Jakarta, CNBC Indonesia - Pengumuman mengejutkan datang dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump nan kembali menyetujui gelombang serangan udara baru ke Iran. Ini terjadi usai AS menuduh Teheran menembak jatuh helikopter Apache di Selat Hormuz.
Selasa serangan dilakukan ke wilayah selatan Iran menimbulkan enam ledakan. Kamis (11/6/2026), serangan baru juga dilakukan AS dengan dalih "membela diri" dari kesewenang-wenangan serangan Iran.
Namun, di tengah eskalasi militer nan kian sadis dan guncangan ekonomi nan masif, prediksi mengenai runtuhnya rezim Teheran mulai surut dan memudar. Setidaknya ini terlihat dalam data Polymarket.
Mengutip Arab News, ada perubahan drastis terhadap persepsi publik global. Saat serangan campuran AS-Israel pertama kali pecah pada 28 Februari lalu, sebanyak 55% petaruh memprediksi pemerintahan Iran bakal tumbang.
Namun per pekan ini, nomor pesimisme itu ambruk drastis. Di mana 99% petaruh sekarang justru bertaruh bahwa rezim Iran bakal tetap memperkuat kuat melampaui krisis.
Meskipun perang telah melewati hari ke-100 disertai tindakan saling balas rudal dan blokade Selat Hormuz nan mencekik, otoritas Iran terbukti bisa meredam gejolak. Kemampuan memperkuat ini dinilai tidak lepas dari kuatnya cengkeraman lembaga keamanan domestik mereka.
"Tidak diragukan lagi bahwa eskalasi AS dan Israel telah menempatkan ekonomi dan keamanan Iran di bawah tekanan besar, tetapi kita tidak bisa menyatakan ini sebagai ancaman eksistensial bagi kelangsungan hidup rezim," papar Direktur Senior di Soufan Center, Caroline Rose.
Rose menambahkan bahwa sejarah telah membuktikan ketahanan mendalam dari rezim Teheran. Mereka berulang kali lolos dari lubang jarum meskipun dihantam hukuman internasional nan melumpuhkan, krisis air kronis, halangan infrastruktur, hingga gejolak sosial di dalam negeri.
Intelijen AS Terkejut, Militer Iran Pulih Sangat Cepat
Kondisi ketahanan Iran di lapangan juga diperkuat oleh laporan intelijen Amerika Serikat nan bocor ke media The New York Times dan Washington Post. Data internal Pentagon tersebut mengungkapkan kebenaran nan mengejutkan sekaligus kontradiktif dengan klaim retorika Trump nan menyebut militer Iran telah hancur total.
Hingga pertengahan Mei, intelijen AS mendeteksi bahwa Iran secara luar biasa telah sukses memperbaiki 30 dari 33 situs rudal mereka nan menghadap langsung ke Selat Hormuz. Selain itu, Negeri Para Mullah tersebut dilaporkan tetap menguasai sekitar 70% peluncur rudal bergerak (mobile launchers) di seluruh negeri dan mempertahankan nyaris 70% dari total pasokan rudal pra-perang mereka.
"Bacaan saya terhadap situasi saat ini adalah bahwa Iran berada dalam posisi nan jauh lebih kuat daripada AS, dan saya pikir itu sangat jelas dari perilaku mereka," ungkap Andrew Gawthorpe, pengajar sejarah dan hubungan internasional di Leiden University.
Gawthorpe menilai Iran jauh lebih berani mengambil akibat tinggi untuk melakukan eskalasi militer demi menekan Washington. Di sisi lain, posisi domestik Trump dinilai kian susah menjelang pemilu paruh waktu (midterm elections) akibat hantaman inflasi dan lonjakan nilai minyak mentah dunia, sehingga membikin Trump condong terburu-buru mau menyelesaikan konflik.
Tiga Skenario Akhir Perang: Bukan Lagi Soal Bertahan Hidup
Direktur Program MENA di Chatham House, Sanam Vakil menegaskan bahwa konsentrasi utama elite politik di Teheran saat ini sudah bergeser. Pertanyaannya bukan lagi mampukah mereka memperkuat hidup, melainkan gimana menerjemahkan ketahanan militer ini menjadi sebuah untung di meja perundingan dengan AS.
Menurut kajian Vakil, akhir dari konfrontasi besar ini kemungkinan bakal mengerucut pada salah satu dari tiga skenario utama. Skenario pertama adalah penandatanganan nota kesepahaman (MOU) awal nan lays the groundwork alias meletakkan dasar bagi proses negosiasi jangka panjang nan lebih komprehensif mengenai peran regional Iran dan program nuklirnya.
Skenario kedua adalah tercapainya MOU awal namun negosiasi lanjutan tersebut tidak pernah diselesaikan. Sehingga, membikin area terjebak dalam proses tanpa ujung nan mirip dengan situasi di Gaza.
"Hasil ketiga adalah kita hanya memperkuat di tempat kita berada sekarang-tidak ada perang, tidak ada perdamaian, dan situasi ini terus melangkah begitu saja," jelas Sanam Vakil dalam pemaparannya mengenai opsi skenario terakhir nan berpotensi terjadi di Timur Tengah.
Mantan Duta Besar Inggris untuk Arab Saudi, Sir John Jenkins mengingatkan bahwa meski Iran berada di atas angin dalam jangka pendek, modal politik mereka lewat penutupan Selat Hormuz mempunyai pemisah waktu.
"Dalam jangka panjang, negara-negara Arab di Teluk (GCC) diproyeksikan bakal membangun prasarana ekspor pengganti demi menghindari Selat Hormuz, nan pada akhirnya dapat mengisolasi ekonomi Iran lebih jauh dari rantai pasok global," tuturnya.
(tps/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·