Nilai Tukar Rupiah Terpuruk, Begini Efeknya ke Harga Sapi Perah Impor

Sedang Trending 23 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai dirasakan pada sektor peternakan, terutama dalam pengadaan sapi perah impor. Kementerian Pertanian (Kementan) mengakui nilai sapi perah nan didatangkan dari luar negeri mengalami kenaikan seiring menguatnya dolar AS.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Makmun mengatakan, akibat pelemahan rupiah paling terasa pada upaya pemerintah dan pelaku upaya nan tengah berupaya menambah populasi sapi perah nasional untuk memenuhi kebutuhan susu dalam negeri.

"Terkait dengan kenaikan nilai dolar ya. Karena kita semangatnya mau menambah populasi. Memang sekarang ada kenaikan nilai sapi perah. Umumnya kita ngambilnya dari Australia. Walaupun negara seperti New Zealand juga beberapa negara nan lain, kita tidak ada masalah," kata Makmun dalam konvensi pers Hari Susu Nusantara di instansi Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Menurutnya, Australia tetap menjadi sumber utama impor sapi perah lantaran aspek kedekatan geografis dan kemudahan logistik. Namun, kenaikan kurs dolar membikin nilai sapi nan diimpor ikut terdongkrak.

"(Australia) lantaran mungkin posisinya dekat. Dan dengan kenaikan dolar, ada pengaruh kenaikan dari nilai sapinya," sebut dia.

Meski demikian, Makmun menegaskan lonjakan nilai sapi perah impor tetap dalam pemisah nan relatif terkendali dan belum mengubah arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat populasi sapi perah nasional.

"Terkait dengan kenaikan ini alias perkembangan rupiah terhadap dolar. Namun tahun kemarin rata-rata teman-teman mengimpor nilai sekitar Rp45 juta per ekornya sapi perah bunting. Tahun ini tidak sampai Rp50 juta per ekor. Ada kenaikan, tapi tidak sampai ke Rp50 juta (per ekor). Ada di bawah juga, ada kenaikan. Tidak terlalu jauh juga sih dari kondisi nan ada," jelasnya.

Seorang pekerja memerah sapi di peternakan sapi di area mampang Jakarta, Kamis (14/11/2024). (CNBC Indonesia/Muhamad Sabki)Seorang pekerja memerah sapi di peternakan sapi di area mampang Jakarta, Kamis (14/11/2024). (CNBC Indonesia/Muhamad Sabki) Foto: Seorang pekerja memerah sapi di peternakan sapi di area mampang Jakarta, Kamis (14/11/2024). (CNBC Indonesia/Muhamad Sabki)

Selain berakibat pada impor ternak, pelemahan rupiah juga memberi tekanan terhadap industri pengolahan susu nasional nan tetap sangat berjuntai pada bahan baku impor.

General Manager R&D Health and Wellness Divisi Dairy PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, Tjatur Lestijaman mengungkapkan, sekitar 80% kebutuhan bahan baku susu nasional tetap berasal dari impor sehingga perubahan kurs tidak bisa dihindari.

"Kurang lebih lantaran Karena 80%. Dari kebutuhan susunya tetap impor, dan harganya juga terpaut dengan dolar. Sedikit banyak memang ada pengaruh terhadap biaya bahan baku Indomilk dalam perihal ini," kata Tjatur dalam kesempatan nan sama.

Meski biaya bahan baku meningkat, perusahaan berupaya agar kenaikan tersebut tidak sepenuhnya dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan nilai produk.

"Tetapi kami berkomitmen bahwa itu kita tidak bakal persen diteruskan langsung 100% kepada konsumen. Jadi kita tetap memandang bahwa masyarakat perlu ada daya beli nan tetap bisa, tetap terjangkau oleh masyarakat," ujarnya.

Untuk menekan akibat pelemahan rupiah, perusahaan menjalankan beragam program efisiensi di akomodasi produksinya.

"Dengan kondisi seperti itu, kami melakukan program-program efisiensi di pabrik-pabrik kami. Sehingga biayanya juga bisa ditekan. Pengaruh dari inflasi dolar ini tidak 100 persen kita teruskan ke konsumen," tutur dia.

Menurut Tjatur, kombinasi penyerapan susu lokal dan efisiensi operasional membikin akibat kenaikan biaya produksi tetap dapat ditekan.

"Kenaikan biaya produksi nan dipengaruhi oleh pelemahan dari rupiah terhadap dolar memang ada ya pengaruhnya. Tapi lantaran kita tetap ada penyerapan susu lokal juga. Secara total produksi tadi sampaikan 20% tetap ada lokal. Kemudian ada efisiensi program-program di pabrik kami. Sehingga dampaknya itu kita bisa tidak lebih sampai 10%," ungkapnya.

Ia berambisi peningkatan produksi susu dalam negeri dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor sehingga gejolak eksternal seperti penguatan dolar tidak lagi menjadi beban besar bagi industri.

"Semoga dengan usaha-usaha dan kerja sama. Kita supply chain jadi bisa lebih efisien ke depannya. Ketersediaan susu dalam negeri bisa meningkat, sehingga pengaruh-pengaruh eksternal seperti dolar ini tidak membebani kita," ujar dia.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Widiastuti menegaskan pelemahan rupiah memang memberikan akibat terhadap sektor susu nasional nan tetap berjuntai pada impor.

"Ada pengaruh? Jelas. Mesti ada. Karena di sini terlihat memang susu ini banyak pemanfaatannya nan kudu kita tingkatkan untuk ketahanan pangan, untuk gizi dan lainnya," kata Widiastuti.

Untuk mengurangi akibat perubahan kurs, pemerintah tengah menyiapkan beragam langkah mulai dari menjaga pasokan impor, perjanjian pembelian jangka panjang, diversifikasi negara pemasok, hingga efisiensi rantai pasok.

Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan produksi susu domestik melalui support pembiayaan murah bagi peternak, penguatan kemitraan, hingga pengembangan sentra sapi perah.

"Kita sih berambisi adanya juga dukungan. Dari pembiayaan nan bisa, di mana ada angsuran nan mempunyai kembang rendah untuk sisi peternak. Sehingga peternak itu semakin termotif dan untuk melakukan produksi lebih bagus lagi," ujarnya.

Menurutnya, peningkatan produktivitas peternak lokal menjadi langkah penting, agar ketergantungan Indonesia terhadap impor susu nan saat ini tetap mencapai sekitar 80% dapat terus ditekan dalam jangka menengah dan panjang.

(wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News