Wisuda selama ini dikenal sebagai seremoni akademis nan menandai tuntasnya jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Momen ini identik dengan pengukuhan gelar atas proses belajar nan telah ditempuh selama bertahun-tahun.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tradisi wisuda mulai banyak diterapkan di jenjang pendidikan lain, mulai dari sekolah dasar, menengah, apalagi TK. Fenomena ini tentu memunculkan beragam polemik di masyarakat.
Sebab, wisuda TK dinilai kurang esensial secara akademis dan berpotensi menambah beban biaya bagi orang tua. Meski begitu, nggak sedikit juga nan menganggap momen ini sebagai corak apresiasi agar anak merasa bangga atas proses belajar nan sudah mereka jalani.
Merespons perihal tersebut, sejumlah kawan kumparanMOM nan mempunyai anak di jenjang Taman Kanak-kanak turut membagikan opininya. Ingin tahu gimana pendapat mereka? Yuk, simak selengkapnya di bawah ini!
Acara Wisuda Anak TK Menurut kawan kumparanMOM
Sejumlah kawan kumparanMOM punya pandangan nan berbeda-beda mengenai tradisi wisuda di jenjang Taman Kanak-Kanak (TK). Respons kurang setuju datang dari Mom Brenda Marini (29).
Menurutnya, prosesi wisuda terasa berlebihan untuk anak usia awal nan belum sepenuhnya memahami makna dari aktivitas tersebut. Ia merasa ada corak kenang-kenangan lain nan jauh lebih berfaedah dan tetap berkesan untuk anak-anak.
“Menurutku jauh lebih baik dananya dialokasikan untuk kitab kenang-kenangan nan berisi semua foto siswa dan aktivitas selama PAUD/TK,” tuturnya.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh Mom Oktaviani Tarigan (34). Baginya, tradisi wisuda TK sudah seperti budaya nan mengakar sejak lama sehingga susah diubah.
Meski kurang setuju dengan adanya aktivitas tersebut, dia tetap memahami jika ada saja pihak wali siswa nggak merasa keberatan. Sebagai orang tua, Mom Oktaviani mengaku berada di posisi nan serba salah.
“Serba salah sebagai orang tua. Kita bersuara untuk tidak mau ada wisuda, tapi hanya kita sendiri. Dari misal 40 siswa nan ada, bikin voting pun kalah suara,” ujarnya.
Sikap penolakan ini bukan semata-mata didasari pendapat pribadi. Oktaviani turut menyinggung imbauan pemerintah mengenai aktivitas wisuda sekolah nan tertuang dalam Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek Nomor 14 Tahun 2023.
Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa sekolah dilarang menjadikan wisuda sebagai aktivitas wajib dan pelaksanaannya juga nggak boleh membebani orang tua.
Sementara itu, pandangan berbeda datang dari Mom Febby (33). Ia mengaku setuju dengan adanya aktivitas wisuda di jenjang TK selama pelaksanaannya nggak memberatkan wali siswa dan merupakan hasil kesepakatan bersama.
Menurutnya, wisuda bisa menjadi momen seru sekaligus kenangan spesial bagi anak sebelum memasuki jenjang sekolah dasar (SD). Selain itu, aktivitas tersebut juga menjadi arena perpisahan dengan guru, siswa, dan para orang tua murid.
Apalagi, Mom Febby memandang anaknya sangat antusias mengikuti aktivitas tersebut. “Anak kembar saya excited banget soalnya untuk aktivitas itu, mamak support aja selama perihal positif,” katanya.
Temukan beragam inspirasi parenting dari ribuan ibu di seluruh Indonesia, gabung organisasi kawan kumparanMOM di kum.pr/mom4
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·