OTW: Dosa Kecil yang Terlalu Sering Dimaafkan

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Foto: ilustrasi seseorang sedang memegang hp (pexels)

Jujur saja, saya pernah jadi pelaku aktif kejahatan mini berjulukan “OTW” (On The Way).

Kejahatannya sederhana. Tidak merugikan negara, tidak juga masuk buletin utama. Tapi dampaknya cukup terasa setidaknya bagi orang nan menunggu.

Waktu itu, seorang kawan sudah nunggu di sebuah kafe. Harusnya kami ketemu jam 4 sore. Jam 3.55, saya tetap di rumah. Bukan dalam tahap bersiap, melainkan tetap tenggelam dalam tontonan, dengan emosi waktu tetap panjang.

Lalu pesan masuk:

“Udah di mana bro?”

Tanpa banyak mikir, jempol saya langsung merespons lebih sigap dari tubuh saya:

“OTW ya.”

Padahal… ya jelas belum.

Anehnya, setelah kirim pesan itu, saya malah tambah lebih santai. Seolah dengan bilang ‘OTW’, saya sudah bergerak. Padahal kenyataannya, saya tetap di posisi nan sama hanya beda status doang, dari orang nan belum berangkat jadi orang nan ngaku sudah berangkat.

Lima menit kemudian, saya tetap di rumah. Hingga separuh jam, tetap keasikan. Baru setelah itu muncul sedikit panik. Bukan lantaran telat, tapi lantaran sadar ini “OTW” saya sudah mulai basi.

Di situasi itu, saya langsung gerak. Tanpa mandi dan gesek gigi. Cuma semprot parfum, seolah itu cukup.

Aromanya wangi, tapi nasib tetap nekat. nan krusial berangkat dulu, urusan malu belakangan.

Sepanjang jalan, saya malah sibuk merancang beberapa alasan. Macetlah, parkiran penuhlah, alias argumen klasik nan sering digunakan “tadi ada urusan sebentar.” Semua itu terasa lebih mudah daripada mengakui satu perihal sederhana: Saya memang belum berangkat saat bilang “OTW”.

Sampai di kafe, kawan saya hanya bilang, “Lama juga ya OTW-nya.” Saya hanya bisa tersenyum, tapi di dalam hati mulai terasa bersalah dia sudah menunggu nyaris satu jam.

Dengan nada pelan, saya mencoba menjawab, “Tadi ada tamu keluarga.” Seolah itu cukup untuk menjelaskan semuanya.

Dia ketawa. Saya juga ikut ketawa. Tapi di dalam hati, ada rasa mini nan agak nggak enak. Bukan lantaran telatnya, tapi lantaran saya tahu saya baru saja menjual dua huruf murah nan nilainya lebih mahal dari nan saya kira.

Kebohongan mini nan terlalu sering dipakai, lama-lama terasa seperti kebenaran. Dia bisa jadi jebakan. Awalnya dipakai biar aman, tapi lama-lama bikin kita terbiasa nggak jujur meskipun hanya sedikit.

Dan nan paling bahaya, kita jadi kebal dan terbiasa. Nggak merasa itu masalah lagi.

Selain itu, kebiasaan bilang “OTW” padahal belum jalan juga soal ngasih angan ke orang lain. Begitu kita bilang “OTW”, kesannya kita sudah dekat, padahal belum tentu.

Kalau angan itu nggak kejadian, nan muncul bukan hanya telat, tapi juga kecewa mini nan berulang. Kalau terus begitu, lama-lama kepercayaan bisa ikut terkikis bukan lantaran kesalahan besar, tapi lantaran kebiasaan mini nan nggak sesuai terus diulang.

Sekarang, saya tetap kadang telat. Masih manusia. Tapi setidaknya saya berupaya mengurangi satu kebiasaan: bilang “OTW” sebelum betul-betul jalan.

Kadang saya tukar dengan,

“Masih di rumah, 15 menit lagi ya.”

Memang terasa lebih “nanggung”. Nggak se-keren “OTW”. Tapi entah kenapa, rasanya lebih lega. Nggak perlu kejar-kejaran sama ketidakejujuran sendiri di jalan.

Karena ternyata, nan bikin capek itu bukan telatnya. Tapi menjaga cerita agar terlihat tepat waktu.

Dan dari semua pelajaran mini itu, saya akhirnya paham: “OTW” itu bukan sekadar perjalanan.

“OTW” mungkin terdengar sepele. Namun dalam konteks tertentu, dia adalah cermin: tentang seberapa jauh kita bersedia jujur, apalagi ketika tidak ada nan betul-betul menuntutnya.

Kalau dipikir-pikir, mungkin suatu hari kelak bakal ada kamus jenis jujur: OTW = “Orang Tunda Waktu”. Dan jika itu betul terjadi, saya rasa kita semua pernah jadi penulisnya minimal satu dua kali, dengan wajah santuy dan jempol nan terlalu percaya diri.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan