Orangutan Sempurna Mati usai Diduga Terpapar Asap Karhutla di Ketapang

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Orangutan Sempurna Mati usai Diduga Terpapar Asap Karhutla di Ketapang Orangutan jantan dewasa berjulukan Sempurna.(Dok Instagram/@sarawaktribune)

KABAR duka datang dari Kalimantan Barat. Seekor orangutan jantan dewasa berjulukan Sempurna meninggal setelah sebelumnya ditemukan dalam kondisi sangat lemah dan mengalami gangguan pernapasan di Kabupaten Ketapang.

Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat menyatakan Sempurna diduga terdampak paparan asap kebakaran rimba dan lahan (karhutla). Hasil pemeriksaan setelah kematiannya menunjukkan adanya perubahan patologis pada sejumlah organ, terutama paru-paru, jantung, dan ginjal. 

Sempurna ditemukan setelah masyarakat melaporkan keberadaannya pada Minggu, 30 Agustus 2026.

Orangutan tersebut berada di Dusun Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang.

Tim BKSDA Kalimantan Barat berbareng Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) kemudian mendatangi lokasi. Saat ditemukan, Sempurna berada di dalam parit kering di area perkebunan kelapa sawit milik warga.

Kondisinya saat itu dilaporkan sangat lemah. Sempurna tidak bisa berdiri, hanya dapat bergerak secara terbatas, serta mengalami kesulitan bernapas. Tim penyelamat kemudian memberikan pertolongan awal berupa terapi oksigen dan cairan intravena sebelum membawa Sempurna ke pusat rehabilitasi YIARI untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. 

Namun, kondisi orangutan tersebut terus memburuk. Sekitar pukul 14.00 WIB, pernapasannya semakin dangkal dan saturasi oksigennya tidak terdeteksi. Tim medis sempat melakukan resusitasi jantung dan paru alias cardiopulmonary resuscitation (CPR).

Upaya tersebut belum sukses menyelamatkan Sempurna. Orangutan jantan dewasa itu akhirnya dinyatakan meninggal pada pukul 15.20 WIB pada hari nan sama.

Untuk mengetahui kondisi kesehatan serta aspek nan diduga berkontribusi terhadap kematiannya, nekropsi dilakukan pada 1 September 2026. Hasil pemeriksaan menemukan adanya perubahan pada beberapa organ vital.

Pada paru-paru, tim menemukan kondisi kongesti dan atelektasis parsial. Berdasarkan riwayat kondisi klinis dan hasil pemeriksaan tersebut, BKSDA Kalimantan Barat menyebut perubahan patologis pada paru-paru diduga berangkaian dengan paparan asap nan berpotensi mengganggu kegunaan paru-paru dan menyebabkan hipoksia akut alias kekurangan oksigen dalam tubuh.

Kondisi tersebut selanjutnya diduga berkontribusi terhadap gangguan kegunaan kardiovaskular hingga menyebabkan kematian Sempurna. Meski demikian, info resmi menyebut aspek nan berkontribusi terhadap kematiannya didasarkan pada hasil pemeriksaan dan riwayat kondisi satwa tersebut. 

Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane menyampaikan duka atas kematian Sempurna. Ia juga mengapresiasi masyarakat nan telah melaporkan keberadaan orangutan tersebut sehingga petugas dapat segera melakukan penanganan.

“Kami sangat menyayangkan Sempurna tidak dapat diselamatkan. Sejak menerima laporan dari masyarakat, tim BKSDA Kalimantan Barat berbareng YIARI segera melakukan pemindahan dan memberikan penanganan medis sesuai dengan kondisi satwa,” ujar Murlan. 

Kasus Sempurna kembali menjadi perhatian terhadap akibat kebakaran rimba dan lahan bagi satwa liar.

BKSDA Kalimantan Barat mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan kepada petugas andaikan menemukan satwa liar dalam kondisi sakit, terluka, alias terdampak situasi darurat. (Nur Azhizah Yulianis/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia