Operasi Modifikasi Cuaca Dilanjutkan untuk Bersihkan Abu Anak Krakatau

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Operasi Modifikasi Cuaca Dilanjutkan untuk Bersihkan Abu Anak Krakatau Petugas memasukkan bahan semai Natrium Klorida (NaCl) ke dalam pesawat Cessna Caravan 208EX. (BMKG) melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan menaburkan bahan semai Natrium Klorida (NaCl)(ANTARAFOTO/Andri Saputra/wsj.)

OPERASI Modifikasi Cuaca (OMC) terus dilakukan untuk mempercepat pembersihan atmosfer dari sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK). Hingga Selasa (8/9), operasi tersebut telah dilakukan sebanyak lima sorti penerbangan dengan penyemaian awan dan penyemprotan watermist.

Operasi tersebut dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berbareng Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Perhubungan, serta sejumlah pihak mengenai sejak 7 September 2026.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan OMC dilakukan dengan dua metode, ialah penyemaian awan hujan dan penyemprotan watermist. Operasi menggunakan dua pesawat Cessna Caravan nan diterbangkan dari Posko Bandara Pondok Cabe dan Halim Perdanakusuma.

"Hingga saat ini, OMC telah melaksanakan lima sorti penerbangan, satu sorti menggunakan bahan semai powder NaCl, satu sorti liquid CaCl2 dan tiga sorti menggunakan spraying alias watermist," kata Tri, Selasa (8/9).

Menurutnya, operasi tersebut bakal terus dilakukan dengan menyesuaikan kondisi atmosfer dan perkembangan sebaran abu vulkanik. Upaya itu diharapkan dapat menurunkan konsentrasi abu di udara sehingga kondisi atmosfer berangsur lebih bersih.

"Operasi bakal terus dilakukan dengan menyesuaikan kondisi atmosfer dan sebaran abu vulkanik, sehingga konsentrasi abu di udara diharapkan terus berkurang dan kondisi atmosfer berangsur lebih bersih," ujarnya.

Upaya pembersihan atmosfer itu dilakukan di tengah aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau nan tetap berlangsung, meski intensitasnya menunjukkan penurunan dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Berdasarkan info terbaru Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), pada pukul 07.49 WIB teramati erupsi baru dengan amplitudo maksimum 48 milimeter dan lama 19 detik. Aktivitas tersebut masuk dalam kategori erupsi strombolian alias erupsi kecil.

BMKG juga terus memantau sebaran abu vulkanik melalui gambaran satelit, info meteorologi penerbangan, serta pengetesan paper test di sejumlah bandar udara.

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan sebaran abu secara umum berada hingga ketinggian 7.000 kaki alias sekitar 2,13 kilometer. Material tersebut bergerak ke arah selatan hingga barat daya dengan kecepatan 5-10 knot.

Sebaran tersebut mencakup sebagian wilayah Banten bagian barat laut hingga Samudra Hindia di barat laut Banten.

"Pantauan cuaca di sekitar GAK dan perairan Selat Sunda condong cerah hingga cerah berawan dari pagi hingga malam hari," kata Andri.

Sementara itu, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan hasil pengetesan paper test hingga pukul 06.00 WIB menunjukkan delapan airport nan sebelumnya ditutup dinyatakan negatif dari paparan abu vulkanik.

"Hasil pengamatan paper test per pukul 06.00 WIB menyatakan bahwa delapan airport nan sebelumnya ditutup operasionalnya dinyatakan negatif dari paparan abu vulkanik. BMKG tetap memantau pergerakan abu secara real-time agar seluruh penerbangan melangkah aman," ujarnya.

Sejumlah airport pun telah kembali beraksi setelah kondisi dinilai aman. Di antaranya Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara, Budiarto Curug, Pondok Cabe, Muhammad Taufik Kiemas, Radin Inten II, dan Salakanagara Tanjung Lesung.

Tak Ada Anomali Air Laut

Selain pemantauan abu vulkanik, BMKG terus mengawasi potensi akibat aktivitas Anak Krakatau terhadap kondisi laut. Plh Deputi Bidang Geofisika BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan pemantauan melalui 20 tsunami gauge serta HF Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung belum menemukan adanya anomali muka air laut.

"Hingga pagi ini (8/9), tidak terdeteksi anomali kenaikan tinggi muka air laut ataupun perubahan pola arus permukaan secara signifikan nan mengindikasikan bakal terjadinya tsunami," kata Ardhasena.

BMKG menilai probabilitas terjadinya tsunami berada pada kategori rendah. Adapun tinggi gelombang di wilayah sekitar Selat Sunda selama 8-13 September 2026 diprakirakan berkisar antara 0,5 hingga 3 meter.

Di tengah operasi pembersihan atmosfer dan pemantauan aktivitas vulkanik tersebut, BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan waspada. Warga di wilayah terdampak sebaran abu vulkanik diminta membatasi aktivitas di luar ruangan serta menggunakan masker dan kacamata pelindung andaikan kudu beraktivitas di luar rumah.  (H-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia