bakal dikelola oleh Republik Islam Iran sesuai norma internasional. Pernyataan itu disampaikan setelah dia kembali dari putaran pembicaraan AS-Iran nan digelar di resor Buergenstock, Swiss.
"Selat Hormuz tidak bakal pernah kembali ke kondisi sebelum perang dan bakal dikelola oleh Republik Islam Iran, sesuai dengan norma internasional," kata Ghalibaf seperti dikutip media pemerintah Iran, IRNA, Selasa (23/6/2026).
Ghalibaf menyebut perundingan tersebut menghasilkan sejumlah kemajuan penting, termasuk pembahasan mengenai Selat Hormuz, situasi di Lebanon, pengecualian ekspor minyak Iran, hingga pencairan biaya Iran nan selama ini dibekukan. Menurutnya, proses diplomasi tetap berada pada tahap awal dan memerlukan tindak lanjut lebih lanjut dari kedua pihak.
Kemajuan negosiasi itu langsung diikuti langkah Washington nan mengeluarkan pengecualian hukuman selama 60 hari bagi sektor daya Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan lisensi unik tersebut mengizinkan produksi, penjualan, pengiriman, hingga impor minyak mentah dan produk petrokimia Iran nan sebelumnya dibatasi oleh sanksi.
Kebijakan tersebut juga memungkinkan penggunaan sistem pembayaran dalam dolar AS untuk transaksi daya nan tercakup dalam lisensi. Selain itu, beragam jasa pendukung seperti asuransi kapal, pengelolaan armada, perekrutan awak kapal, pengisian bahan bakar, hingga perbaikan darurat juga diperbolehkan selama masa pengecualian berlangsung.
Langkah AS ini menjadi terobosan besar setelah bertahun-tahun sektor daya Iran tertekan oleh hukuman nan membatasi akses ke pembeli internasional, jasa pengiriman, hingga sistem finansial global. Iran sendiri mempunyai salah satu persediaan minyak dan gas terbesar di dunia, namun ekspornya selama ini banyak berjuntai pada pembeli di China.
Kesepakatan sementara tersebut merupakan bagian dari nota kesepahaman nan dicapai kedua negara awal bulan ini. Dalam pembicaraan nan dimediasi Qatar dan Pakistan, Washington dan Teheran menyepakati peta jalan selama 60 hari menuju kesepakatan final, termasuk pembentukan komite tingkat tinggi untuk mengawasi proses negosiasi.
Di sisi lain, kedua negara juga sepakat membangun jalur komunikasi unik guna menghindari kejadian di Selat Hormuz dan menjaga keamanan pelayaran komersial. Jalur strategis tersebut sempat ditutup Iran pada awal perang, dibuka kembali setelah tercapai kesepakatan awal dengan AS, lampau kembali ditutup menyusul serangan Israel di Lebanon.
(sef/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·