Orang Tuaku Narsistik? Saat Kasih Sayang Berubah jadi Tuntutan Melelahkan

Sedang Trending 54 menit yang lalu
Ilustrasi refleksi diri mengenai hubungan orang tua dan anak serta pengaruhnya terhadap kesehatan mental. /Pexels

Belakangan ini, istilah narcissistic parent semakin sering muncul di media sosial. Banyak anak mulai membagikan pengalaman mereka tentang orang tua nan terlalu mengontrol, susah meminta maaf, suka membandingkan anak, alias membikin anak merasa bersalah ketika tidak menuruti kemauan mereka. Dari situ, muncul pertanyaan nan mungkin diam-diam juga dirasakan banyak orang: “Jangan-jangan orang tuaku narsistik?”

Tapi dalam psikologi, istilah narsistik sebenarnya tidak sesederhana sekadar egois alias mau menang sendiri. Tidak semua orang tua nan keras, perfeksionis, alias cerewet bisa langsung disebut mempunyai gangguan kepribadian narsistik. Karena itu, krusial untuk memahami perihal ini secara lebih hati-hati, agar kita tidak mudah melakukan self-diagnosis hanya berasas konten media sosial.

Dalam bumi psikologi, Narcissistic Personality Disorder (NPD) dijelaskan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders atau DSM-5 sebagai pola kepribadian nan ditandai dengan kebutuhan akut untuk selalu dikagumi, merasa diri paling penting, dan rendahnya empati terhadap orang lain. Orang nan punya kecenderungan narsistik biasanya sangat memerlukan pengesahan dan susah menerima kritik.

Meski begitu, pemeriksaan gangguan kepribadian tidak bisa dilakukan sembarangan. Dibutuhkan asesmen psikologis nan mendalam oleh profesional. Akan tetapi, beberapa orang tua memang dapat menunjukkan narcissistic traits alias dapat disebut kecenderungan narsistik dalam pola pengasuhannya.

Dalam hubungan orang tua dan anak, kondisi ini disebut sebagai narcissistic parenting. Pada pola pengasuhan seperti ini, anak terkadang diperlakukan bukan sebagai perseorangan nan mempunyai emosi dan kebutuhan sendiri, melainkan sebagai “perpanjangan diri” orang tua.

Ilustrasi hubungan orang tua dan anak dalam pola pengasuhan nan memengaruhi perkembangan psikologis anak./Pexels

Prestasi anak menjadi kebanggaan pribadi orang tua. Nilai bagus dianggap bukti bahwa mereka sukses mendidik. Sebaliknya, kegagalan anak bisa dianggap sebagai kejelekan keluarga. Tidak jarang, anak akhirnya tumbuh dengan kepercayaan bahwa dirinya hanya bakal dihargai ketika berhasil.

Kalimat-kalimat seperti:

“Mama tuh hanya mau nan terbaik buat kamu.”

atau

“Kamu harusnya bisa lebih dari ini.”

mungkin terdengar biasa saja. Bahkan sering dianggap corak perhatian. Namun, pada beberapa kondisi, kalimat seperti itu dapat membikin anak merasa bahwa kasih sayang nan dia terima selalu mempunyai syarat.

Psikolog humanistik Carl Rogers menyebut bahwa setiap perseorangan memerlukan unconditional positive regard, ialah penerimaan tanpa syarat.

Anak perlu merasa dicintai bukan hanya saat berhasil, tetapi juga ketika gagal, bingung, alias sedang tidak baik-baik saja. Ketika penerimaan itu tidak didapatkan, anak bisa tumbuh dengan rasa takut mengecewakan orang lain.

Hal inilah nan sering membikin banyak anak dari pola pengasuhan narsistik menjadi people pleaser. Mereka terbiasa menekan emosi sendiri demi menjaga suasana tetap aman. Mereka takut berbicara “tidak”, takut dianggap mengecewakan, dan sering merasa bersalah ketika memprioritaskan diri sendiri.

Tanpa sadar, anak menjadi sangat berjuntai pada pengesahan eksternal. Mereka merasa berbobot hanya ketika dipuji, berhasil, alias memenuhi ekspektasi orang lain.

Psikolog Heinz Kohut menjelaskan bahwa perseorangan dengan kecenderungan narsistik umumnya mempunyai kebutuhan besar terhadap pengesahan lantaran konsep dirinya sebenarnya rapuh. Dalam konteks pengasuhan, kebutuhan pengesahan itu bisa membikin orang tua menggantungkan nilai dirinya pada anak. Anak akhirnya tidak diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri.

Di kehidupan sehari-hari, pola seperti ini sering kali susah dikenali lantaran terlihat “normal”. Terlebih di budaya Asia, termasuk Indonesia, kontrol orang tua sering dianggap corak kasih sayang.

Akibatnya, ketika anak mulai merasa terluka oleh pola pengasuhan tertentu, mereka justru merasa bersalah lantaran menganggap dirinya durhaka. Padahal, memahami luka masa mini bukan berfaedah membenci orang tua.

Selain memengaruhi hubungan dengan orang tua, pola pengasuhan narsistik juga dapat berakibat pada kondisi psikologis anak ketika dewasa.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak nan tumbuh dalam lingkungan penuh kritik dan pengesahan bersyarat lebih rentan mengalami low self-esteem, kekhawatiran berlebih, hingga kesulitan membangun hubungan nan sehat.

Tidak sedikit juga anak nan akhirnya kesulitan memahami emosinya sendiri lantaran sejak mini terbiasa mendengar respons seperti:

“Kamu terlalu sensitif.”

“Jangan lebay.”

“Masalah mini aja nangis.”

Ilustrasi akibat emosional nan dapat muncul akibat pola pengasuhan nan kurang suportif./Pexels

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai emotional invalidation, ialah ketika emosi seseorang dianggap salah, berlebihan, alias tidak penting. Jika terjadi terus-menerus, anak bisa terbiasa memendam emosi dan merasa bahwa perasaannya tidak layak didengar.

Dari perspektif psikodiagnostik, pola-pola seperti ini krusial untuk dipahami lantaran pengalaman masa mini mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian dan kondisi psikologis seseorang. Namun, krusial juga untuk diingat bahwa memahami karakter perilaku berbeda dengan menegakkan diagnosis.

Media sosial sering kali membikin istilah “narsistik” terdengar sederhana, padahal kepribadian manusia jauh lebih kompleks dari sekadar potongan cerita di internet.

Pada akhirnya, hubungan orang tua dan anak semestinya menjadi tempat paling kondusif untuk bertumbuh. Anak tidak semestinya merasa kudu menjadi sempurna agar layak dicintai.

Karena kasih sayang nan sehat semestinya tidak membikin seseorang terus-menerus merasa kurang.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan